Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak-Anak di Gaza Tak Mampu Bicara Akibat Trauma

Friday, June 26, 2026 | Friday, June 26, 2026 WIB

 


Oleh Sumiyah Umi Hanifah

Pemerhati Kebijakan Publik dan Member AMK

Usia kanak-kanak merupakan fase yang paling krusial. Kehidupan anak-anak biasa dipenuhi dengan aktivitas bermain, belajar dan bergembira bersama dengan orang-orang tercinta. Dunia anak adalah dunia eksplorasi, tumbuh kembang dan menata masa depan. Namun ternyata tidak demikian dengan kehidupan anak-anak di Gaza. Mereka hidup dengan memeluk rasa takut. Menarik dan mengembuskan napas di bawah desingan peluru, ledakan bom, serta berbagai krisis kemanusiaan ekstrem lainnya, seperti: kemiskinan struktural, kelaparan, penyakit, serta trauma psikologis yang mendalam.

Dikutip dari detik.com, Sabtu, 31/5/2026, menyebutkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza, seperti: kekerasan, kehancuran, dan pembantaian yang dilakukan di depan mata anak-anak, membuat mereka merespon penderitaan luar biasa itu dengan "diam". Bahkan sebagian anak-anak sampai tidak lagi memiliki kemampuan berbicara akibat trauma.

Katrin Glatz Brubakk, seorang psikotropis anak dari Norwegia mengatakan kepada BBC Mundo, "Tidak ada satupun anak di Gaza yang tidak mengalami trauma. Saat ini sudah lebih dari satu juta anak yang menderita trauma parah." ungkap relawan yang telah dua kali melakukan misi kemanusiaan ke Gaza tersebut.

Kondisi di Gaza selalu mencekam. Meskipun telah enam bulan pengumuman catatan senjata, namun faktanya, tindakan kekerasan dan serangan-serangan dari pihak Israel masih terus berlanjut. Warga Gaza terus menjadi sasaran empuk penyerangan dan pembunuhan oleh zionis 1sr4el. Menurut data dari UNICEF, sejak Oktober 2023, pasukan 1sr4el dilaporkan telah membunuh 20 ribu anak dan melukai lebih dari 41 ribu orang.

Bagaimana mungkin anak-anak di Gaza, Palestina tidak mengalami trauma psikologis yang berat? sementara mereka telah kehilangan orang tua, saudara, teman, guru, serta orang-orang tercinta yang dibantai dengan cara biadab. Bahkan, anak-anak di Gaza sering melihat tubuh-tubuh yang hancur, terpotong-potong, serta mencium amisnya darah yang tertumpah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Glatz.

 

Belum lagi mereka juga mengalami krisis pangan dan gizi, sehingga berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi. Hancurnya infrastruktur sanitasi oleh zionis memicu terjadinya penyebaran berbagai penyakit. Anak-anak rentan terserang infeksi serta penyakit kulit, akibat kurangnya pasokan obat-obatan dan air bersih.

Faktanya, berbagai bantuan kemanusiaan berupa: obat-obatan, peralatan medis, vitamin, dan makanan, banyak yang diblokade oleh 1sr4el di wilayah perbatasan, sehingga bantuan tersebut tidak bisa masuk ke Gaza.

Hal yang sama dialami oleh kapal Global Sumut Flotilla. Baru-baru ini, armada sipil kemanusiaan yang membawa para aktivis, relawan, dan juga bantuan peralatan medis, serta makanan untuk warga Gaza diadang oleh zionis. Bahkan dengan arogannya pasukan 1sr4el melakukan penangkapan, penyiksaan, serta pemerkosaan terhadap para aktivis. 1sr4el telah berulang kali melakukan pelanggaran hukum internasional, namun selalu lolos dari jerat hukum. Sebab, pasukan 1sr4el disinyalir berlindung di bawah ketiak Amerika Serikat.

Itulah watak asli Zionis 1srael, yang selalu membuat kerusakan di muka bumi. Bahkan, anak-anak Gaza yang tak berdosa pun tidak luput dari target pembunuhan, penyiksaan fisik dan psikis.

