Penulis : Eva Rahmawati 

Dengan khilafah..dengan Khilafah..
Kemuliaan kita akan naik menuju kejayaan..
Dengan jalan Islam, kami bangga..
Kami bertekad akan menjadi penolong kebenaran..
Satu ummah
Satu daulah
Satu bendera
Syiar kami, Allah Maha Besar
Syiar kami, Allah Maha Besar

Penggalan lirik lagu berbahasa arab dengan judul "Bil Khilafah" yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia tersebut menggambarkan bahwa umat kembali mendamba kemuliaan dan kejayaan Islam, dengan bersatu dalam naungan panji tauhid Laa Ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah. Dan itu akan benar-benar terwujud dalam naungan khilafah. Apa itu khilafah? Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, kepemimpinan umat Islam sebagai pengganti Nabi dipegang oleh seorang Khalifah atau amirul mu'minin. Khalifah berperan sebagai pemimpin untuk urusan agama maupun urusan negara. Aturan-aturan yang diterapkan bersumber langsung dari Dzat yang maha mengatur kehidupan, Allah SWT. Sesuai Al Qur'an dan As Sunah. 

Sebagai konsekuensi keimanan seseorang wajib tunduk dan patuh terhadap semua ajaran Islam. Tak terkecuali. Khilafah merupakan salah satu ajaran Islam. Wajib bagi muslim meyakininya. Dengan adanya khilafah umat Islam akan bersatu. Karena sejatinya khilafah adalah pemersatu umat. Perwujudan persatuan hakiki tanpa diskriminasi, membedakan ras, suku, agama dan golongan. 

Dulu, umat Islam pernah berjaya dan bersatu. Tercatat dalam sejarah peradaban manusia, selama 14 abad. Persatuan tanpa adanya sekat-sekat wilayah, tanpa ada batas. Walau jarak memisahkan tapi kaum muslimin tetap dalam satu kepemimpinan. Menjadi bukti bahwa bersatunya umat Islam nyata, bukan khayalan.

Datangnya Islam membawa rahmat bagi semesta alam. Siapapun yang berada dalam naungan Islam akan merasakan kedamaian dan ketenangan. Islam hadir sebagai pemersatu. Kehadirannya berhasil mempersatukan suku Aus dan Khajraj yang telah lama bertikai. 

Islam menjunjung tinggi persaudaraan, sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah SAW tatkala hijrah dari Makkah ke Madinah dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor. Persaudaraan yang begitu kuat menghujam dalam diri kaum muslimin, bukan karena hubungan darah ataupun kekerabatan namun ikatan mabda Islam. Persaudaraan yang menjadikan kaum muslimin bersatu di bawah panji Laa Ilaha Ilallah.

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wata'ala:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa berpegang teguh dalam Islam dan larangan untuk bercerai berai. Wajib umat Islam untuk bersatu. 

Persatuan umat Islam di bawah satu kepemimpinan, telah terjalin pada masa Rasulullah SAW, dilanjutkan pada masa kekhilafahan Khulafaur Rasyidin sampai khilafah Utsmani di Turki. Namun sejak runtuhnya Khilafah tahun 1924, persatuan kaum muslimin dalam satu ummah, satu daulah dan satu bendera tercerai berai. Kaum muslimin terbagi dalam negara-negara kecil. Terbagi dalam 50 lebih negeri-negeri Islam.

Hal ini menyebabkan kekuatan Islam terkoyak, bersatunya umat Islam dalam negara khilafah yang dulu ditakuti lawan dan disukai kawan berganti dengan kondisi yang memprihatinkan. Alhasil kondisi umat Islam laksana dalam sampan-sampan kecil, melawan besarnya ombak di tengah lautan. Terombang-ambing dalam kondisi yang sangat lemah. Dengan kondisi ini umat Islam butuh bahtera yang kokoh. Umat butuh khilafah kembali. 

Pada hakikatnya bersatunya umat Islam mudah untuk digapai, bukankah Tuhannya sama, Allah, Nabinya sama, Muhammad SAW, kitabnya sama, Al Qur'an, kiblatnya sama, Ka'bah Baitullah? Lantas apa sebenarnya penghambat dan penghalang umat Islam bersatu? 

