Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pertumbuhan Ekonomi dan Ilusi Kesejahteraan

Tuesday, May 12, 2026 | Tuesday, May 12, 2026 WIB Last Updated 2026-05-12T09:52:26Z

 



Oleh: Khodijah Ummu Hannan 


Dilansir dari BPS.com, (5/5/2026), ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,61%, di semester 1 tahun 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga yang kuat serta  adanya peningkatan investasi. Angka ini tentu sangat menggembirakan, tetapi kenyataan di lapangan tidak seindah itu.  


Mengungkap Fakta 


Besar pasak dari pada tiang. Peribahasa ini sangat pas dengan kondisi masyarakat saat ini, mengingat terus meroketnya harga bahan pokok, seperti yang terjadi di pasar Panam, Pekanbaru. Kenaikan harga sebagian bahan pokok disebabkan karena kelangkaan BBM  (Riaupos.com, 5/5/2026).


Selain itu, angka penggangguran meskipun mengalami penurunan, namun tetap masih menyentuh angka 7,24 juta orang (instagram  BPS, 5/5/2026). Diperparah dengan adanya PHK, menurut Kementerian Ketenagakerjaan jumlah PHK pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai 10.000 pekerja. Angka ini diprediksi akan terus bertambah (kontan.co.id, 8/5/2026). Sedangkan jumlah penduduk miskin mencapai 23,36 juta orang (8,25%) (instagram BPS, 5/2/2026).


Apakah ini yang dikatakan dengan pertumbuhan ekonomi? Mengapa  masih  banyak rakyat harus menahan lapar? Secara angka mungkin ya, negeri ini mengalami pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, bukan berarti menunjukkan kesejahteraan rakyatnya. Sebab angka itu didapat dari total seluruh aktivitas ekonomi nasional atau PDB (Produk Domestik Bruto). Artinya hanya menunjukkan angka ekonomi secara umum, bukan perkeluarga.


Lalu siapa yang mendapatkan keuntungan besar? Ya, sudah pasti para pengusaha dan pemilik modal. Sedangkan rakyat kecil hanya sebagai objek pertumbuhan ekonomi saja dan konsumen dari produk yang diproduksi oleh pengusaha.


Akar Masalah Ekonomi Terpuruk


Segala fakta di atas merupakan ciri dari negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Mereka hanya fokus pada pertumbuhan angka ekonomi tanpa peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya.


Sebagai ibu rumah tangga, saya tidak peduli dengan angka persentase, yang saya inginkan bagaimana kebutuhan keluarga dapat terpenuhi dengan layak, pendidikan murah, dengan kata lain kami ingin hidup sejahtera.


Kesejahteraan dalam genggaman hanya utopis, ketika negeri ini masih bertahan dalam sistem kapitalisme dengan sistem ekonomi kapitalisnya. Sistem yang hanya mengejar kenaikan  angka ekonomi, produksi meningkat, investasi bertambah dan konsumsi meninggi tanpa memerhatikan distribusi. Dengan terus mengedepankan kepentingan para pengusaha.


Mirisnya, saat ini banyak keluarga bertahan dengan utang, cicilan, paylater. Jadi konsumsi naik bukan karena mampu, tetapi mereka terpaksa mencari cara untuk memenuhi kebutuhan. Inilah bukti bahwa ekonomi rakyat sangatlah rapuh dan jauh dari tumbuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa  kesejahteraan belum dirasakan secara merata.


Lalu apakah kita akan terus bertahan dengan sistem yang telah gagal ini? Mari kita menjadi ibu rumah tangga yang peduli terhadap negeri ini. Dengan terus berusaha mencari solusi dari permasalahan ini.


Kembali pada Sistem Sempurna


Islam sebagai agama dan ideologi sesungguhnya sudah memiliki seperangkat aturan yang komprehensif untuk seluruh permasalahan manusia, termasuk ekonomi Islam punya aturan. Dalam Islam, ekonomi  tidak hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi. Tetapi kepastian terjaminnya kebutuhan pokok setiap individu rakyat. 


Maka dari itu, pemimpin Islam akan melayani rakyatnya dengan sepenuh hati dari dorongan ketakwaan. Sebab, Rasulullah telah bersabda "Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat maka Ia, akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya” (HR . Bukhori Muslim).


Sejarah telah menorehkannya bagaimana Khalifah Umar bin Khattab memanggul gandum pada malam hari, ketika mendengar ada rakyatnya yang kelaparan. Ini bukti bahwa dalam Islam pemimpin adalah pelayan umat, dan pemenuhan kebutuhan umat lebih utama dibanding angka.


Islam juga telah mewajibkan laki-laki untuk mencari nafkah (Q.S. al- Baqarah: 233 dan an-Nissa: 34). Supaya sempurna terlaksana syariat itu, negara akan membuka lapangan pekerjaan dan memberikan pèlatihan agar kaum laki-laki memiliki keahlian.

Selain itu, Islam juga mengatur kepemilikan seperti sabda Rasul “Manusia berserikat dalam tiga hal: air, api dan padang rumput" (HR Abu Dawud). Artinya Islam dengan tegas melarang individu/perusahaan untuk menguasai 3 hal tersebut, karena itu milik rakyat. Ketika pun dikelola harus oleh negara dan keuntungan dikembalikan untuk kepentingan rakyat.


Allah Swt telah berfirman dalam surat Al-Hasyr: 7 yang artinya: “Agar harta itu tidak beredar di antara orang- orang kaya saja di antaramu". Ini menunjukkan bahwa harta itu harus didistribusikan dengan rata, tidak seperti saat ini kekayaan hanya dimiliki oleh segelintir pengusaha. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menjadi ibu yang paham Islam agar tidak terus dizalimi. Hal yang utama adalah kembali melirik kepada sistem Islam sebagai solusi yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan secara nyata.

Wallahualam a'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update