Oleh. Bunda Ammylia
Agresi yang terus dilakukan entitas Zionis terhadap Palestina menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Palestina belum akan berakhir dalam waktu dekat. Meskipun berbagai upaya gencatan senjata dilakukan, serangan ke Gaza terus berlanjut. Di saat yang sama, pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat terus diperluas sehingga semakin mempersempit wilayah Palestina. Bahkan berbagai tindakan provokatif di kawasan Masjid Al-Aqsa menunjukkan adanya upaya memperkuat dominasi Zionis atas tanah yang diberkahi tersebut.
Fakta ini menguatkan pandangan bahwa penjajahan Palestina bukan sekadar konflik perbatasan, melainkan bagian dari ambisi ekspansionis yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Demi mewujudkan ambisinya, entitas Zionis tidak segan melakukan penghancuran, pengusiran, blokade, dan berbagai tindakan yang telah menimbulkan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Yang lebih memprihatinkan, dunia internasional terbukti gagal menghentikan kejahatan tersebut. Berbagai resolusi dan kecaman tidak mampu menghentikan agresi. Sementara itu, negeri-negeri Muslim yang jumlahnya puluhan justru masih terpecah oleh sekat nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing. Akibatnya, Palestina terus berjuang sendirian menghadapi penjajahan yang semakin brutal.
Padahal Al-Aqsa bukan hanya milik rakyat Palestina, tetapi merupakan salah satu tanah suci umat Islam. Allah SWT berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya." (QS. Al-Isra': 1)
Karena itu, pembelaan terhadap Palestina dan Al-Aqsa bukan hanya persoalan kemanusiaan, tetapi juga bagian dari kewajiban umat Islam dalam menjaga kehormatan negeri-negeri kaum Muslim.
Solusi Ideologi Islam
Islam memandang bahwa akar kelemahan umat saat ini adalah tercerai-berainya kaum Muslim dalam banyak negara dan kepemimpinan yang berbeda. Padahal Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dalam satu ikatan akidah, bukan dipisahkan oleh batas-batas nasionalisme.
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
"Berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103)
Ideologi Islam menawarkan solusi berupa persatuan umat di atas akidah Islam dan penerapan syariat secara menyeluruh dalam kehidupan. Dengan persatuan tersebut, umat memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang mampu melindungi kaum Muslim serta menjaga tanah-tanah suci dari penjajahan.
Selain itu, Islam mewajibkan para pemimpin untuk menjadi pelindung rakyat dan menjaga wilayah kaum Muslim dari setiap ancaman. Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan kembali kepada ideologi Islam, menerapkan syariat Allah secara kaffah, dan mewujudkan persatuan umat, kaum Muslim akan memiliki kekuatan untuk menghentikan penjajahan, membela Palestina, serta menjaga kemuliaan Masjid Al-Aqsa. Sebab kemenangan sejati hanya akan diraih ketika umat berpegang teguh kepada agama Allah dan menjadikan Islam sebagai landasan perjuangannya serta tegaknya kepemimpinan Islam seperti metode kenabian.
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian." (QS. Muhammad: 7).

No comments:
Post a Comment