Penulis : Sofia Ariyani, S.S 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Sepanjang tahun 2018 bencana alam datang silih berganti menimpa negeri. BNPB mencatat ada 2.426 bencana, bahkan hingga awal tahun ini sejumlah bencana melanda beberapa kabupaten di Indonesia.
Dari TEMPO.CO, Jakarta melansir, Badan Penanggulangan Bencana Nasional merilis hasil evaluasi bencana selama tahun 2018. BNPB mencatat ada 2.426 bencana terjadi sepanjang tahun 2018 dengan korban jiwa mencapai 4.231 orang meninggal dan hilang.
"Tren bencana tahun ini meningkat, pada tahun ini terjadi 2.426 bencana," kata Kepala BNPB Willem Rampangilei saat menyampaikan laporan Evaluasi Bencana 2018 di kantornya pada Rabu, 19 Desember 2018.

Tingginya angka bencana alam disebabkan Indonesia berada di kawasan ring of fire, yaitu kawasan yang dikelilingi gunung berapi, atau kawasan rawan bencana. Sayangnya masyarakat juga pemerintah belum sepenuhnya menyadari hal ini. Akibatnya kurang memperhatikan mitigasi bencana, mulai dari penyuluhan-penyuluhan, hingga masalah teknis terkait teknologi detektor bencana alam.

Mitigasi menurut UU Nomor 24 Tahun 2007, mengatakan bahwa pengertian mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Kondisi di negeri ini kian tahun kian memprihatinkan. Bencana alam yang menimpa negeri datang bertubi-tubi tidak hanya di daratan, di lautan namun juga di udara tersebab bukan hanya karena fenomena alam namun ulah manusia yang mengundang kemurkaan Allah SWT.
Dalam Firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ar-Rûm/30:41]

Tidak adanya ketundukan manusia terhadap perintah Sang Maha Pencipta menyebabkan manusia berbuat sekehendak hati. Maka tak heran kemaksiatan massal terjadi. Kerusakan demi kerusakan bukan hanya menimpa manusia alam pun ditimpanya. Inilah bencana multidimensi tidak hanya terdapat di dalam individu namun juga di masyarakat dan penguasa. Ini terlihat bagaimana maraknya kriminalitas di kalangan masyarakat. Seorang ayah mencabuli anaknya, seorang anak membunuh orang tuanya, seorang murid membunuh gurunya atau gurunya yang membunuh, mencabuli muridnya, pelajar kini berkawan dengan tawuran, berzina hal yang lumrah, perilaku-perilaku menyimpang kian berani tampil, korupsi sudah menjadi tradisi, sumber daya alam dikeruk habis-habisan, dan terang-terangan menolak aturan Alquran. Sebagian ulama malah terbawa arus rezim diktator, mereka adalah ulama su’ (buruk). Sedangkan sebagian lagi mereka (ulama yang lurus) yang menginginkan Alquran diterapkan malah dipersekusi. Pengabaian dan penolakan aturan Allah-lah pelaku utama pengundang bencana.
Sebagaimana dahulu Rasulullah Saw telah mengabarkan, Dari Abu Hurairah ra berkata; bersabda Rasulullah saw "Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”(HR. Tirmidzi)


Andai penguasa negeri ini mau tunduk terhadap aturan Sang Pencipta maka atas izin-Nya Allah SWT akan menyelamatkan bumi ini dari kerusakan.
Adalah adil ketika Allah menciptakan manusia dan alam semesta berikut panduannya. Allah Maha Tahu apa yang Ia ciptakan, Tahu bagaimana sifat dan karakternya apalagi yang diciptakan milyaran manusia beserta potensi di dalamnya. Maka dibutuhkan aturan yang mampu mengarahkan manusia ke jalan yang benar. Bayangkan apa yang terjadi jika Allah menciptakan semua ini tanpa aturan tanpa panduan?? 
Allah sertakan panduannya saja manusia masih lalai apalagi tidak ada panduan sama sekali.
Inilah Firman-Nya:

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Dan sebenarnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur'ân) untuk mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang beriman ”. [al-A'râf / 7: 52].

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُيَلِمَي

"Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur'ân) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat untuk orang-orang yang berserah diri". [an-Nahl / 16: 89]

Allah turunkan Alquran sebagai panduan hidup manusia demi meminimalisir kemaksiatan. Maka inilah mitigasi paripurna yang berasal dari Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta. Dan Alquran hanya bisa diterapkan secara sempurna di muka bumi ketika negara menjadikannya sebagai sumber hukum dan landasan dalam berbagai aspek kehidupan. Maka akan terwujud negara Islam yang akan menebarkan rahmat dan keberkahan bagi seluruh alam atau yang dikenal dengan negara Khilafah Islamiyah. Bersiagalah dengan mitigasi Allah.
Wallahu’alam bishawab.
 
Top