Sementara masyarakat dunia di luar sana hanya diam membisu. Para pemimpin negeri-negeri Muslim hanya sibuk mengecam, tanpa melakukan tindakan tegas untuk membebaskan rakyat Palestina dan mengusir Israel. Para penguasa Muslim secara tidak langsung telah melakukan penghianatan terhadap perjuangan Muslim Palestina. Beberapa penguasa Muslim justru turut bergabung dalam Board of peace (BoP) yang diinisiasi oleh Trump. Mereka tidak sadar telah terjebak ke dalam instrumen politik yang dimainkan oleh presiden AS tersebut.

Masyarakat dunia pun makin hari makin abai. Berita-berita di berbagai media massa mulai sepi dari pemberitaan yang terkait dengan nasib rakyat Palestina.

Padahal, malam-malam yang dingin masih memeluk dan mencengkram tubuh-tubuh mungil di Gaza. Tubuh-tubuh yang menggigil hebat karena menahan rasa lapar dan sakit. Tubuh letih yang tercabik luka, bermandikan airmata, dan trauma. Sayangnya, derita sunyi anak-anak Gaza ini hanya menjadi cerita basi yang mudah terlupakan.

 

Umat Islam saat ini dalam kondisi terpecah-belah. Sekat nasionalisme yang diciptakan oleh kaum kafir Barat, telah menghancurkan ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan) kaum Muslimin. Tanpa persatuan, umat tak lagi punya kekuatan, sehingga mudah ditindas dan menjadi bahan olok-olokan musuh-musuh Islam. Kaum Muslimin kini telah kehilangan "junnah" (perisai/pelindung) yaitu khilafah. 

Derita dan trauma anak-anak Palestina harus segera diakhiri. Bukan hanya diterapi atau direhabilitasi, melainkan dicari solusi hakiki, agar sang penjajah Israel segera angkat kaki. Wilayah Palestina harus dibebaskan dari tangan dan kaki kotor kaum zionis yang telah merampas Tanah Palestina, Tanah Suci negeri Para Nabi.

Kejahatan entitas zionis hanya bisa dilawan dengan tindakan tegas dan gagah berani yaitu dengan "jihad fii Sabilillah". Sebagaimana firman Allah Swt., "Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (T.Q.S. Al Baqarah ayat 190).

Oleh karena itu,  dibutuhkan satu institusi "khilafah" yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina dan juga Negeri-Negeri Muslim lainnya. Hanya Khilafah yang mampu menyatukan umat Muslim di seluruh dunia.

Umat harus memiliki kesadaran akan pentingnya mengupayakan tegaknya Khilafah. Kewajiban menegakkan Khilafah didasarkan pada kesepakatan ulama, dan "ijma' sahabat" serta sesuai dengan penafsiran nash (Al-Qur'an dan hadis), yakni mengenai urgensi kepemimpinan Islam untuk menerapkan hukum syariat dan mengurus kemaslahatan umat. Sebab, tanpa adanya khilafah, akan banyak kewajiban-kewajiban dan syariat Islam yang tidak bisa diterapkan.

Pendapat ulama ahlussunnah wal jamaah dan mazhab besar, menyepakati bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) adalah wajib. Dalilnya dalam ilmu Ushul fiqih, yaitu "Suatu kewajiban tidak menjadi sempurna tanpanya, maka sesuatu itu menjadi wajib pula".

Dalam Islam, menegakkan hukum-hukum Allah memerlukan institusi atau kekuasaan (imamah) agar dapat terlaksana kewajiban-kewajiban syariat, seperti: hukuman rajam bagi pezina muhshan, potong tangan bagi 'pencuri', hukum qishas bagi kasus pembunuhan, dll.

Dengan demikian keberadaan khilafah sangat urgen untuk mencegah kekacauan (anarki), menegakkan keadilan, dan menjaga muruah umat, termasuk untuk menyelamatkan anak-anak Gaza dari kezaliman 1sr4el.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update