Oleh: Eva Rahmawati 

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengapresiasi penghargaan yang diberikan Setara Institute kepada 10 kota di Indonesia dengan nilai toleransi tertinggi. Tjahjo mengungkapkan, penghargaan tersebut dapat membuat kepala daerah menyadari warganya yang beragam. Oleh karena warganya itu, mereka kini dapat menduduki posisi penting di daerah tersebut. (Kompas.com, 7/12/18)

Dalam rilisnya, Setara Institute menyebut kota Jakarta ada di posisi ketiga dari urutan paling bawah. Jakarta ada di atas Banda Aceh dan Tanjung Balai. Padahal momen reuni akbar 212 kemarin telah membuktikan bahwa kota Jakarta telah berhasil menjadi tuan rumah untuk acara yang super damai, dihadiri berbagai macam agama, suku, ras, bahasa dan budaya.

Menanggapi rilis Setara Institute, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mempertanyakan hasil kajian tersebut. Bahkan ia akan mempelajari lebih dalam terkait hasil kajian tersebut. Anies meminta agar Setara Institute mau membuka secara gamblang instrumen penelitianya. Untuk memastikan validitas, reliabilitas instrumen itu valid.  (JawaPos.com, 8/12/18)

Menjaga Kerukunan Dengan Toleransi 

Berbicara tentang keragaman sudah ada sejak dahulu. Ketika Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi. Keragaman itu pasti, perbedaan yang ada tak bisa dipungkiri. 

Sebagaiman firman Allah Subhanahu Wata'ala:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. (QS. Al Hujurat: 13)

Untuk menjaga keragaman ini tetap dalam kondisi rukun dan damai, maka dibutuhkan sikap saling menghargai dan menghormati antar individu/kelompok yang disebut dengan toleransi. Pertanyaannya toleransi yang seperti apakah? Yang terjadi banyak individu/kelompok yang memaknai sempit toleransi, atau bahkan sampai ada toleransi yang kebablasan. Terjadi salah kaprah toleransi.

Memaknai toleransi akan berbeda jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Lebih jelas dan mendasar adalah ketika melihat toleransi dari sudut pandang ideologi. Akan ditemui perbedaan sangat mencolok antara toleransi dari sudut pandang ideologi kapitaliseme-sekulerisme dengan ideologi Islam. Kerena keduanya mempunyai landasan yang berbeda. 

Toleransi dalam Ideologi Kapitalisme-sekulerisme.

Ideologi Kapitalisme adalah sebuah ideologi yang lahir dari rahim sekulerisme, yaitu memisahkan peran agama dari kehidupan. Agama cukup dalam ranah ibadah mahdhah saja. Tolak ukur kebahagiaan ideologi ini adalah soal kepuasan material/jasadiah. Tanpa peran agama dan prioritas kebahagiaan hanya materi, yang ada justru menuhankan nafsu. Mengagungkan kebebasan (liberalisme). Bebas tanpa aturan.

Gaya hidup bebas bukan hanya diadopsi di Barat saja, akan tetapi telah menjalar ke negeri-negeri muslim. Dengan propaganda dan kampanya yang masif, dihembuskan kebebasan beragama, berpendapat, berperilaku dan berkepemilikan. Tidak heran ketika ada yang mengusik kebebasan kaum liberal maka akan dicap sebagai kaum intoleran. 

Tudingan Islam Agama Intoleran 

Tudingan intoleransi sebenarnya menunjuk satu sasaran yaitu Islam. Padahal realita yang ada Islam juga mendapatkan perlakuan tak kalah menyakitkan, yang tidak selayaknya dari umat agama lain. Masih ingat kasus pembakaran masjid di Tolikara, Papua, pelarangan siswa berjilbab di Bali, penistaan agama Islam yang marak namun sepi dari tindakan aparat, dll. 

Beberapa contoh yang nampak dipermukaan di wilayah Indonesia, akan didapati perlakuan lebih parah bagi muslim yang tinggal di mayoritas non muslim di seluruh dunia. 

Kemudian tatkala kaum muslimin mengamalkan salah satu ajarannya yaitu amar makruf nahyi mungkar, kritis terhadap kebijakan dzalim rezim dan kemungkaran yang terjadi dalam lingkup pemerintahan maupun masyarakat akan distigma negatif, dicap radikal dan intoleran.

Atas nama "toleransi" kaum muslimin diarahkan untuk menerima segala bentuk pemurtadan dan kemaksiatan. Seperti maraknya pelaku menyimpang Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT), nikah beda agama (muslimah menikah dengan non muslim), nikah sesama jenis, minuman keras, prostitusi, ritual-ritual syirik, dll didorong untuk di "toleransi". Padahal semua hal tersebut jelas-jelas dilarang agama (Islam).

