Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd (Pendidik Generasi)
Setiap tahun, ribuan anak muda Indonesia memasuki perguruan tinggi dengan membawa harapan besar. Mereka ingin menjadi dokter, guru, insinyur, peneliti, atau berbagai profesi lain yang kelak berkontribusi bagi masyarakat. Akan tetapi, di tengah semangat itu, ada kenyataan pahit yang harus dihadapi, yakni biaya kuliah yang terus meningkat.
Kabar mengenai menyusutnya subsidi pendidikan tinggi dan meningkatnya angka mahasiswa putus kuliah menjadi alarm serius bagi masa depan bangsa. Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menunjukkan bahwa hingga tahun 2025 terdapat sekitar 289 ribu mahasiswa yang putus kuliah. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dan mayoritas terjadi di perguruan tinggi swasta (detik.com, 25/5/2026).
Bagi sebagian orang, putus kuliah mungkin dianggap sebagai persoalan individu. Namun sebagai pendidik generasi, saya memandangnya sebagai masalah yang jauh lebih besar. Ketika semakin banyak anak muda gagal menyelesaikan pendidikan karena faktor ekonomi, sesungguhnya bangsa ini sedang kehilangan calon-calon pemimpin, ilmuwan, pendidik, dan tenaga ahli yang sangat dibutuhkan di masa depan.
Allah Swt. berfirman:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu memiliki posisi yang sangat mulia dalam pandangan Islam. Karena itu, ketika akses terhadap pendidikan semakin sulit dijangkau, kita perlu bertanya: ada apa dengan sistem pendidikan kita hari ini?
Ketika Pendidikan Menjadi Barang Dagangan
Mahalnya biaya kuliah bukanlah persoalan yang muncul begitu saja. Ada akar masalah yang bersifat sistemik.
Pertama, berkurangnya subsidi negara terhadap pendidikan tinggi membuat banyak kampus harus mencari sumber pendanaan sendiri. Perguruan tinggi, terutama yang berstatus badan hukum maupun perguruan tinggi swasta, akhirnya sangat bergantung pada uang kuliah mahasiswa sebagai sumber pemasukan utama.
Akibatnya, biaya pendidikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Biaya pendidikan yang terus meningkat, mulai dari UKT, praktikum, hingga berbagai kebutuhan akademik lainnya, semakin memberatkan kondisi ekonomi keluarga.
Kedua, kampus semakin didorong untuk beroperasi layaknya institusi bisnis. Mereka dituntut mandiri secara finansial, mencari pemasukan sebanyak mungkin, bahkan bersaing layaknya perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa secara tidak langsung diposisikan sebagai "konsumen" yang membeli layanan pendidikan.
Inilah salah satu wajah kapitalisme dalam dunia pendidikan. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai hak dasar rakyat, melainkan komoditas yang dapat diperjualbelikan.
Ketiga, negara dalam sistem kapitalisme lebih banyak berperan sebagai regulator daripada penanggung jawab utama kesejahteraan rakyat. Akibatnya, beban pembiayaan pendidikan semakin dialihkan kepada individu dan keluarga.
Dampaknya sangat nyata. Banyak mahasiswa terpaksa bekerja berlebihan hingga mengganggu studi. Sebagian harus cuti karena tidak mampu membayar kuliah. Sebagian lainnya menyerah dan memutuskan berhenti kuliah.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya akses pendidikan yang semakin timpang, tetapi juga masa depan generasi yang terancam kehilangan kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi bagi peradaban. Pendidikan tinggi hanya akan dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Sementara anak-anak cerdas dari keluarga sederhana kehilangan kesempatan mengembangkan potensinya.
Hal yang paling mengkhawatirkan, generasi muda dapat kehilangan harapan terhadap masa depan. Mereka melihat bahwa cita-cita sering kali bukan ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh kemampuan membayar.
Pendidikan Gratis dalam Sistem Islam Kaffah
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan mendasar yang harus dijamin oleh negara. Pendidikan sejatinya bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan, melainkan proses membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan memiliki kepakaran sehingga mampu memberi kontribusi nyata bagi kemajuan umat dan peradaban. Karena itu, pendidikan tidak boleh dikomersialkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Berbeda dengan sistem kapitalisme yang menjadikan negara sebatas regulator, Islam mewajibkan negara hadir secara nyata sebagai pengurus dan penanggung jawab kesejahteraan rakyat. Negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas bagi seluruh warga negara tanpa membebani mereka dengan biaya yang memberatkan.
Pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi diselenggarakan secara gratis.
Negara menyediakan sarana, prasarana, tenaga pendidik, laboratorium, perpustakaan. Begitu juga kebutuhan riset melalui pembiayaan dari Baitul Mal yang memiliki berbagai sumber pemasukan syar'i.
Dengan mekanisme ini, tidak ada anak yang gagal kuliah hanya karena tidak memiliki uang.
Bahkan lembaga pendidikan swasta tetap dapat berdiri dan berkembang melalui sistem wakaf yang kuat. Dengan demikian, pendidikan tetap berkualitas tanpa harus menjadikan mahasiswa sebagai sumber keuntungan. Lebih dari itu, kurikulum dalam Islam diarahkan untuk membentuk syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) sekaligus menghasilkan para pakar yang mampu memimpin kemajuan peradaban.
Sebagai pendidik generasi, saya meyakini bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana negara memperlakukan pendidikan hari ini. Jika pendidikan terus diposisikan sebagai komoditas, maka putus kuliah akan terus meningkat dan potensi generasi akan banyak terbuang sia-sia.
Sudah saatnya pendidikan dikembalikan kepada fungsi hakikinya: sebagai hak setiap warga negara dan sarana membangun peradaban. Hal itu hanya dapat terwujud ketika pengelolaan pendidikan berpijak pada sistem Islam kaffah yang menjadikan pelayanan kepada rakyat sebagai amanah, bukan ladang bisnis.
Karena sejatinya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang mampu menjual pendidikan dengan mahal, tetapi bangsa yang mampu membuka pintu ilmu seluas-luasnya bagi seluruh generasinya.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment