Dalam banyak hal aku selalu kalah dengan keadaan, kukatakan demikian karena aku tak punya obyek lain yang patut kusalahkan selain keadaan, terdengar klise mungkin,  tapi apa peduliku dengan segala yang berlabel klise. Tidak sama sekali.
 
Kembali pada keadaan, bagiku tetap itu yang pantas kupersalahkan. Entah karena tak punya obyek lain atau karena tak punya keberanian untuk melekatkan label itu pada selainnya.
 
Bahkan saat sekelilingku memakiku sebab aku tak sesuai dengan namaku atau aku tak sebaik namaku. Aku hanya mampu mengutukki keadaan. Lagi-lagi karena hanya itu yang kubisa. Sekumuh apapun aku, masih kutahu arti durhaka. Karenanya tak pernah aku berani mempersoalkan apa lagi menyalahkan kedua orangtua, kenapa memberiku nama Terimo sawaktu memunggutku di bawah pohon bambu, 21 tahun silam, atau kenapa pola asuh dan arahanya sedemikian ekstrim? Keberanianku tak pernah muncul untuk menanyakan  itu. Sungguh.
 
Selama hidup, mereka berdua yang kupunya, setidaknya sebelum jeruji besi menjadi rumah kedua bagi mereka. Karena aksi pengroyokan terhadap seorang perwira yang berujung berpisahnya nyawa dari raga perwira tetsebut. Ada harga yang harus dibayar oleh mereka, dan jeruji adalah harga mati.
 
Dan sebab itulah  kini mereka  tak perlu lagi  hidup melenggang di jalan raya. Dulu waktu kutanya kenapa  cari masalah menghajar seorang perwira? Jawab mereka,
 
 "Ini soal harga diri dan nama." Kata mereka.
 
Mendadak aku merasa berbicara dengan orang asing waktu itu -- Aneh. 
 
"Harga diri yang mana? nama yang mana yang mereka bela? Apakah  semua kesinthingan ini pantas dibela?"  Ah ... Entahlah.
 
Dan sekarang kusimpulkan, mungkin mereka berdua sengaja meninggalkanku di jalan ini sendiri, atau bisa jadi mereka sudah bosan dengan pengembaraan aneh ini, lalu sengaja mereka mengakui bahwa mereka penghajar perwira, agar bisa mereka numpang neduh di balik jeruji,  dan mereka di dalam sana tak perlu beradu dengan pasang-pasang  mata yang selalu menelanjangi  keberadaan makhluk seperti  kami, atau tak perlu lagi mendengar irama nyinyir melihat penampilan kami, eh ... aku lupa, bukan kami! Kini hanya tinggal aku.
 
Seburuk apapun mereka, setidaknya mereka tidak  meninggalkanku begitu saja, tidak seperti orangtua kandungku 21 tahun silam, tapi mereka berdua meninggalkan bekal keahlian untukku, meskipun bekal ini kurasa semakin meracuni sel tubuhku.
 
Melenggang, menyanyi, melambai kesana kemari, menjeling manja  pada mereka yang kujumpa, mengumpul dari sereceh koin hingga selembar Presiden pertama, dari terik yang membakar hingga malam yang kelam, sekelam jiwa dalam raga yang dipaksa 'mengganda'  semakin lama keahlian ini sungguh membuatku berada pada tanya hakiki,
"Kesintingan macam apa ini?"
 
Pertanyaan itu hanya datang serupa kilat, lalu pergi tanpa menanti jawaban, mungkin juga aku tak pernah punya jawaban, atau justru tak mau menjawabnya. Entahlah.
 
Jangankan pertanyaan seberat itu, sedang pertanyaan sekitarku tentang pantas tidaknya aku bernama Trimo? Itu masih menjadi teka-teki basi bagi mereka. Trimo berarti menerima, 
 
"Menerima apa-apa yang telah ditakdirkan-Nya, termasuk nrimo siapa dirimu." Begitu kata nasehat warga. 
 
Jika benar itu arti namaku, kenapa orangtuaku justru menggiringku ke sisi yang lain? Jadi arti Trimo bagi orang tuaku pasti bukan itu, arti Trimo bukan kesitu arahnya, tidak seperti penjabaran agung pemuka kampung. Bukan itu. 
 
Untuk membicarakan nilai-nilai agung agama adalah hal VVIP bagiku, juga bagi orangtuaku. Terlebih tentang takdir, hal rumit yang jauh dari jangkauanku, mendengarkannya saja aku memerlukan beberapa waktu untuk me-nawarkannya dari otakku, otak yang telah berdebit tinggi kadar racunnya, terlampau luhur dan asing istilah itu.
 
Setelah orangtuaku  tak lagi melenggang bersamaku, ajakan untuk mengubur keaahlianku  melenggang dan melambai semakin sering aku terima. 
 
Kata mereka, "Saatnya tentukan langkahmu, kini tak ada lagi yang memaksamu dengan bertameng budi." Sejak kapan aku dipanggil Trimi? Itupun satu teka-teki. Kapan itu? Aku takmampu lagi mengingati. Yang pasti Trimi lebih cocok dengan keahlianku ini.  Jika suatu hari nanti ada daya untukku akur pada raga yang seharusnya akan kukabarkan pada kalian. Akan kuterikkan  gauungkan kemenangan, tapi setelah aku benar-benar mengerti arti sebuah kekalahan ini. Penulis : Nurhayati (Klaten Jawa Tengah)
 
Top