Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Aktivis Muslimah
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 lalu seharusnya menjadi momentum refleksi tentang arah masa depan bangsa. Namun, alih-alih merayakan kemajuan, publik justru disuguhi realitas pahit yang menyisakan kecemasan mendalam. Di tengah ambisi mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, dunia pendidikan justru tampak sedang berjalan di tempat—jika tidak ingin disebut sedang mundur ke belakang.
Realitas di lapangan menunjukkan kontras yang menyakitkan. Melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025, kebijakan efisiensi anggaran telah memangkas belanja negara hingga ratusan triliun rupiah. Dampaknya? Sektor pendidikan kian terhimpit. Ruang fiskal yang semakin sempit akibat program-program mercusuar membuat infrastruktur sekolah di berbagai daerah terbengkalai. Ruang kelas rusak dan fasilitas dasar yang minim menjadi pemandangan lazim yang mencerminkan ketimpangan sistemik.
Nasib guru honorer pun tak kalah tragis. Sebagai garda terdepan, banyak dari mereka masih menerima upah di bawah standar kelayakan hidup. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kualitas pengajaran yang prima jika kesejahteraan pengajarnya saja terabaikan?
Lebih jauh lagi, arah pendidikan tinggi kini mulai bergeser menjadi sekadar "pabrik tenaga kerja". Wacana penutupan program studi yang tidak terserap industri menunjukkan bahwa pendidikan telah direduksi menjadi komoditas pasar. Padahal, esensi pendidikan adalah pembentukan manusia yang beradab dan bertakwa, bukan sekadar baut-baut kecil dalam mesin kapitalisme.
Krisis Moral, Alarm Keruntuhan Bangsa
Tanpa landasan yang kokoh, "Generasi Emas" hanya akan menjadi ilusi. Meningkatnya kasus perundungan, kekerasan seksual, hingga degradasi moral di lingkungan lembaga pendidikan—termasuk perguruan tinggi—adalah alarm keras bagi kita semua. Pendidikan saat ini seolah kehilangan ruhnya dalam membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.
Paradigma Islam, Ilmu sebagai Jalan Kemuliaan
Islam hadir menawarkan solusi fundamental. Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar transfer informasi atau persiapan kerja, melainkan sebuah kewajiban ibadah.
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim." (HR Ibnu Majah)
Islam meletakkan tiga pilar utama dalam membangun keunggulan pendidikan:
1. Pembentukan Syakhshiyyah Islaamiyyah (Kepribadian Islam)
Fokus utama pendidikan adalah membentuk pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang bersumber dari akidah Islam. Tujuannya agar lahir manusia yang sadar akan hakikat penciptaannya, yakni menjadi hamba Allah yang taat (QS adz-Dzariyat [51]: 56).
2. Memuliakan Pendidik
Dalam Islam, guru adalah profesi yang paling dimuliakan. Negara wajib menjamin kesejahteraan guru secara total agar mereka dapat fokus mendidik generasi.
3. Negara sebagai Pelayan (Raa’in)
Pemimpin wajib menyediakan infrastruktur pendidikan terbaik secara merata. Sejarah mencatat keagungan Baitul Hikmah yang didukung penuh oleh negara (Khilafah), yang menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia di saat Eropa masih dalam kegelapan.
Belajar dari Sejarah, Islam sebagai "Dinamo" Peradaban
Keunggulan pendidikan Islam bukanlah klaim kosong. Sejarawan Montgomery Watt mengakui bahwa peradaban Eropa tidak akan lahir tanpa dukungan peradaban Islam sebagai "dinamo"-nya. Bahkan, mantan Presiden AS Barack Obama pernah mengakui bahwa peradaban Barat berutang besar pada Islam yang telah mengusung lentera ilmu selama berabad-abad.
Ketika Islam diterapkan secara kaffah, ilmu pengetahuan tidak dipisahkan dari iman. Dari rahim sistem ini, lahir ulama yang juga saintis, seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Biruni. Mereka membangun peradaban bukan untuk menjajah, melainkan untuk membawa rahmat bagi seluruh alam.
Jalan Menuju Negara Adidaya
Membangun peradaban emas tidak bisa dilakukan dengan sistem pendidikan yang pragmatis-sekuler. Jika Indonesia benar-benar ingin menjadi negara adidaya yang maju, mandiri, dan berwibawa di mata global, maka tak ada jalan lain kecuali kembali pada Sistem Pendidikan Islam.
Hanya dengan landasan akidah Islam dan dukungan institusi politik yang berpihak pada umat, kita dapat melahirkan generasi yang kritis, kreatif, inovatif, dan berakhlak mulia. Inilah jalan kunci untuk keluar dari ketergantungan teknologi dan dominasi peradaban Barat yang dekaden.
Wallaahu a’lam bi ash-shawaab.

No comments:
Post a Comment