Oleh Dra. Rahma
Aktivis Muslimah
Agresi militer Amerika Serikat (AS) bersama entitas Yahudi terhadap Iran telah menjadikan Timur Tengah berada dalam eskalasi perang. Arogansi dan ambisi Donald Trumplah yang ada di balik perang ini. Trump tidak sekadar ingin mempertahankan Iran dalam orbit pengaruhnya. Yakni sebagai negara satelit yang patuh secara tidak langsung kepada AS, melainkan berambisi mengubah Iran menjadi negara pengikut sepenuhnya (follower state).
Terkait hal tersebut ada sejumlah hal yang perlu menjadi catatan kritis. Pertama, demi mencapai target politiknya yang penuh arogansi itu, Trump telah melakukan berbagai strategi keji. Mulai dari serangan militer kilat, tekanan psikologis melalui berbagai ancaman, hingga pembunuhan terhadap jajaran pemimpin tinggi Iran. Trump melancarkan operasi militer dengan target melumpuhkan pucuk pimpinan Iran, termasuk Ali Khamenei. Harapannya hal tersebut akan menyebabkan sistem pemerintahan Iran runtuh dari dalam.
Amerika berspekulasi bahwa setelah kematian para pemimpin itu, tokoh-tokoh pragmatis di dalam sistem Iran akan muncul dan menyerah demi mengakhiri perang. Mirip dengan pola yang mereka harapkan terjadi dalam krisis politik di ja Venezuela. Namun, kalkulasi AS dan sekutunya entitas Yahudi itu terbukti keliru. Kegagalan intelijen dan strategi AS terlihat ketika Garda Revolusi Iran (IRGC) justru mampu menguasai dan membalik keadaan.
Kedua, perang ini telah membuka mitos kekuatan Amerika yang tidak terkalahkan. Faktanya, alih-alih runtuh, Iran justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Pasca kematian Ali Khamenei, secara cepat politisi Iran menunjuk Mujtaba sebagai pemimpin baru. Sehingga Iran mampu melanjutkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone terhadap basis-basis AS di Teluk serta wilayah entitas Yahudi.
Serangan Iran berdampak nyata terhadap infrastruktur militer AS. Serangan rudal dan drone telah merusak sejumlah fasilitas penting. Termasuk sistem radar dan pesawat militer di berbagai pangkalan AS di kawasan Teluk. Senjata yang digunakan Iran antara lain rudal balistik jarak pendek dan menengah serta drone seperti Shahed-136. Senjata Iran itu mampu menembus sistem pertahanan udara dan menyerang target strategis AS secara presisi (The Times: "Iran war damage to US bases.", 1/4/25).
Trump berusaha keras agar tidak terlihat mengalami kekalahan. Sehingga ia terus meluncurkan berbagai proposal diplomatik. Di antaranya adalah proposal 15 poin Trump yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Iran. Pada proposal tersebut Trump secara arogan meng-ultimatum pembongkaran total fasilitas nuklir di Natanz, Isfahan, dan Fordo, serta penyerahan kontrol atas Selat Hormuz. Keberanian Iran menolak itu semakin menjatuhkan Trump dengan segala arogansinya.
Ketiga, fakta yang sangat menyakitkan bagi setiap Muslim, serangan AS terhadap Iran itu dilancarkan dari pangkalan militer
AS yang ada di negara-negara Arab. Khususnya di Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Irak, dan lainnya. Pangkalan-pangkalan ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas logistik, tetapi juga sebagai pusat komando dan operasi tempur.
Misalnya, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar merupakan basis terbesar Amerika di kawasan dan menjadi pusat operasi Komando Pusat AS (CENTCOM). Selain itu, terdapat Prince Sultan Air Base di Arab Saudi, Al Dhafra Air Base di Uni Emirat Arab, serta Al-Asad Airbase di Irak yang berperan strategis dalam operasi militer Amerika (Reuters: "U.S. Military Facilities in the Middle East.").
Pangkalan-pangkalan tersebut digunakan AS untuk mendukung operasi udara dan sistem pertahanan rudal. Sistem seperti Patriot (MIM-104) dan THAAD ditempatkan di beberapa lokasi untuk menghadapi ancaman rudal balistik Iran. Amerika juga menggunakan persenjataan ofensif seperti bom bunker-buster GBU-57 Massive Ordnance Penetrator yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran. Inilah realitas perpecahan negeri-negeri Muslim (nation-state) di Timur Tengah yang dimanfaatkan oleh AS dengan menancapkan imperialismenya.
Satu fakta yang tidak terbantahkan, bahwa Amerika yang selama ini dianggap sebagai negara terkuat militernya di dunia ternyata babak-belur melawan Iran. Karenanya, andai negeri-negeri Muslim itu bersatu (Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Iran, dan lainnya) tentu dengan sangat mudah untuk menghancurkan arogansi AS dan entitas Yahudi. Pada konteks inilah keberadaan institusi politik global Khilafah Islamiyah itu menjadi realitas kebutuhan yang mendesak. Sebab melalui institusi Khilafah itulah penyatuan negeri-negeri Muslim akan bisa diwujudkan. Wallâhu a'lam bi ash-shawâb.

No comments:
Post a Comment