Oleh: Safiatuz Zuhriyah, S.Kom
Aktivis Pergerakan Muslimah

Saat ini, industri e-commerce telah menempati posisi penting dalam perekonomian Indonesia. Data dari analis Ernst & Young mengungkapkan bahwa nilai bisnis online di tanah air meningkat 40% tiap tahunnya. Benar-benar angka yang fantastis dan menggiurkan. Tidak heranbila para pengusaha berlomba-lomba ikut terjun di bisnis ini.

Di sisi lain, persaingan usaha industri e-commerce juga semakin meningkat. Diperlukan usaha lebih untuk merebut hati para konsumen. Pemasaran online mengharuskan mereka menyasar lini masa generasi milenial yang nota bene merupakan user terbesar dunia digital. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan endorse selebgram dan selebriti.

Sejak 19 November 2018, Blackpink, girl groupasal Korea Selatan telah resmi menjadi Brand Ambassador Shopee di Indonesia dan beberapa Negara lainnya, termasuk Thailand dan Malaysia.Namun iklan mereka di layar kaca menuai protes.

Pada Jumat, 17 Desember 2018 muncul petisi dengan judul “Hentikan Iklan Black pink Shopee” yang dibuat oleh Maimon Herawati untuk memprotes penayangan iklan tersebut karena dianggap seronok dan tidak melindungi generasi penerus. Apalagi iklan ini sering diputar pada program anak-anak. Salah satunya Film Tayo di RTV. Tentu saja hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi para ibu dan pendidik . Terkait dengan efek buruknya paparan pornografi pada anak-anak.

Namun malangtak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Rupanya demam KPop telah membuahkan generasi berpikiran rusak. Bukannya merenungi apa yang disampaikan Maimon, mereka malah menyerang balik dengan membuat petisi “Usir Maimon Herawati dari Indonesia”. Maimon dianggap memecah belah rakyat Indonesia. Bahkan beredar meme-meme bernada melecehkan dan mencederai adat ketimuran. Beliau juga menerima serangan melalui nomor kontak pribadi dan akun-akun medsosnya, seperti dirilis www.tarbawia.net edisi 11 Desember 2018.

Begitulah, ideology kapitalis-sekuler yang dianut negeri ini telah menyebabkan perbedaan sudut pandang dalam masyarakat. Atas nama kebebasan berpendapat dan berekspresi, semua warga Negara berhak mengungkapkan pemahamannya terkait kehidupan tanpa harus menenggang rasa dengan sesama. Tidak ada tolak ukur pasti untuk norma kesopanan dan kesusilaan yang berlaku universal.
Terlebih lagi, media massa yang ada cenderung digunakan sebagai penopang ekonomi kapitalis dengan menghalalkan segala cara. Berorientasi pada keuntungan semata sekalipun harus berbenturan dengan norma dan nilai ketimuran. Termasuk mengeksploitasi anggota tubuh wanita demi penjualan produk.

Di masa kejayaan Islam, media massa telah menempati posisistrategis untuk membangun masyarakat islami yang kokoh. Individu, masyarakat dan Negara bahu membahu menciptakan iklim kehidupan luhur berlandaskan keimanan kepada Allah swt.

Setiap warga Negara boleh mendirikan media massa, baik cetak, audio maupun audio-visual. Namun, setiap pemilik media harus bertanggungjawab terhadap konten media yang disebarkannya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua bentuk penyimpangan terhadap hukum syariah sebagaimana warga negara lain. Tidak ada kekebalan pers.

Masyarakat Islam punya standar yang khas dalam memandang kehidupan, yaitu halal-haram. Tidak ada standard ganda dalam menilai suatu persoalan. Maka, menampakkan aurat selamanya akan dianggap sebagai suatu bentuk pelanggaran, meskipun ada keuntungan yang bias diambil dari sana.

Sedangkan negara, fungsi utamanya adalah member pelayanan optimal atas seluruh urusan rakyatnya. Sehingga Negara akan selalu memperhatikan maslahat dan mudhorot yang ada di tengah-tengah masyarakat. Kebijakan preventif lebih diutamakan agar masyarakat terlindung dari paparan pornografi dan bias melaksanakan transaksi muamalah sesuai syariat Islam. Di sisi lain, Negara betul-betul menempatkan media sebagai sarana edukasi hukum Islam yang diadopsi menjadi hokum negara, menguatkan akidah Islam, dan penyampaian informasi terkait kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan cara seperti ini, umat Islam mampu Berjaya selama 3,5 abads ejak Rasulullah hijrahke Madinah hingga runtuhnya Kekhilafahan Turki Usmani pada tanggal 3 Maret 1924. Selama itu, kehidupan umat mencapai tingkat kemajuan taraf kehidupan tertinggi sampai bias diterapkan di 2/3 dunia. Tidak Nampak adanya generasi lembek karena paparan pornografi. Semua warga Negara saling berlomba meneba rkebaikan dan manfaat bagi sesama. Hal ini bias terjadi hanya dalam masyarakat yang seluruh tatanannya berlandaskan kepada ideologi Islam, bukan ideology Kapitalis.


 
Top