Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mata Uang Rupiah Melemah Perekonomian Semakin Terpuruk

Sunday, May 31, 2026 | Sunday, May 31, 2026 WIB

 


Oleh Ari Wiwin

Ibu Rumah Tangga

Nilai tukar rupiah semakin melemah bahkan tembus ke Rp17.483 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (13-5-2026). Ini tentunya akan menambah tekanan bagi pelaku usaha (UMKM) terutama pengusaha yang bergantung pada bahan baku impor. Menurut Ketua Kadin Kabupaten Bandung Boni Anggara, akibat dari kondisi kurs rupiah yang semakin hari semakin melemah tentu berdampak pada mahalnya bahan baku dan tekanan geopolitik global dalam dunia usaha. Boni mengatakan dengan cara membeli produk lokal dan masyarakat tidak bergantung pada produk impor membuat rupiah semakin menguat. Juga dengan cara menjaga pasar domestik dan cinta produksi dalam negeri, meskipun dolar naik pelaku usaha dan UMKM akan tetap bertahan. (TribunJabar, 19/5/2026)

Terkait melemahnya rupiah terhadap dolar, ada spekulasi yang mengatakan kemerosotan nilai tukar rupiah adalah akibat dari dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Irak. Namun ini ditepis oleh para pakar ekonomi, justru ini karena suku bunga tinggi yang diberlakukan oleh Bank Sentral AS. Sebetulnya melemahnya nilai tukar rupiah bukanlah pertama kalinya terjadi. Seharusnya ini menjadi evaluasi para pemangku kebijakan. Pemerintah seharusnya mencari solusi dan mengupayakan agar terlepas dari masalah ini, bukan juga dengan selalu membeli produk lokal karena ini tidak menjadi solusi dari permasalahan.

Pemicu lain naiknya nilai tukar mata uang tidak lepas dari tingginya suku bunga dan inflasi global. Terjadinya inflasi adalah ketika mata uang yang beredar di tengah msyarakat lebih banyak daripada peredaran barang atau komoditas. Jika negara ingin menurunkan inflasi maka harus ada penarikan mata uang yang beredar di masyarakat.

Selanjutnya untuk menarik mata uang tersebut maka Bank Sentral akan menaikkan suku bunga agar masyarakat tertarik untuk menyetorkan uangnya ke pihak bank.

Pada saat ini dolar AS masih menjadi standar nilai mata uang dunia, sehingga negara-negara yang mengikuti mata uang dolar, akan ikut terkena imbasnya termasuk Indonesia karena menjalin hubungan dengan AS dalam bidang ekonomi dan politik. Dampaknya bagi masyarakat akan "dipaksa" menerimanya dengan lapang dada. Rakyat kecil semakin terpuruk karena bahan-bahan pangan mahal, BBM juga naik karena masih mengimpor dari luar negeri, tentunya pembelian dengan standar dolar, dan berimbas pada UMKM yang akan sulit berkembang bahkan akan megalami collapse.

Sejatinya pasang surut nilai mata uang kertas tidak hanya disebabkan hubungan kerja sama denga AS, namun ada faktor lain yang disebabkan oleh sistem mata uang kertas atau fiat money yang rapuh. Gejolak nilai rupiah tidak bisa dihindari dalam sistem ekonomi kapitalisme. Pasar bebas yang menjadi basis ekonomi kapitalisme membuat pemilik modal besar bisa bebas memproduksi barang dengan harga murah dan dipasarkan ke seluruh dunia.

Alhasil konsumen akan memilih produk impor yang kualitasnya bagus dengan harga murah daripada produk lokal yang lebih mahal. Negara dalam sistem kapitalisme hanya berfungsi sebagai regulator. Para penguasa dan pebisnis besar tidak bisa melindungi UMKM. Namun, rakyat harus tetap 'dipaksa' bertahan, "harus sehat di negara yang tidak sehat' karena keadaan ekonomi yang pas-pasan, gaji yang tidak naik dan lain- lain.

Hal itu sangat jauh berbeda dengan Islam. Agama ini datang sebagai solusi yang hakiki yang berasal dari zat Yang Maha Sempurna, Allah Swt. Sistem Islam (Khilafah) akan memberlakukan mata uang berbasis emas dan perak sebagai standar untuk melakukan transaksi. Karena emas dan perak tidak terpengaruh oleh gejolak nilai tukar. Dalam perdagangan luar negeri sepenuhnya dalam kontrol negara, sehingga barang-barang impor tidak mudah masuk dan nerugikan pengusaha lokal termasuk UMKM.

Negara menciptakan suasana pasar yang sehat, sehingga pengusaha bisa bersaing memasarkan produknya di dalam negeri dengan persaingan yang sehat. Rasulullah saw. juga pernah bersabda :Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (emas) dan dirham (perak).' (HR. Imam Ahmad)

Menurut hadis di atas dinar dan dirham akan kembali digunakan manusia sebagai mata uang. Kemudian akan mengeluarkan manusia dari kegelapan atau masa jahiliyah (pada masa sekarang manusia mengunakan uang kertas), kembali kepada jalan yang terang (yakni sistem Islam).

Dalam sistem Islam, mata uang emas (dinar) dan perak (dirham) menjadi alat tukar karena memiliki fungsi stabilitas keuangan, menjaga kurs pertukaran mata uang negara yang bersifat tetap. Negara juga sangat berhati-hati dalam mengeluarkan mata uang kertas sebab setiap mata uang yang dicetak harus memiliki jaminan emas dan perak yang tersimpan.

Khalifah juga melarang hutang dan riba, karena akan melemahkan mata uang disamping berdosa juga, negara juga tidak mengimpor barang dari luar negri lebih baik menguatkan stabilitas ekonomi dalam negri agar terbentuk kemandirian pangan sehingga tidak terpengaruh mata uanag asing seperti dolar. Khilafah di bawah naungan Islam akan menjadi negara adidaya yang kuat ekonomi dan politiknya yang akan ditakuti kafir Barat.

Peristiwa melemahnya rupiah ini, seharusnya menyadarkan manusia bahwasanya menerapkan aturan Islam adalah hal yang mendesak dan harus segera diwujudkan agar stabilitas ekonomi dan kesejahteraan umat terwujud.

Wallahu a'lam bi as shawab. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update