Suasana Kampung Merabu nampak cerah, kicauan burung menyambut pagi. Walau cuaca dingin, bukan hambatan bagi rombongan Humas Setprov Kaltim dan sejumlah awak media untuk segera beranjak dari pembaringan. Pagi rombongan dijadwalkan mengunjungi Goa Bloyot dan Goa Lungun yang jaraknya sekitar  12 kilometer dari desa berpenduduk sekitar 250 jiwa itu.

Karena belum ada penginapan, peserta menginap di rumah–rumah penduduk dan aula Krema Puri. Sambutan yang begitu ramah dan hangat dari warga Merabu membuat pengunjung kian betah tinggal di desa itu.

Rombongan kecil yang diikuti sejumlah warga desa,  sebagai pemandu mengawali perjalanan ke Goa Bloyot. Setelah berjalan sekitar satu kilometer,  rombongan telah meninggalkan kampung dan nampak tertulis “Selamat Datang di Goa Bloyot”. Melihat papan nama itu, sebagian anggota rombongan tampak lega. Namun itu ternyata salah, karena dibalik papan nama itu tertera tulisan lagi “Goa Bloyot 4 kilometer".

Namun, hal itu tidak menyurutkan semua peserta untuk melanjutkan perjalanan memasuki kawasan hutan karst yang alami, nampak terlihat berbagai jenis batang pohon dengan diameter di atas satu meter.

Menyusuri hutan yang lebat dan begitu dingin, tidak mematahkan semangat peserta untuk terus berjalan, apalagi di sisi kiri jalan nampak aliran sungai yang jernih dan bebatuan khas hutan karst. Selain itu sepanjang jalan terdengar kicauan burung dan hewan liar yang mengiringi perjalanan tersebut.

Setelah berjalan sekitar 1,5 jam nampak terlihat gunung-gunung karst berdiri kokoh di balik rimbunan pepohonan hutan, sekaligus sebagai penanda bahwa Goa Bloyot tidak jauh lagi. Namun perjalanan yang semula datar, kini agak bergelombang karena harus berjalan diantara bebatuan bukit karst.

Ternyata benar, sekitar 20 menit kemudian sampailah di kawasan Gunung Karst   Goa Bloyot. Sejumlah pemandu yang merupakan warga setempat mengarahkan anggota rombongan untuk berhati-hati mendaki bukit karst menuju goa yang memang cukup curam dan licin, sehingga harus ekstra waspada agar tidak jatuh.

Sejumlah anggota rombongan memang tidak berani mengambil resiko sehingga menuruti petunjuk dari para pemandu yang dipimpin Irsani. Medan terjal dan licin memang sangat berbahaya bagi pendaki.

Setelah mendaki sekitar 25 menit dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian, satu demi satu anggota rombongan sampai  di depan goa. Setelah semua anggota rombongan terkumpul, selanjutnya memasuki goa.

Tantangan berikutnya adalah kembali harus ekstra hati-hati, karena di dalam goa terdapat stalakmit dan stalatit yang membentuk tiang-tiang baik dari bawah dan dari atas goa karst  yang bisa saja membentur kepala pengunjung, sehingga kehati-hatian harus diutamakan saat memasuki goa. Dengan kondisi itu, sangat dinjurkan setiap pengujung harus mengunakan pelindung kepala dan membawa lampu untuk penerangan dalam goa yang memang gelap.

Sesampainya di dalam goa,  udara dingin dan lembab sangat terasa dan terlihat beberapa ruangan yang terbagi dalam goa. Setelah puas menikmati suasana goa pertama ini. rombongan kemudian naik lagi ke tingkat atas goa yang dihubungan dengan tangga dari kayu.

Kembali pengunjung disuguhkan dengan berbagai pemandangan dalam goa yang tampak eksotis, termasuk sarang burung walet jenis lumut yang menempel di dinding goa serta beberapa kelompok kekelawar beterbangan di dalam goa.

Sambil terus berjalan, lorong goa ternyata terkoneksi dengan goa lain yang berada di atas yang juga dihubungkan dengan tangga kayu. Namun kali ini pengujung juga harus sangat hati-hati saat menaiki tangga karena di bawah tangga tersebut nampak jurang sangat curam.

Satu-persatu rombongan wartawan dan Humas Setprov Kaltim menaiki tangga tersebut yang langsung terhubung dengan ruang goa yang disebut dengan Goa Bloyot. Di goa inilah terdapat sejumlah lukisan tapak tangan, gambar daun dan berbagai lukisan hewan yang usianya diperkirakan lebih dari 5.000 tahun

Rasa lelah yang dirasakan sepanjang perjalanan  hingga pendakian terbayar sudah, pesona Goa Bloyot sangat eksotik. Apalagi melihat langsung lukisan atau gambar telapak tangan dan gambar beberapa hewan di dinding goa. Langit-langit goa yang indah dan basah kian memperindah goa.

Dari atas goa itu,  pengujung juga dapat melihat kondisi sekitar, termasuk jajaran gunung karst yang berjajar dan menjulang tinggi seakan menantang langit, sehingga menambah kekaguman manusia terhadap pesona alam yang merupakan ciptaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Usai menikmati pesona Goa Bloyot dan sejumlah goa lainnya, rombongan kembali pada jalur awal untuk meneruskan perjalanan dan kali ini sambil kembali ke Kampung Merabu akan melihat Goa Lungun.

Goa Lungun merupakan lokasi tempat disemayamkann jenazah nenek moyang. Sebagaimana kepercayaan  masyarakat waktu itu, setiap ada anggota keluarag yang meninggal tidak dikuburkan, tetapi disemayamkan dalam peti dan selanjutnya disimpan dalam goa yang disebut dengan lungun.

Setelah berjalan sekitar 30 menit ke arah Kampung Merabu dari kaki bukit Goa Bloyot, rombongan menuju Goa Lungun yang jaraknya sekitar 2 kilometer dengan jalur medaki. Meskipun tidak securam saat mendaki Goa Bloyot, namun saat mendaki Goa Lungun sangat terasa lelahnya, karena sebagian tenaga anggota rombongan cukup terkuras sepanjang perjalanan.

Dengan penuh perjuangan dan cucuran keringat, rombongan sampai di Bukit Lungun dan untuk melihat dua jenazah di dalam peti, kita harus menaiki tangga  untuk menuju goa yang tinginya sekitar lima meter.

Goa tempat lungun tidak besar sehingga hanya cukup untuk dua peti jenazah dan terlihat tinggal tulang belulang dan tengkorak kepala. Karena luasan lokasi yang terbatas, rombongan wartawan dan Humas Setprov Kaltim, secara bergantian mengabadikan peningalan purbakala itu.

Tidak sia-sia rasanya perjalanan lebih dari empat jam dan menempuh jarak sekitar 12 kilometer serta mendaki tebing terjal, untuk melihat goa  purbakala dan lungun di pegunungan karst Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Berau. (eko susanto/humasprov).
 
Top