Oleh: Dian Puspita Sari
Ibu Rumah Tangga, Member Akademi Menulis Kreatif

Pasca keruntuhan daulah khilafah Islam terakhir, Turki Utsmani pada 3 Maret 1924 hingga Palestina mulai resmi terjajah oleh zionis israel pada 1947-detik ini, derita datang silih berganti menimpa kaum muslimin di Palestina. Tak terkecuali derita muslim di Gaza yang terus berlangsung di depan mata, tanpa ada satu penguasa muslim di negeri manapun yang mau menolongnya. Mereka abai karena sudah terbelenggu ikatan egois nasionalisme dan perjanjian rahasia dengan penjajah dan pendukungnya. 

Di tahun ini, bulan Ramadan 1440 disambut warga Gaza dengan antusias. “Ramadan merupakan bulan yang suci, juga bahagia bagi semua orang di Gaza,” ujar Hasan, seorang warga Gaza, dikutip dari situs resmi Aksi Cepat Tanggap, Sabtu (11/5).
Namun suka cita warga Gaza menyambut bulan Ramadan tiba-tiba berubah menjadi duka cita. 

Seperti dilansir oleh Republika Online (Sabtu, 11/5/2019), serangan Israel diluncurkan tepat beberapa hari sebelum bulan suci tiba. Pada hari Sabtu (4/5), Israel meluncurkan serangan udara ke Gaza dan menimbulkan banyak korban. 
Sebanyak 300 apartemen dilaporkan hancur. Selain itu, tercatat 28 orang meninggal dunia, dan kurang lebih 200 orang mengalami cedera.

Duniapun diam membisu. Mulai dari organ tubuh vitalnya seperti PBB, OKI, OPEC, dan para pemimpin dunia Islam. Tak ada upaya untuk menghentikan invasi zionis ke Gaza. 
Akankah dunia selamanya diam membisu?

Gaza adalah bagian dari negeri Palestina yang kini terlupakan.

Palestina adalah tanah yang penuh keberkahan. Dimulai dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang melakukan hijrah kesana, disusul kemudian banyak nabi dan rasul yang diutus oleh Allah subhanahu wata'ala di tanah tersebut.

Tanah Palestina semakin mulia karena Rasullah shallallahu 'alaihi wassalam bertolak melakukan perjalanan mi'raj dari al-aqsha.

Palestina adalah negeri yang diberkahi, dijanjikan Allah sebagai tempat kejayaan kaum muslimin kelak.
Khalifah Umar bin Khattab r.a mewariskan Palestina untuk kita jaga, dan sultan Abdul Hamid II rahimahullah dari kekhilafahan Turki Utsmani, mencontohkan kepada kita bagaimana sikap seorang pemimpin muslim sejati dalam mempertahankan tanah Palestina.

Di masa kepemimpinan sultan  Abdul Hamid II,  upaya kaum zionis yahudi yang dimotori oleh Theodore Hertzl untuk mengutak atik Palestina demi memperoleh sepetak tanah di kawasan Palestina terus dilakukan tanpa henti. Sejak muktamar terakhir mereka di Basel, Swiss, berbagai tipu muslihat, makar, dan konspirasi keji dilakukan untuk merebut kembali apa yang mereka sebut sebagai ‘tanah yang dijanjikan’, tanah mencakup kawasan Baitul Maqdis dan sekitarnya (termasuk tanah Palestina).

Tidak cukup dengan tekanan politik melalui konsulat Inggris dan Perancis yang ada di Istanbul, melalui Hertzl, kaum zionis membujuk Sultan Abdul Hamid, seraya menawarkan imbalan kekayaan yang amat besar, agar Sultan memberikan izin bagi warga Yahudi memasuki wilayah Palestina.

Namun usaha mereka selama bertahun-tahun tidak membuahkan hasil. 
Baru setelah Sultan Abdul Hamid disingkirkan dari kursi Kekhalifahan dan Daulah Islamiyah berhasil dirobohkan (tahun 1924 M), kaum zionis Yahudi berhasil mencapai ambisinya dengan merampas dan mencaplok tanah-tanah milik kaum Muslimin di kawasan Palestina hingga negara Israel berdiri di atas tanah jarahan (tahun 1947-1948 M).

Ketegasan sikap Sultan Abdul Hamid dalam mempertahankan tanah Palestina dan kesatuan negeri-negeri Islam lainnya tampak tatkala menerima tiga orang utusan zionis pada tahun 1901 M. Mereka menawarkan paket bantuan berupa : (1) penghapusan utang Daulah Utsmaniyah; (2) bantuan untuk membangun armada angkatan laut untuk menjaga Daulah (3) pinjaman sebesar 35 lira emas tanpa bunga. Paket bantuan itu ingin ditukar (dikompensasikan) dengan : (1) izin bagi orang-orang yahudi untuk memasuk Palestina kapan saja untuk berziarah; (2) izin bagi orang-orang yahudi mendirikan bangunan sekitar Al-Quds untuk keperluan ziarah.

Mendengar tawaran dari ketiga orang utusan Yahudi tersebut. Sultan Abdul Hamid kemudian berkata melalui penerjemahnya, Tahsin Pasya,
“Katakan kepada mereka, orang-orang Yahudi yang tidak punya malu itu : 

(1). Sesungguhnya utang Daulah bukanlah aib, karena negara-negara lain seperti Perancis pun punya utang yang tidak sampai membahayakannya. 

(2). Sesungguhnya Baitul Maqdis yang dimuliakan telah ditaklukkan bagi Islam pertama kali oleh Umar bin Khattab ra, aku tidak ingin namaku tercatat dalam sejarah sebagai orang pertama yang menjual tanah Al-Maqdis bagi kaum Yahudi. Jika itu terjadi, berarti aku telah mengkhianati amanat yang telah dibebankan kepadaku oleh kaum muslimin untuk menjaganya.

(3). Ambil dan pegang saja uang mereka itu. Negara besar yang mulia tidak mungkin membangun benteng-benteng pertahanannya dari harta musuh-musuh Islam. Kemudian, beritahu mereka supaya segera keluar, dan setelah ini, jangan sekali-kali mereka mencoba menjumpaiku atau memasuki tempat ini! ".

Betapa khilafah dan khalifahnya menjadi junnah (perisai) bagi umatnya. Termasuk Palestina dan negeri-negeri lainnya. 
Kini perisai itu hilang. Tergantikan oleh tangan-tangan berlumuran darah para penjajah negeri-negeri kaum muslimin di dunia. 
Berharap solusi pada PBB dan para penguasa dunia sangat mustahil. Karena  kekuasaan mereka hanya dijadikan  alat oleh negara-negara imperialis kuffar untuk melanggengkan imperialisme mereka di negeri-negeri Islam, termasuk Palestina. 

Hanya kepada Allah saja kita bisa berharap solusi tuntas, untuk mengembalikan kebahagiaan kaum muslim di Palestina menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa. Maka tak ada solusi lain bagi Palestina termasuk Gaza untuk terbebas dari belenggu penjajahan zionis Israel kecuali menanti pertolongan Allah dibawah naungan khilafah Islam, yang bermanhanjkan kenabian. 

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
 وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Wallaahu a'lam bisshawwab..

0 komentar:

 
Top