Oleh: Mariyatul Qibtiyah
(Bojonegoro)

KEHIDUPAN manusia terus berkembang. Dari zaman batu hingga terjadinya revolusi industri. Dari revolusi industri pertama, saat ditemukannya mesin uap. Disusul dengan revolusi industri kedua, setelah ditemukannya tenaga listrik. Berikutnya terjadi revolusi industri ketiga, yaitu pada saat digunakannya teknologi informasi dalam industri. Dan saat ini, dunia telah memasuki revolusi industri yang keempat, atau revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan dikembangkannya artificial intellegence (kecerdasan buatan, machine learning (pembelajaran mesin), robotik, printer 3D, IoT (Internet of Things), kendaraan robotik, komputer kuantum, dan bioteknologi. Beberapa sektor industri di Indonesia pun telah memasuki era industri 4.0. Misalnya industri otomotif, semen, petrokimia, serta industri makanan dan minuman. 

Digitalisasi ekonomi ini memang akan membuat pekerjaan manusia lebih mudah, ringan, dan cepat. Namun, hal itu juga akan mengakibatkan hilangnya banyak lapangan pekerjaan karena tidak lagi dibutuhkan. World Economic Forum  memprediksi hilangnya 7,1 juta pekerjaan selama periode 2015-2020, sedangkan lapangan pekerjaan baru di bidang komputer, matematika, arsitektur dan teknik hanya sebesat 2 juta pekerjaan saja (www3.weforum.org dalam Fika Komara, 2018: 167). Menaker Hanif Dhakiri menyebutkan hasil studi McKinsey (2016) yang memprediksi bahwa dalam 5 tahun ke depan, sebanyak 52,6 juta lapangan pekerjaan akan tergantikan oleh otomatisasi yang mengikuti global trend, 60 persen pekerjaan akan mengadopsi sistem otomatisasi dan 30 persen menggunakan mesin berteknologi digital (liputan6.com, 09/10/2018).

Perubahan zaman yang terus terjadi tidak mungkin kita hindari. Yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk memasukinya. Terlebih lagi, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Bonus ini akan mulai didapatkan Indonesia pada tahun 2020 dan mencapai puncaknya pada 2025-2030. Bonus demografi ditandai dengan adanya dominasi jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) atas jumlah penduduk tidak produktif. Hal ini bisa dilihat dari angka rasio ketergantungan yang rendah. Rasio ketergantungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia tidak produktif dan jumlah penduduk usia produktif. Rasio ketergantungan penduduk Indonesia di era bonus demografi akan berada pada angka 70 persen dari jumlah penduduk total. Artinya, 70 orang usia produktif akan menanggung 30 orang usia tidak produktif.

Jika Indonesia berhasil dalam memanfaatkan bonus demografi, Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang tinggi. Hal ini seperti yang dialami oleh Jepang yang mendapat bonus demografi pada tahun 1950. Jepang berhasil memanfaatkan bonus tersebut dan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi tertinggi ke 3 di dunia setelah AS dan US pada dekade 70-an. Indonesia sendiri menargetkan menjadi salah satu dari 10 besar negara yang kuat ekonominya pada tahun 2030.

Untuk mencapai hasil ini, tentu tidak mudah. Ada prasyarat yang harus dipenuhi. Yaitu, kualitas pendidikan dan kesehatan SDM yang baik, serta tersedianya lapangan pekerjaan. Tentu, hal ini membutuhkan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah sendiri telah mencanangkan roadmap yang bernama Making Indonesia 4.0.

Roadmap itu berisi 4 strategi Indonesia dalam memasuki industri 4.0, yaitu:
  1. Meningkatkan ketrampilan untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri.
  2. Pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktifitas dan daya saing bagi industri kecil dan mdnengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM.
  3. Meminta industri nasional untuk menggunakan teknologi digital.
  4. Inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis.
Itu dari sisi persiapan dalam  meraih kemajuan di bidang ekonomi. Namun, sebagai seorang muslim, tentu bukan hanya itu yang kita pikirkan. Ali bin Abi Thalib Karramallaahu Wajhah pernah berkata, "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu". Apa yang telah diungkapkan oleh Ali bin Abi Thalib itu memang benar adanya. Generasi saat ini adalah generasi milenial. Generasi yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan serba digital. 
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa pada 2017, pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta orang (liputan6.com, 09/10/2018). Tentu, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak muda dari kaum muslimin. Berbagai informasi yang mengalir begitu deras di masa serba internet ini akan dengan mudah mereka peroleh. Go-Globe.com (dalam Fika Komara, 2016: 193) menyebutkan, "Setiap 60 detik, terdapat 700.000 pencarian di Google, 695.000 status baru di Facebook, 98.000 status twitter, 1500 tulisan blog, 600 lebih video diunggah ke Youtube, dan statistik mencengangkan lainnya." 

Hal ini tentu harus kita waspadai. Yang lebih mengerikan adalah derasnya arus informasi ini telah disetting oleh Barat untuk mengganti nilai-nilai tsaqafah Islam yang mulia dengan nilai sekuler dan tasqafah barat yang menyesatkan.

Akan sangat disayangkan jika kelak bonus demografi itu hanya mampu kita manfaatkan dalam bidang ekonomi saja. Sudah sepatutnya jika mereka yang merupakan anak-anak generasi muslim, berusaha untuk meraih kemajuan dalam dimensi dunia dan akhirat. Untuk itu, dakwah digital harus kita lakukan. Kita manfaatkan semua sarana di media sosial untuk mengubah pemikiran-pemikiran  generasi muda Islam agar kembali kepada pemikiran Islam. Kita curahkan segenap kemampuan untuk melakukannya. Agar bonus demografi ini tidak berlalu begitu saja. Kita harus ingat bahwa bonus demografi ini tidak terjadi terus-menerus. Karenanya, kita harus mampu memanfaatkan kesempatan ini, atau kita umat Islam, hanya bisa menggigit jari karena lupa mempersiapkan generasi. 

Maka, yang harus dilakukan oleh negara dan masyarakat bukan hanya  memberi bekal ketrampilan. Yang lebih penting dari itu adalah membekali mereka dengan aqidah yang kokoh sehingga tidak mudah terjerumus dalam jeratan kaum kapitalis sekuler yang hanya akan menjadikan mereka sebagai konsumen dalam meraup keuntungan. Sehingga, akan terbentuk generasi yang memiliki kepribadian yang kokoh. Generasi yang akan membawa Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuurun. Generasi yang tidak hanya membawa kemajuan di bidang ekonomi, namun juga meraih ridla Ilahi.
 
Top