Oleh : Ai Hamzah

Tanggal 23 Juli dicanangkan sebagai hari anak Nasional. Diperingati dengan seremonial dan sukacita. Ucapan selamat hari anakpun tampak berseliweran dimedia sosial. Begitulah hari anak ini diperingati dari tahun ke tahun.

Dengan adanya hari anak ini tampak sepertinya pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak. Tetapi apa yang terjadi sebenarnya potret anak-anak di negeri ini. 

Sebut aja anak ini Fulan usia SD, dia terkurung di jeruji besi akibat bapaknya yang dibunuh oleh preman, dan Fulan dengan rasa amarahnya balik membunuh preman itu. Entah kenapa aparat kalah cepat menangkap preman itu ketika membunuh bapaknya, dibanding Fulan yang membunuh preman itu. Sayang padahal Fulan ini termasuk anak yang pandai di sekolahnya.

Ada lagi seorang anak sekolah dasar, dengan memakai baju seragam putih merahnya keliling menjajakan dagangan basonya seusai sekolah. Demi mengecam pendidikan anak ini rela menyambi berdagang setelah pulang sekolah.

Lain lagi dengan anak-anak yang mengalami pedofilia, dalam hal ini kasus demi kasus terungkap sudah. Alhasil berdasarkan riset negeri ini menjadi jawara dalam kasus ini.

Belum lagi kasus pornoaksi, sejumlah anak-anak rela mengeluarkan uang jajannya hanya untuk menonton pasangan pasutri yang sedang melakukan hubungan seksual.

Atau bahkan sejumlah anak-anak putih abu-abu iseng menghampiri tempat prostitusi dan itu mereka lakukan tanpa muka yang bersalah.

Tawuran, narkoba, zina, miras, menjadi potret anak-anak masa kini. Tidak hanya usia sekolah menengah bahkan usia sekolah dasarpun mereka melakukannya. Entah mau jadi apa negeri ini 10-20 tahun mendatang, padahal kepimpinan negera ini kelak berada dipundaknya.

Lihatlah pemuda Islam pada saat usia anak dan remaja mereka disibukan dengan melakukan kebaikan. Menuntut ilmu, menghafal dan mengkaji Al Quran serta hadist, melakukan riset-riset, sehingga mereka disibukan dengan ketaatan kepada Allah.

Maka lahirlah Muhammad Al Fatih yang begitu fenomenal membebaskan Konstatinopel. Sholahudin Al Ayubi macan perang salib, Imam Syafi'i yang melahirkan Madzhab Syafii, Kholid bin Walid si pedang Allah. 

Ternyata Hari Anak Nasional tidak membuatmu menjadi generasi yang baik dari tahun ke tahun, hanya sebatas peringatan dan selesai sampai disitu. 
Hari Anak Nasional tetap tidak merubah keadaanmu menjadi generasi yang tangguh dalam segala hal.
Hari Anak Nasional, Anakku Sayang Anakku Malang.
 
Top