N3, Sumbar - Berperawakan tenang, senyum selalu menghiasi bibir, terbias di wajah Feri Sutimarjaya. Laki laki yang telah banyak menempuh daerah dan mengabdikan diri untuk pembangunan jalan, mudah diajak bicara dan bercerita bagaikan air mengalir,  jika ditanya berkaitan tugasnya.
Betah bicara dengannya, bahkan bisa menghabiskan waktu berjam jam, saat ditanya terkait tugas mulianya memuluskan jalan nasional.

Laki laki selalu berpenampilan rapi dan dekat dengan berbagai kalangan, terutama kalangan pers, tak kenal lelah jika sudah bekerja, tak pernah jenuh menghadapi masalah yang menghalangi tugasnya, selalu ceria meski kadang beban berat ada dipundaknya. Namun,  berat beban dalam menjalankan tugas tersebut, ia mampu mengatasi, termasuk menghadapi beban bencana yang kerap menerpanya  saat menyelesaikan pekerjaan jalan nasional.

Kepedulian yang tinggi dan tanggungjawab yang besar, kembali teruji saat bencana datang melanda dan meluluhlantakan jembatan di Kayu Tanam penghubung jalan Padang - Bukittinggi. Dalam keadaan darurat tersebut, Feri Sutimarjaya bergerak cepat dengan melakukan penanganan darurat.  Ia tak beranjak dari lokasi bencana dan tetap bekerja meski keletihan menderanya.

Menurut pria berwajah sejuk ini, jembatan yang ambruk ini, dibangun tahun 1994 dengan panjang bentang 20 meter. "Jembatan di Kayu Tanam penghubung Padang - Bukittinggi ini, terletak 54,1 Km dari Padang. Dengan ambruknya jembatan ini berpengaruh besar terhadap perekonomian, sebab jalan merupakan urat nadi perekonomian," kata Feri disela sela kesibukannya.

Diceritakan Feri, sebenarnya tahun 2018 ini, Satuan Kerja (Satuan Kerja) Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN 1) Provinsi Sumbar sudah melakukan penanganan berkala terhadap jembatan tersebut." Tapi keadaan bercerita lain, bencana alam telah merobohkan jembatan tersebut," katanya..

Dalam kondisi yang gawat ini, kita harus bergerak cepat, apalagi jalan dialihan dari Bukitting melewati Malalak atau Solok memakan waktu panjang. Untuk penanganan darurat kita akan melakulan pembangunan jalan darurat, berupa  jembatan panel dengan panjang 25 meter. Ini dilakukan agar jalur Padang - Bukittinggi dapat dipulihkan untuk sementara," celetuk Feri.

Bukan sampai disini saja, selanjutnya kita menunggu proses untuk design jembatan permanen. Sehingga,  ini bisa kita usulkan untuk penganggarannya pada tahun 2019. Tapi, bisa juga menggunakan dana tanggap darurat dari Kemen PUPR. "Saat ini tim dari TRC ( Tim  Reaksi Cepat (TRC) dari Dirjend Bina Marga pusat sudah turun kelokasi untuk melakukan evaluasi terhadap rencana penanganan yang kita lakukan," ujar Feri.

Dengan yakin, Feri mengatakan, dalam 2 hari dari target 5 hari  rangka jembatan balley sepanjang 30 meter telah erection dan membentang diatas jembatan lama yang ambruk." Kita akan pacu pekerjaan, sehingga jalan Padang - Bukittingi kembali normal dan perekonomian kembali menggeliat," ujar Feri seraya mengatakan, diharapkan kesabaran masyarakat selesainya jembatan darurat dalam 5 hari.

Indahnya nanti, kata Feri, kita akan merencanakan pekerjaan pemasangan jembatan panel dan jembatan balley dari arah Padang dan Bukittinggi. "Sehingga nantinya lalu lintas dapat dua arah dan dua lajur.

"Disamping memperindah daerah ini, lalu lintas makin lancar dan masyarakat bisa menikmatinya.Ya, kalau jembatan dan jalannya bagus, kita tak pernah menuai pujian, tapi kalau jembatan dan jalannya rusak, kita sering menerima hujatan," katanya sembari bercanda. NV
 
Top