Oleh: Hany Handayani Primantara, S.P.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Mungkin pribahasa itu agaknya tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita yang bertubi-tubi ditimpa beragam bencana. Belum pulih bangunan yang hancur akibat diterjang tsunami beberapa waktu lalu di wilayah Palu Sulawesi. Kini giliran Selat Sunda di wilayah Banten yang disapu air laut. 

Belasungkawa untuk korban bencana Banten berdatangan dari berbagai pihak. Tak ada yang menyangka kejadian ini bisa menelan banyak korban jiwa. Semoga para korban bencana dapat tempat terbaik serta meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Begitu pula korban yang rumahnya tersapu ombak, bisa segera mengobati traumanya.

Mengingat korbannya kian hari kian bertambah. Mulai dari luka ringan sampai yang tewas di tempat. Mulai dari rumah roboh hingga beragam kendaraan terlibas gelombang tinggi. Warga terkejut bukan main akan kedatangannya, apatah lagi pihak PVMBG sebagai badan yang bertanggung jawab atas mitigasi Bencana. 

Pihak tersebut tak memberikan peringatan, bahwa ada bencana yang akan terjadi berupa gelombang tinggi atau tsunami. Jangankan memberikan peringatan, sebab terjadinya tsunami pun masih dipertanyakan hingga sekarang bagaimana bisa terjadi. 

Kenyataannya di kawasan anak gunung Krakatau tak terjadi letusan besar, yang dapat mengakibatkan longsoran sehingga dapat timbulkan tsunami. Sebagaimana informasi yang banyak beredar di masyarakat. 

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Wawan Irawan, mengatakan sementara ini pihaknya tak bisa menyimpulkan dulu tsunami tersebut terjadi akibat krakatau atau bukan. (Republika.co.id). 

Kita sebagai manusia memang tak bisa menolak kedatangan sebuah bencana. Namun perlu disadari pula, bahwa kita bisa membatasi dampak yang bisa merugikan dari bencana alam. Hal itu berguna untuk memberikan peringatan sebelumnya pada warga. Serta merelokasi warga sekitar agar mampu meminimalisasi korban bencana. 

Namun sepertinya pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan warga, tak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya. Tiap kali bencana terjadi tak ada ikhtiar berupa mitigasi yang mumpuni. Padahal jika ditelisik, bencana yang terjadi di negeri ini bukan sekedar sekali maupun dua kali namun sudah berulang kali. 

Tindakan mitigasi struktural sebenarnya bisa dilakukan melalui rekayasa dan konstruksi tahan-bencana alam, bangunan, pelindung dan prasarana lainnya. 

Sedangkan Mitigasi non struktural meliputi kebijakan, kesadaran, pengembangan pengetahuan, serta metode dan praktik operasional, mencakup mekanisme partisipatori serta persediaan informasi, yang dapat mengurangi risiko dan dampak-dampak yang berhubungan. 

Mitigasi nonstruktural ini juga mencakup praktik-praktik seperti zonasi lahan, perencanaan penggunaan lahan, perencanaan perkotaan, dan forensic terhadap bencana alam sebelumnya.

Pemerintah sebagai penentu kebijakan harus bertindak tegas pada kegiatan mitigasi ini. Baik aspek pembangunan infrastruktur maupun bangunan privat, serta pengaturan tata guna lahan dalam pemanfaatan lahan yang dapat dijadikan tempat bermukim atau tidak dibolehkan sama sekali.

Maka tak heran jika ada kesimpulan bahwa mitigasi yang luput dapat berujung maut. Cukuplah kejadian di Selat Sunda ini kita jadikan peringatan sekaligus pelajaran untuk ke depan. 

Agar tak abai terhadap mitigasi bencana yang sering terlewatkan. Islam sudah menjadikan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah sebagai penguasa untuk melindungi serta mengurusi umat yang terkena dampak bencana. 

Sejatinya tawakal saja belum cukup untuk hadapi bencana, karena kita diberikan kemampuan akal untuk belajar mengatasi segala problem yang ada. Termasuk bencana yang sering kali berulang di setiap wilayah. 

Ditambah wilayah negeri kita yang rentan terhadap beragam bencana karena terletak di antar jalur patahan rawan gempa. Seharusnya menjadikan diri ini waspada terhadap segala kemungkinan yang ada. 

Wallahu a’lam Bishowab
 
Top