Penulis : Rani

Tahun 2019 ini merupakan tahun dimana pesta demokrasi dilakukan dan perayaannya pun dilakukan per 5 tahun sekali, tak khayal banyak dari golongan dan orang tertentu dan bahkan ulama sekalipun ikut berkecimpung didunia perpolitikkan sehingga agama diseret jadi alat politik, dan saling ingin berebut dan bersikut dalam kursi panas demokrasi, sehingga menjadi hidangan yang sangat lezat untuk diperbincangkan oleh seluruh kalangan masyarakat mengenai tokoh agama dan ulama yang dengan gamblang ikut berkecimpung dalam dinamika perpolitikan.

Tak bisa dipungkiri bahwa, menjual simbol-simbol agama dianggap cara yang paling mudah dan cepat dalam meraup suara rakyat. Dan bisa dipastikan dalam kampanye partai politik, semuanya menjual simbol agama untuk meraih simpati publik. 

Tapi sayang Ulama saat ini sudah terbawa oleh Arus Demokrasi Kapitalis yang sudah dibeli dengan iming-iming kekuasaan. Tak sedikit ulama yang seolah sangat nafsu terhadap jabatan dan kekuasaan duniawi. Ironisnya untuk meraih itu semua ada yang rela menjual aqidah dan agamanya.

Hari ini bahkan ada para ulama yang perilakunya sama saja dengan penguasa, mereka saling mendekat demi kepentingan duniawi. Ulama mendekati penguasa untuk mendapatkan harta dan jabatan dan penguasa mendekati ulama demi mendapat dukungan demi meraih dan mempertahankan kekuasaannya.

Padahal sejatinya ulama ialah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Secara harfiyah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah orang Muslim yang menguasai ilmu agama Islam, muslim yang memahami syariat Islam secara menyeluruh (kaaffah) sebagaimana terangkum dalam Al-Quran dan as-Sunnah dan menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.
 Sehingga Agama Islam terjaga tidak ikut dalam ranah Demokrasi yang kufur, sehingga yang haq dan bathil tidak tercampur baur.

sulit terjadi jika aturan yang ada masih berkiblat pada sistem kapitalisme. Karena aturan yang ada hanya menguntungkan segelintir orang tertentu. Oleh karena itu, hanya dengan kembali pada aturan yang maha baik, yakni Allah swt, maka rahmatan lil ‘alamin akan dirasakan oleh semua umat manusia. Hal itu tidak lain dengan diterapkan aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. 

Wallâhu a’lam bi ash-shawab.

0 komentar:

 
Top