*Faktor-faktor Penghambat Belum Bersatunya Umat Islam*

Musuh-musuh Islam sadar bahwa kekuatan Islam adalah ketika umat Islam bersatu. Maka untuk menghalau persatuan tersebut, mereka tak kenal lelah berupaya menghadangnya. Dibuatlah propaganda jahat, dengan kekuatan super power. Diciptakanlah khilafah ala ISIS yang menakutkan, bertujuan monsterisasi ajaran Islam (khilafah). Stigma negatif bagi muslim yang berpegang teguh dengan ajaran Islam. Difitnah teroris, radikal, Islam garis keras, dll. 

Maka, hal ini berdampak munculnya rasa phobia dengan agama (Islam). Lihatlah fakta yang ada, tampilan-tampilan Islami dicurigai. Muslimah bercadar, muslim dengan jidat hitam, celana cingkrang dan berjanggut panjang diidentikkan dengan ciri-ciri teroris. Sementara tampilan-tampilan pornoaksi dan pornografi diapresiasi.

Disamping adanya andil besar dari musuh-musuh Islam, sulitnya persatuan umat juga  dipengaruhi oleh 'ashabiyah (fanatik buta). 'Ashabiyah bisa dalam berbagai keadaan seperti 'ashabiyah suku, negara, golongan, madzhab atau apa saja. 'Ashabiyah dalam negara (nasionalisme) bangga terhadap negaranya, merasa lebih tinggi kedudukannya dari negara lain. 

Begitupun 'ashabiyah dalam golongan, menganggap golongan mereka lebih suci dari yang lain. Beranggapan yang berbeda dengannya tak layak berdampingan. Padahal perbedaan itu pasti ada, selama perbedaan itu  hanya masalah furu' bukan masalah ushul, seharusnya tak menjadi soal, hingga enggan menggapai persatuan hakiki. 

'Ashabiyah bukan ajaran Islam. 'Ashabiyah telah nyata memecah belah umat. Wajib bagi setiap muslim untuk berlepas diri dari 'ashabiyah baik terhadap suku, negara, golongan, madzab, dsb. 

Ancaman serius bagi pelaku 'ashabiyah sebagaimana sabda Rasulullah SAW: 

Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyerukan 'ashabiyah, bukan dari golongan kami mereka yang berperang atas dasar 'ashabiyah, bukan dari golongan kami orang-orang yang mati karena 'ashabiyah (HR. Abu Dawud).

Urgensi Kehadiran Khilafah

Khalifah laksana perisai yang melindungi umat. Lihatlah fakta yang ada, ketiadaan Khilafah telah menjadikan kaum muslimin sebagai objek penderita, ditindas, diintimidasi, dipersekusi bahkan genosida tanpa henti seperti di Rohingya, Uighur Cina, Pattani Thailand, Palestina, di negara-negara Eropa dan Amerika, dsb.

Siapa yang akan melindungi muslim yang teraniaya? PBB? HAM? Pemimpin negeri-negeri muslim? Faktanya ketika korbannya muslim, dunia diam membisu. Menganggap itu melawan terorisme, separatisme dan radikalisme, padahal yang diserang adalah Islam. Pemimpin negeri-negeri Islam diam, menganggap itu bukan masalah negaranya. Inilah akibat nasionalisme. Padahal muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh. Jika ada anggota tubuh yang  sakit, yang lain akan merasakannya. 

Persatuan umat yang telah lama dirindukan, atas izin Allah Azza Wajalla kini telah mulai nampak. Semangat persatuan itu kian bergejolak. Kebangkitan Islam mulai menggelora. Membuat gentar musuh-musuh Islam. Ditandai dengan fenomena aksi 212 yang terus dijaga umat, bahkan telah menginspirasi dunia. Ukhuwah Islamiyah nyata adanya. Sudah saatnya kaum muslimin hempaskan ikatan-ikatan semu, ikatan kepentingan, sukuisme, nasionalisme, rasisme, dsb. Kembali menuju ikatan hakiki yaitu mabda Islam. Bersatu demi mewujudkan cita-cita umat yang merupakan janji Allah, bisyarah Rasulullah SAW. 

Sebagimana sabda Nabi Shalallauhu 'alaihi wa sallam.

“adalah Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya bila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian, yang ada atas kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya bila Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang menggigit, yang ada atas kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya bila Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang memaksa (diktator), yang ada atas kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya, bila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian. Kemudian beliau (Nabi) diam” (HR Ahmad).

Wallahu a'lam bishshowab.
 
Top