Oleh: Oom Rohmawati 
(Member Akademis Menulis Kreatif) 


Sebagian manusia kadang bersikap bagaikan belalang hendak menjadi elang. Bodoh tetapi sombong, sok tahu dengan angkuh dan sombongnya merasa lebih tahu hakikat yang baik dan yang buruk bagi mereka, bahkan merasa lebih tahu dari Allah SWT. Padahal yang lebih tahu baik buruknya kehidupan seseorang hanyalah Allah SWT. Sebaliknya penilaian sering salah. Ketika seseorang diterpa suatu masalah yang menyakitkan, sering menyikapi dengan berburuk sangka, bahkan ada yang sampai berputus asa. Padahal sebagai seorang muslim yang beriman tentunya kita harus senantiasa berhusnudzhan kepada Allah, karena kita tidak tahu terkadang di balik musibah itu ada kebaikan yang lebih untuk diri kita.

Tak jarang orang di timpa musibah  bersyukur setelah semuanya berlalu, apalagi seorang mukmin yang memiliki ketakwaan hakiki, dikatakan sebagai orang yang beruntung, ketika diuji dengan kesulitan dia bersabar dan bersyukur ketika diberi kebaikan, sehingga tidak ada kerugian baginya. Karena manusia makhluk yang lemah bodoh dan tidak tahu apa-apa. Allah Swt berfirman:

"Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu amat baik bagi kalian. Boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui." (TQS Al-Baqarah [2]: 216).

Yang mesti kita perhatikan, sudahkah kita menyambut seruan-Nya? Melaksanakan syariah-Nya? Karena itu yang harus kita lakukan di dunia ini, mentaati perintah dan menjauhi Larangan-Nya. Maka kebaikan akan kita rasakan sebagai hamba-Nya. 

Ghirah Umat Islam 
Alhamdulillah akhir-akhir ini kesadaran akan pentingnya menerapkan syariah dalam kehidupan mulai dirasakan, ghirahnya umat meningkat. Namun sayang di tengah meningkatnya semangat umat tentang agama (Islam), muncul gagasan agar pelajaran agama dihilangkan dari mata pelajaran di sekolah. Agama cukup diajarkan di rumah oleh orang tuanya atau guru agama di luar sekolah. Dengan alasan yang dicari-cari, menurut sang penggagas, jika agama dijadikan identitas maka akan menguatkan radikalisme, sementara radikalisme itu menjadi biang kehancuran negeri.

Gagasan itu bukan  pertama kalinya di lontarkan, subtansi gagasan itu adalah sekularisme dan sekularisasi pendidikan. Khususnya seruan itu juga mengajak agar agama tidak diikutkan dalam kehidupan publik, termasuk harus disingkirkan dari kehidupan politik. Ini jelas bertolak belakang dengan Islam, karena Allah SWT memerintahkan manusia untuk menerapkan agama (Islam) secara keseluruhan (kaffah) seperti yang difirmankan-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian." (TQS Al-Baqarah [2]:208)

Kalau ini diikuti berarti kita mengikuti langkah-langkah setan. Dan sangat disayangkan seruan itu keluar dari orang Islam, sangat aneh, apalagi kalau sampai didukung seorang muslim.

Mereka berusaha memadamkan ghirah umat muslim. Maka tidak aneh bila gagasan ini dinilai sebagai ekspresi islamophobia. 

Belakangan ini islam disudutkan dengan berbagai tuduhan keji, dianggap sebagai pemecah belah persatuan, pemicu radikalisme, teroris dan lain-lain. Sebagai agama mayoritas dan bertahun-tahun lamanya, baru akhir-akhir ini dimunculkan isu-isu seperti itu. Padahal radikalisme bukanlah permasalahan intern dalam Islam, akan tetapi merupakan framing dari luar untuk menyudutkan Islam dan umatnya. Karena melihat geliat umat Islam yang mulai bangkit. Dan bagi musuh Islam, ketika umat bangkit jelas akan menghalangi kelicikan para liberalisme dan penjajah Barat. Ini sama persis ketika zaman penjajahan Belanda, untuk menyudutkan semangat para pejuang kemerdekaan mereka dilabeli radikalisme. Sekarang pun sama, isu radikalisme di munculkan oleh Barat karena melihat umat mulai bangkit dan menolak ideologi kapitalisme dan liberalisme, lalu disuntikkan pada kaum Muslimin dengan berbagai macam cara agar orang-orang yang menolak ideologi mereka dimusuhi dan ditakuti. Hal tersebut dilakukan dengan cara menyebarkan isu-isu radikalisme. Sehingga Islam dianggap penyebab perpecahan dan persoalan. Padahal itu tuduhan yang tanpa bukti, justru biang semua permasalahan karena sistem demokrasi buatan manusia yang menyebabkan kericuhan dan kerusakan, kecurangan, kerusuhan. Persoalan korupsi, koruptor, apakah karena Islam? Bukankah Islam mengajarkan hal-hal yang baik? Kejujuran, amanah, rukun, berkasih sayang dan lainnya.

Bibit masalahnya justru karena Islam tidak diterapkan di dalam seluruh aspek kehidupan. Artinya berbagai kerusakan yang terjadi bukan karena Islam tapi akibat mereka berpaling dari Islam. Ketika berpaling dari ajaran Islam maka akan nampak berbagai kerusakan di darat dan lautan (lihat QS ar-Rum [30]:41). 

Jadi jelas gagasan menghapuskan ajaran agama (Islam) di sekolah suatu hal yang sangat membahayakan, karena akan semakin memperparah problematika kehidupan. Ada pelajaran agama saja masih marak rusaknya moral para pelajar seperti tawuran, pergaulan bebas, hamil di luar nikah dan lain-lain, apalagi dihilangkan. Semestinya ditambah bukan dihilangkan. Karena dengan kembali pada Islamlah yaitu menerapkan syariah-Nya secara keseluruhan (kaffah). Sesungguhnya ini menjadi tanggung jawab seluruh kaum Muslimin yang harus segera diwujudkan dan diperjuangkan bersama.

Wallahu a'lam bi ash-shawab
 
Top