Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dehumanisasi Palestina, Dimana Peran Kaum Muslimin?

Saturday, May 23, 2026 | Saturday, May 23, 2026 WIB Last Updated 2026-05-23T12:29:37Z



Oleh Wanti Ummu Abror

Pendidik Generasi

Dehumanisasi terhadap warga Palestina oleh Zionis sudah melewati batas. Para pemukim ekstremis Israel telah memaksa warga Palestina untuk menggali kembali kuburan seorang pria di tanah Palestina di Tepi Barat bagian utara. Warga dipaksa untuk memindahkan jenazah tersebut ke lokasi lain dengan alasan kuburan itu terlalu dekat dengan pemukiman Israel. 

Dehumanisasi bukan lagi soal perang, tapi soal mencabut status manusia dari sebuah bangsa. Yang hidup dibunuh dan yang mati pun tidak dibiarkan tenang. Di Jenin, keluarga Palestina dipaksa menggali kembali jenazah ayah mereka sendiri karena pemukim Israel mengklaim tanah kuburan itu milik pemukiman. Kuburan dirusak, jenazah dipindah paksa, dengan tentara berdiri di sampingnya. (Sindonews, Minggu 10/05/2026)

Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 72 ribu orang tewas dan 172 ribu luka-luka di Gaza. Lebih dari 300 jurnalis gugur, membuat Gaza jadi tempat paling mematikan untuk pers. Anak-anak kehilangan kaki dan tangan karena bom. Ekspansi permukiman terus berjalan, gencatan senjata dilanggar berkali-kali. Ini bukan insiden melainkan suatu pola. Bahasa “manusia binatang”, penggalian kuburan paksa, pemboman rumah sakit, semua bertujuan satu yaitu membuat dunia melihat warga Palestina sebagai sesuatu yang boleh dilenyapkan.

Akar masalahnya jelas adanya entitas kolonial di atas tanah milik Palestina. Selama entitas itu ada, pendudukan dan kekerasan akan terus berulang. Ironisnya, lebih dari 50 negeri Muslim masih diam. Nasionalisme dan kepentingan politik mengikis ukhuwah Islamiyah. Padahal dalam Islam, darah, harta, dan kehormatan umat dijaga. Membiarkan Al-Aqsa dan rakyatnya ditindas adalah pengkhianatan terhadap persaudaraan itu sendiri.

Derita Palestina niscaya akan terus berlangsung selama Zionis tetap eksis, baik diakui maupun tidak oleh dunia. Demi memperoleh keuntungan dunia yang begitu kecil, yaitu kekuasaan, dukungan politik, ekonomi, dan keamanan dari AS, para penguasa muslim itu rela mengkhianati saudaranya di Palestina. Darah umat Islam yang membanjiri Gaza, juga tangis anak-anak yang kehilangan keluarga dan masa depannya, tidak mampu membuka hati mereka untuk membebaskan Palestina. 

Membiarkan Zionis tetap eksis di sana artinya melangengkan penderitaan rakyat Palestina. Semua negara muslim pura-pura lupa bahwa entitas Zionis adalah ahlinya melanggar perjanjian dan kesepakatan. Mereka juga adalah kaum yang gemar membunuh, jangankan terhadap muslim, terhadap nabinya saja mereka tidak segan untuk membunuh. Puluhan resolusi PBB yang sudah mereka langgar merupakan bukti nyata bahwa mereka tidak mengenal bahasa diplomasi dan hanya mengenal bahasa perang.

Berbagai tawaran penyelesaian yang ditawarkan oleh sistem kapitalis yang dipimpin AS hanya akan memosisikan Palestina ke dalam jurang penderitaan yang lebih dalam. Kecaman, kutukan dan bantuan kemanusiaan tak cukup untuk membebaskan Palestina. Karena tidak bisa dipungkiri selama umat masih menerapkan sistem kapitalisme sekuler dan terikat pada nasionalisme warisan penjajah, mereka tidak akan pernah benar-benar bersatu, dan jihad pun tidak akan digerakkan.

Maka, umat Islam harus melepaskan ikatan nasionalisme yang sejatinya sebagai senjata pemikiran yang ampuh, beracun serta mematikan dari kafir penjajah dalam menikam dada dan tubuh umat Islam, untuk memecah-belah, menghancurkan persatuan dan persaudaraan umat Islam menjadi berkeping-keping. Serta menjauhkan Islam dari benak umat Islam, sehingga umat Islam hanya tersibukkan dengan urusan bangsanya sendiri, hingga mereka tidak peduli dengan nasib saudara-saudara sesama muslimnya yang sedang ditindas, dijajah dan dibunuh secara massal seperti di Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya. 

Untuk itu diperlukan kesadaran dan persatuan umat muslim untuk meruntuhkan dinding tebal sekat-sekat nasionalisme biang petaka Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya. Umat harus menyadari bahwa penjajahan hanya bisa dihentikan dengan persatuan umat dalam satu kepemimpinan global, menyeru semua muslim di seluruh dunia dengan seruan yang sama, menuntut penguasa muslim melaksanakan kewajiban menolong Palestina dengan melaksanakan jihad dan menegakkan agama Allah.

Pelopor itu adalah jamaah dakwah ideologis yang menyerukan jihad dan tegaknya institusi penerap syariah sebagai agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam hari ini. Menghentikan pendudukan dan genosida terhadap Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada pemiliknya, sekaligus me-riayah warganya agar bisa hidup mulia adalah agenda mendesak bagi kaum muslimin saat ini.

Para pengemban dakwah harus terus bergerak dengan mengerahkan seluruh kemampuannya agar persatuan umat terwujud dan berjuang bersama agar persoalan umat termasuk Palestina segera terselesaikan dan kehidupan Islam dapat dilangsungkan kembali. 

Jihad dalam komando kepemimpinan Islam adalah solusi persoalan dehumanisasi dan segala bentuk kezaliman. Kepemimpinan ini akan menjadi benteng utama umat Islam sekaligus mahkota kewajiban (tajul furudh) yang harus ada. Sehingga kewajiban-kewajiban hukum syariah bisa dilaksanakan dengan sempurna, termasuk kewajiban menolong Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya yang tengah ditindas dan dijajah serta dibunuh secara massal oleh para penjajah kafir penjajah.

Dehumanisasi (tindakan merendahkan atau menghilangkan nilai kemanusiaan seseorang) adalah hal yang sangat dilarang dan bertentangan dengan ajaran Islam. Karena Islam memandang manusia sebagai makhluk yang wajib dijaga kehormatan, harta, darah, akal, dan akidahnya (al maqashid asy syariah). Maka hanya Islam dan pelaksana syariatnya (khalifah) yang mampu mengembalikan kemuliaan umat secara hakiki sebagaimana firman Allah Swt,

"...barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya..." [TQS. Al-Maidah: 32]

Wallahu ‘alam bi ashawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update