Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Era Baru Sastra: Kecerdasan Buatan (AI) Transformasikan Seni Puisi di Ruang Digital (Dr. Andria C. Tamsin, M.Pd )

Tuesday, June 09, 2026 | Tuesday, June 09, 2026 WIB

Nusantaranews.net, Bukittinggi  – Perkembangan teknologi digital dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah memicu transformasi besar dalam dunia sastra, khususnya seni puisi. Dalam sebuah seminar bertemakan “100 Years of Jam Gadang – From Literacy to Legacy: Building Wealth, Peace, and Sustainability Learning” di Bukittinggi. Sabtu, (6/6). Dr. Andria C. Tamsin, M.Pd., memaparkan bahwa kehadiran AI tidak lagi sekadar alat bantu teknis, melainkan telah mengubah pola penciptaan, distribusi, hingga cara masyarakat mengapresiasi karya sastra di ruang siber


Kolaborasi manusia dan mesin dalam menulis puisi menurut Doktor Ilmu Keguruan Bahasa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang tersebut, penulisan puisi kini mengalami pergeseran dari kegiatan personal menjadi proses kolaboratif antara penyair dan teknologi AI. Dengan sistem pemrosesan bahasa alami, AI mampu membantu penyair dalam mencari tema, diksi, metafora, hingga menyusun struktur rima yang kompleks


Meski AI dapat menghasilkan teks secara otonom, keterlibatan mseniman tetap krusial untuk menjaga kedalaman emosional dan nilai kemanusiaan yang tidak dimiliki mesin. Pergeseran ke Platform Visual dan Audio Tradisi membaca puisi pun kini melampaui batas panggung fisik. Platform seperti YouTube, TikTok, Instagram Live, dan podcast menjadi ruang baru bagi para penyair untuk menjangkau audiens global tanpa sekat geografis


Fenomena video puisi yang menggabungkan teks, musik, dan elemen sinematik kini menjadi tren baru yang sangat diminati generasi digital. Teknologi AI bahkan turut berperan dalam proses penyuntingan video hingga sinkronisasi suara digital yang semakin natural


Apresiasi Modern: Like, Share, dan Komentar Di era media sosial, bentuk penghargaan terhadap karya sastra telah berubah. Fitur "Like" dan "Share" kini dianggap sebagai bentuk apresiasi modern yang menentukan popularitas seorang penyair serta penyebaran karyanya melalui algoritma digital


Selain itu, kolom komentar telah bertransformasi menjadi ruang kritik sastra yang inklusif dan demokratis, memungkinkan dialog langsung antara pencipta dan pembaca dari berbagai latar belakang


Namun, kemajuan ini bukan tanpa hambatan. Dr. Andria C. Tamsin, M.Pd menyoroti tantangan terkait autentisitas karya, dominasi algoritma, serta tekanan kapitalisme digital yang terkadang lebih mengutamakan konten viral daripada kedalaman estetika


Seniman dituntut untuk memiliki pemahaman kritis terhadap pola media digital agar tetap bisa menjaga kualitas karya di tengah arus informasi yang cepat


Sebagai penutup, Dr. Andria C. Tamsin menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman bagi eksistensi penyair, melainkan alat yang memperluas batas kreativitas. 


"Puisi adalah karya sastra yang lahir dari intuisi, sesuatu yg muncul karena pengalaman, pengetahuan, mperasaan yang diungkapkan secara serta merta oleh penyair. Hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh AI. Keterlibatan AI dalam puisi bisa jadi sebagai penyeimbang antara inovasi teknologi dengan nilai nilai kehidupan yg ada dalam puisi", tegasnya.


Dr. Andria C. Tamsin, M.Pd berpesan, masa depan puisi akan sangat bergantung pada bagaimana para seniman mampu memanfaatkan teknologi ini secara etis dan kreatif untuk memperkuat partisipasi budaya di ruang digital.


"AI jangan dijadikan ancaman bagi puisi, tapi sebagai alat yang mampu membuka lebih banyak kemungkinan kreatif. Ke depan, puisi sangat tergantung pada bagaimana penyair memanfaatkan teknologi secara kritis, kreatif dan etis hingga puisinya dipahami dan dirasakan lebih intens oleh pembaca", tutupnya. (R. Sitepu)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update