Monsterisasi dan kriminalisasi ajaran Islam (khilafah). Diframing jahat oleh media sekuler bahwa syariah Islam merupakan ancaman negara. Para pengusung penegakkan syariah dan khilafah dituding sebagai kaum intoleran, radikal, fundamentalis dan ekstrimis yang harus dijauhi. Padahal apa yang mereka lakukan adalah semata-mata hanya menjalankan kewajiban agamanya yaitu berdakwah. Dakwah Islam. Bahwa Islam bukan hanya agama yang mengatur soal ibadah saja tetapi Islam juga mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk soal pemerintahan Islam.

Muslimah bercadar, muslim berjenggot, celana cingkrang dicurigai sebagai teroris. Bahkan bendera tauhid dibakar dengan alasan bendera ormas tertentu, yang lebih parah Al Qur'an dijadikan barang bukti pelaku terduga teroris. Padahal itu semua adalah simbol-simbol Islam yang tidak perlu ditakuti. Beda perlakuan antara pelakunya muslim atau non muslim. Jika pelakunya muslim disebut teroris sedangkan non muslim yang terbukti makar hanya disebut pelaku kriminal.

Itu semua adalah kondisi di mana penerapan sekulerisme menumbuh suburkan intoleransi, dan Islam yang selalu menjadi korban. Tetap  mempertahankan sistem rusak ini dalam kehidupan sama saja membiarkan intoleransi tetap berkembang, merusak kerukunan dan persatuan yang semestinya dijaga bersama-sama.

Untuk Itu perlu adanya upaya untuk memperbaiki kondisi yang ada, tinggalkan sistem kehidupan yang terbukti gagal mewujudkan toleransi, tanpa adanya diskriminasi terhadap suku, ras, agama apapun.

Toleransi Hakiki Hanya Dalam Islam

Islam Agama Paling Toleran, Tercatat Dalam Sejarah Toleransi dalam Islam yaitu membiarkan umat agama lain beribadah sesuai dengan keyakinan dan ajarannya, tidak mengusik, tidak ikut dalam kegiatan perayaannya. Prinsip toleransi dalam Islam sangat jelas dan tegas. Lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu bagiku agamaku). Batasan toleransi dalam Islam adalah akidah. 

Dalam sejarah kehidupan manusia, Islam adalah agama yang paling toleran. Kehadiran Islam sejak awal telah menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, terbukti Islam telah mendamaikan dan mempersatukan dua suku yang telah lama bertikai, yaitu suku Aus dan suku Khajraj di Madinah. 

Berikutnya Islam juga sangat menjunjung nilai-nilai kerahmatan bagi alam semesta. Tak heran karenanya, jika Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang beriman, Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian karena agama kalian. Mereka juga tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. al-Mumtahanah: 8).

Kemudian Rasulullah SAW sendiri langsung memberikan teladan mulia bagaimana praktek toleransi yang sesuai dengan wahyu Ilahi. Bentuk toleransi yang diajarkan yaitu berbuat baik, tolong menolong yang tidak ada hubungan dengan agama, boleh memberi hadiah kepada non muslim, boleh bermuamalah, tetap menjalin silaturahim kepada orang tua dan kerabat non muslim, tegas menolak bentuk kemungkaran dan kemaksiatan. Pembelaan beliau terhadap kafir dzimmi (orang kafir yang tinggal di negara Islam) sungguh luar biasa.

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Muslim “Siapa menyakiti dzimmi, maka aku menjadi lawannya pada hari kiamat.” Dalam riwayat Imam al-Thabrani, Rasulullah S juga menyebutkan: “Siapa menyakiti dzimmi, maka sungguh ia menyakitiku. Dan siapa menyakitiku, maka sungguh ia menyakiti Allah.”

Non muslim yang hidup dalam naungan negara Islam selama tidak mengganggu tidak akan diganggu pula, bahkan akan dilindungi harta dan jiwanya. Muslim maupun non muslim, keduanya sama-sama mendapatkan haknya dalam memenuhi kebutuhan pokok serta kebutuhan akan pelayanan kesehatan, pendidikan dan keamanan. Tidak ada warga kelas dua. 

Setelah Rasulullah wafat, praktek toleransi dilanjutkan oleh para khalifah. Dari Khulafaur Rasyidin hingga Khalifah Utsmani di Turki. Terukir dalam sejarah selama 14 abad mampu meriayah warganya dengan baik. Namun sejak runtuhnya khilafah Utsmani tahun 1924 hingga sekarang toleransi hakiki belum terwujud dan akan segera terwujud kembali ketika Islam memimpin dunia. Insyaallah.

Wallohu a'lam bishshowab.
 
Top