Oleh. Nanih Nurjanah
(Komunitas Muslimah Coblong)
Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seharusnya menjadi ajang selebrasi atas pencapaian intelektual bangsa. Namun, realitas di lapangan justru menyuguhkan potret yang kian kelam. Kasus pengeroyokan tragis yang menimpa Ilham Dwi Saputra (16), seorang pelajar di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menjadi bukti nyata betapa brutalnya kekerasan yang melibatkan generasi muda saat ini.
Ilham mengembuskan napas terakhir di rumah sakit setelah mengalami penyiksaan yang sangat keji dan tidak manusiawi. Laporan dari Jogja Police Watch (JPW) mengungkapkan bahwa pengeroyokan ini diduga telah direncanakan dengan rapi. Korban dijemput dari rumahnya, dibawa ke berbagai lokasi, hingga berakhir di Lapangan Gadung Mlaten. Di sanalah Ilham disiksa menggunakan berbagai benda tumpul, disundut rokok, hingga digilas dengan sepeda motor berkali-kali. Meski Polres Bantul telah menangkap dua pelaku (BLP, 18 tahun dan YP, 21 tahun) serta memburu lima lainnya, insiden ini menyisakan luka mendalam bagi dunia pendidikan kita.
Kegagalan Pendidikan Karakter dalam Sistem Sekuler
Tragedi di Bantul hanyalah satu dari sekian banyak alarm keras yang berbunyi. Seiring waktu, peringatan Hardiknas terasa kian hambar karena fakta menunjukkan dunia pendidikan kita sedang mengalami degradasi serius. Ruang sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi tempat aman, kini justru dihantui oleh aksi perundungan (bullying), pelecehan seksual, hingga penyalahgunaan narkoba yang kian masif.
Tak hanya kekerasan fisik, moralitas akademik pun kian luruh. Maraknya joki ujian, budaya plagiarisme, hingga perilaku tidak sopan murid terhadap guru menjadi pemandangan umum. Pelajar saat ini tampak lebih berani melakukan tindakan kriminal, mulai dari judi online, pinjol, hingga perilaku menyimpang lainnya.
Fenomena ini membuktikan adanya kegagalan sistemik dalam peta jalan pendidikan kita. Pendidikan saat ini terjebak dalam paradigma sekuler-kapitalistik yang hanya fokus pada transfer ilmu pengetahuan dan kompetensi pasar, namun mengabaikan fondasi adab dan moral. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual tetapi mengalami krisis kepribadian—pribadi yang liberal, pragmatis, dan menghalalkan segala cara demi kepuasan instan.
Lemahnya Sanksi dan Hilangnya Peran Agama
Masalah kian pelik ketika negara cenderung memberikan toleransi berlebih terhadap pelaku kriminal di bawah umur dengan dalih "kenakalan remaja". Sanksi yang longgar tidak memberikan efek jera, sehingga kekerasan serupa terus berulang.
Lebih jauh lagi, pemisahan agama dari kehidupan dalam sistem sekuler membuat nilai-nilai ketuhanan hanya menjadi pelengkap kurikulum, bukan fondasi perilaku. Tanpa bimbingan spiritual yang utuh, kebebasan berekspresi pelajar bergeser menjadi kebebasan tanpa batas yang mengikis kepribadian dan menyeret mereka pada kemaksiatan.
Visi Islam: Membangun Generasi Cemerlang
Islam memandang pendidikan sebagai instrumen utama pembangunan peradaban. Dalam sistem Islam, pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan sinergi antara negara, lingkungan, dan keluarga yang berpijak pada akidah.
Pembentukan Syakhshiyah Islamiyah: Pendidikan Islam fokus membentuk kepribadian yang utuh, di mana pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) pelajar senantiasa selaras dengan nilai-nilai ketakwaan.
Sanksi yang Tegas: Islam menerapkan sistem sanksi yang adil namun tegas. Status sebagai pelajar tidak menjadi alasan untuk memaklumi tindakan kriminal, sehingga setiap individu menyadari tanggung jawab atas perbuatannya.
Lingkungan yang Kondusif: Negara bertanggung jawab membangun atmosfer kehidupan yang penuh ketakwaan, menutup celah kemaksiatan seperti pornografi dan narkoba, serta mendorong setiap warga negara untuk berlomba dalam kebaikan.
Hardiknas tahun ini seharusnya menjadi titik balik untuk melakukan perombakan besar. Sudah saatnya kita beralih dari sistem pendidikan yang rapuh menuju sistem Islam yang komprehensif. Hanya dengan landasan syariat, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bertakwa, beradab, dan menjadi cahaya bagi peradaban masa depan.
Wallahu a'lam bishawab.
No comments:
Post a Comment