Oleh Nazwa Zalfa
"Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak
trauma," ungkap psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk,
kepada BBC Mundo.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa berat penderitaan
yang dialami anak-anak di Gaza. Dalam laporan BBC Indonesia berjudul "Pilu Anak-anak Gaza Mendadak Kehilangan
Kemampuan Bicara", dijelaskan bahwa trauma akibat perang telah
memengaruhi hampir seluruh anak di Gaza. Bahkan, sebagian dari mereka kehilangan
kemampuan berbicara akibat tekanan psikologis yang sangat berat.
Anak-anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang aman,
bermain bersama teman-temannya, belajar di sekolah, dan mendapatkan kasih
sayang dari keluarga. Namun, kondisi itu sangat berbeda dengan yang dialami
anak-anak di Gaza, Palestina. Mereka hidup di tengah perang, suara ledakan,
kehilangan anggota keluarga, serta ketakutan yang terus menghantui setiap hari.
Detik News dalam artikelnya pada 30 Mei 2026 menuliskan
bahwa "kekerasan, kehancuran, dan kematian di
Gaza membuat sejumlah anak merespons penderitaan yang luar biasa itu dengan
diam." Diam yang dimaksud bukan sekadar enggan berbicara,
melainkan hilangnya kemampuan berbicara akibat trauma yang mendalam.
Kondisi ini menunjukkan bahwa serangan yang terjadi di Gaza
tidak hanya menghancurkan bangunan dan menimbulkan korban jiwa, tetapi juga
merusak kesehatan mental masyarakat, terutama anak-anak. Mereka hidup dalam
ketakutan yang berkepanjangan. Banyak yang kehilangan orang tua, saudara,
rumah, bahkan masa depan yang seharusnya mereka miliki.
Trauma yang dialami anak-anak Gaza bukanlah masalah kecil.
Ketika seorang anak kehilangan kemampuan berbicara karena tekanan psikologis
yang sangat berat, hal itu menunjukkan betapa dalam luka yang mereka rasakan.
Mereka tidak hanya terluka secara fisik, tetapi juga secara mental dan
emosional.
Sayangnya, hingga saat ini dunia belum mampu menghentikan
penderitaan tersebut. Berbagai bantuan kemanusiaan memang terus dikirimkan,
tetapi serangan dan penjajahan masih berlangsung. Akibatnya, penderitaan rakyat
Palestina, khususnya anak-anak, terus berlanjut dari waktu ke waktu.
Anak-anak Gaza telah kehilangan banyak hal yang seharusnya
mereka miliki. Sebagian kehilangan keluarga, rumah, pendidikan, bahkan
kemampuan berbicara akibat trauma yang sangat berat. Kondisi ini menjadi bukti
bahwa perang dan penjajahan telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi
generasi masa depan Palestina.
Karena itu, penderitaan anak-anak Gaza tidak boleh dianggap
sebagai hal yang biasa. Mereka membutuhkan perlindungan, keamanan, dan masa
depan yang lebih baik. Dalam pandangan Islam, menghentikan kezaliman, membela
kaum tertindas, dan mewujudkan persatuan umat merupakan bagian dari upaya untuk
mengakhiri penderitaan yang terus menimpa rakyat Palestina.
Solusi Islam
Islam tidak hanya memberikan solusi sementara berupa bantuan
makanan, obat-obatan, maupun bantuan kemanusiaan lainnya. Semua itu memang
penting, tetapi belum menyelesaikan akar persoalan. Selama penjajahan dan serangan
masih berlangsung, penderitaan rakyat Palestina akan terus terjadi.
Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar, yaitu
menghilangkan sumber kezaliman yang menjadi penyebab utama penderitaan
tersebut. Dalam sejarah peradaban Islam, Khilafah berperan sebagai pelindung
umat Islam dan penjaga keamanan wilayah kaum muslim. Institusi ini memiliki
tanggung jawab untuk melindungi rakyatnya, termasuk membela kaum muslim yang
mengalami penindasan di berbagai wilayah.
Selain itu, umat Islam perlu membangun kesadaran bahwa
persatuan merupakan kekuatan yang sangat penting. Perpecahan hanya akan
melemahkan umat dan menghambat upaya untuk melindungi saudara-saudara yang
tertindas. Oleh karena itu, persatuan umat berdasarkan ajaran Islam menjadi
salah satu langkah penting dalam memperjuangkan pembebasan Palestina.
Di sisi lain, umat Islam juga harus terus memberikan
dukungan kepada rakyat Palestina melalui doa, edukasi, bantuan kemanusiaan,
serta berbagai upaya yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dukungan tersebut
menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan hanya persoalan mereka
semata, melainkan juga menjadi perhatian seluruh umat Islam.
Pada akhirnya, anak-anak Gaza berhak hidup aman, memperoleh
pendidikan yang layak, serta tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang.
Mereka tidak seharusnya kehilangan masa kecil, keluarga, ataupun suara mereka
akibat perang yang berkepanjangan. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk
menghentikan kezaliman dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Palestina
harus terus dilakukan.
Wallahualam bishawab.

No comments:
Post a Comment