Oleh:Yuli Ummu Raihan
( Member Akademi Menulis Kreatif)

Perkembangan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan ibarat pisau bermata dua, bagaimana tidak disatu sisi memberi bnyk kemudahan dan manfaat, tapi disisi lain mudhoratnya pun tak sedikit.
Perkembangan teknologi juga dimanfaatkan oleh kafir penjajah untuk menghancurkan Islam dari dalam khususnya melalui perempuan.
Strategi kafir penjajah melibatkan perempuan agar berlomba-lomba terjun kedunia kerja, publik dan ikut serta dalam perkembangan ekonomi digital.

Sistem kapitalisme mengeksploitasi habis-habisan kaum perempuan baik sebagai pelaku, atau target dari program mereka. Ada 63% dari 5 juta pelaku ekonomi didominasi perempuan, dan ini potensi yang besar dalam hitung-hitungan kapitalis.

Di era kekinian, negara ASEAN harus berhadapan dengan Revolusi Industri 4.0 dengan 630 juta warganya yang memiliki kekuatan belanja yang terus meningkat adalah target pasar yang sangat menggiurkan bagi kapitalis yang diotaknya hanya ada uang, uang, dan uang.

Ditambah potensi generasi mudanya yang 90% memiliki akses internet, dan menghabiskan rata-rata  6 jam 4 menit untuk online, maka bisnis digital adalah bisnis yang menjanjikan.

Maka digencarkanlah program pendukung untuk misi mereka ini, diberilah pendidikan vokasi, dan training SDM yang ahli IT, melalui lembaga pendidikan, teknologi,dan propaganda feminisme.

Janji manis kapitalis bahwa ketika perempuan terjun langsung ke sektor publik khususnya ekonomi maka tingkat kesejahteraan akan meningkat, nyatanya ini hanya pepesan kosong. Karna stagnansi ekonomi terjadi disebabkan  oleh faktor dari dalam sendiri, diantaranya: *Industri berbasis tekonologi tinggi, sehingga produk gaya hidup yang dimiliki pasar terbatas, menjadikan produk negara maju sulit mencapai pasar berpangsa luas.
*Adanya ketergantungan kapitalisme pada sektor ekonomi non riil
*Kredit macet
*Pengendapan  aset finansial di rekening gendut
*Proyek investasi mangkrak
* Salah kelola SDA dan SDM

Penelitian Eric Stark Maskin peraih Nobel Ekonomi 2007, guru besarbAds University di Harvard dan Kaushik Basu, guru besar ekonomi Cornell University, New York menyimpulkan bahwa penyebab ketimpangan kesejahteraan terutama dinegara berkembang termasuk Indonesia adalah Globalisasi karna meski pendapatan rata-rata naik, tapi distribusi pendapatan tidak merata, ada yang sangat kaya, sebaliknya banyak yang berada dibawah garis kemiskinan. Inilah penyebab utamanya, bukan karna perempuan tidak ikut bagian didalamnya.
Sistem saat ini memaksa kaum perempuan untuk keluar dari rumah-rumah mereka, meninggalkan tugas utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Gaya hidup hedonis menambah parah kondisi ini, sifat konsumtif perempuan menjadi motivasi kapitalis .
Gaya hidup yang wah dan budaya latah (ingin dibilang selalu up to date) membuat perempuan tak sadar telah menjadi sasaran kapitalis.
Strategi Barat melalui 3F (food, fun, fashion) dan 3 S (song, sport, seks) tak lepas menyasar kaum perempuan sebagai objek sekaligus subjeknya.
Kurangnya pengetahuan agama pada perempuan membuat alfa dari tugas utamanya.
Pandangan masyarakat yamg memandang remeh jika seorang perempuan hanya dirumah sibuk dengan urusan kasur, sumur, dan dapur padahal punya gelar bergengsi dibelakang namanya.
 Ditambah tak adanya peran negara sehingga rakyat harus berusaha sendiri mencapai kesejahteraannya.

Islam adalah agama yang sempurna, ia mengatur dengan sempurna mekanisme menyelesaikan problem ekonomi ini khususnya keluarga. Sistem ekonomi Islam mewajibkan negara menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok, memudahkan kebutuhan sekunder, dan membuka peluang untuk mendapatkan kebutuhan tersiernya.

Negara Islam juga memudahkan para lelaki dalam mencari nafkah agar kewajibannya terlaksana dengan menyediakan lapangan kerja, memberi modal usaha, memudahkan izin usaha, memudahkan pemilikan rumah tanpa riba, pemenuhan sarana dan prasarana umum seperti air bersih, transportasi, energi dan memastikan semua itu terdistribusi dengan baik dan benar, murah, dan mudah.

Jika semua sudah dilakukan dengan baik oleh negara maka beban ayah sebagai kepala keluarga akan semakin ringan, para ibu tak perlu lagi ikut membantu mencari nafkah dan bisa fokus pada tugas utama, bisa punya banyak waktu untuk menuntut ilmu, berdakwah, dan menyalurkan hobi positifnya, tingkat stres pun menurun dan kwalitas keluarga akan meningkat.

Tak akan ada lagi bayi-bayi yamg ditinggal ibunya bekerja, kurang kasih sayang, dan perhatian orang tuanya, turunnya angka kenakan remaja karna waktunya digunakan untuk hal positif dan selalu dalam pantauan keluarga khusunya ayah dan ibunya, tingkat kemaksiatan menurun, begitupun angka KDRT, perzinahan, perceraian, dan yang lainnya.
Maka insya Allah gelar khoiru ummah kembali kita raih aamiin.
 
Top