Oleh: Dede Yulianti, A.Md 
(Muslimah Peduli Umat)

Ramadan menjelang, gempita suka cita umat menyambut bulan suci yang dinanti. Namun duka terselip di tengah persiapan ibadah puasa. Kenaikan harga sembako seolah tradisi yang sulit dihindari. Pemilu serentak yang memakan korban hingga 400an jiwa anggota KPPS melayang. Sungguh menyisakan luka mendalam. Apalagi aroma kecurangan secara brutal mewarnai penghitungan suara. Terungkapnya skandal bisnis besar eksploitasi batubara yang mengorbankan kepentingan masyarakat melalui film dokumenter "Sexy Killer."

Belum lagi di sektor budaya, diputarnya film berlatar penyimpangan orientasi seksual, yang juga menjadikan anak di bawah umur sebagai pemeran dengan adegan tak pantas. Tak heran umat pun panas dan menggugat dihentikan pemutarannya. Seolah masih kurang perihnya hati umat, dunia hiburan kembali menggoncang perasaan umat. Masih di kalangan pekerja seni, seorang pelawak tenar menghina Nabi Muhammad Saw. Meski setelah viral kemarahan umat, yang bersangkutan akhirnya meminta maaf. 

Kejadian demi kejadian yang melukai hati umat dan melanggar syariat Islam kerap terjadi di negeri mayoritas muslim terbesar di dunia ini. Bukan yang pertama, juga tak akan menjadi yang terakhir. Semua berakar dari sekularisme yang kokoh menancap di bumi Pertiwi. Agama hanya sebatas ajaran ritual yang mengatur urusan pribadi. Sementara dalam perkara publik Islam tak diizinkan turut mengatur urusan umat. Islam tak boleh menyentuh urusan ekonomi, politik dan budaya. 

Alhasil tayangan demi tayangan tak bermoral terus berproduksi. Lawakan demi lawakan yang menghina ajaran agama tak ada kapoknya. Pengurusan kepentingan umat diabaikan. Padahal sejatinya bukan tak mungkin harga-harga sembako tetap stabil meski menjelang bulan Ramadan. Kekayaan alam dikuasai korporasi, yang seharusnya dimiliki umat. Bahkan untuk memilih calon pemimpin saja, rakyat harus berkorban nyawa. Sungguh mengenaskan.

Sudah saatnya kita bermuhasabah, berintrospeksi diri. Berbagai masalah yang mendera bangsa ini tak kunjung usai. Selama demokrasi menjadi dasar aturan kehidupan. Kebebasan berpemilikan, kebebasan berekspresi, kebebasan bertingkahlaku, yang menjadi prinsip dasarnya. Sesungguhnya kebebasan inilah yang menjadikan kekayaan negeri ini dirampok, korupsi menggurita di kalangan pejabat, serta rusaknya moral anak bangsa. 

Semoga di bulan penuh ampunan dan keberkahan ini, kita segera menginsyafi kekhilafan karena telah mengabaikan syariat Islam. Sembari memperbaiki kondisi bangsa dengan berjuang menegakkan syariat Allah SWT. Sebab hanya aturan Allah saja yang sanggup menghentikan kerusakan di tengah bangsa ini. Yang dengannya keterpurukan berganti menjadi keberkahan baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu'alam.
 
Top