Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

LARA DI UJUNG TAKDIR

Friday, May 22, 2026 | Friday, May 22, 2026 WIB Last Updated 2026-05-22T04:52:27Z

Puisi

‘’Merajut Kasih yang Fana’’

Di atas altar harapan, jemariku menari pelan,

Menyambung benang-benang rindu yang kukira kencana.

Aku lupa bahwa waktu adalah pemangsa paling tenang,

Dan aku hanya sedang menyulam luka di atas kain yang fana.

Kini rajutan itu terurai, menyisakan hampa di jemari yang menggigil.

 

Si Penawar yang Menjadi Racun’’

Dulu, hadirmu adalah sejuk di tengah dahaga yang membakar,

Setiap kata adalah obat bagi bilur-bilur di jiwaku.

Namun perlahan, madu itu berubah menjadi empedu yang liar,

Kau menyembuhkanku hanya untuk menghancurkanku lebih baru.

Ternyata, penawar paling mujarab adalah racun yang paling mematikan.

 

’’Air Mata Darah’’’

Tak ada lagi bening yang jatuh dari pelupuk mata,

Hanya merah yang mengalir, membawa perih yang tak terkata.

Setiap tetesnya adalah teriakan tentang pengkhianatanmu,

Tentang tawa yang kau tukar dengan duka yang membatu.

Bumi pun gemetar menerima tangis yang teramat luka ini.

 

‘’’’. Harsa yang Kau Hancurkan’’

Dulu,  harsa adalah definisi dari namamu,

Sebuah istana cahaya yang kubangun dengan pondasi percaya.

Namun kau datang membawa badai tanpa peringatan dahulu,

Meruntuhkan segalanya hingga tak bersisa satu pun bata.

Kini di reruntuhannya, aku belajar mengeja sunyi tanpa sapa.

 

‘’’’Jiwa yang Kau Bawa Pergi’’’

Raga ini masih bernapas, namun detaknya terasa asing,

Sebab separuh nyawaku telah kau selipkan di kantung bajumu.

Kau pulang ke tanah jauh, membawa kepingan pribadiku yang pening,

Meninggalkan aku sebagai cangkang kosong yang kehilangan arah tuju.

Kau pergi tanpa pamit, membawa seluruh duniaku dalam diammu.

 

Penulis

Imah Yulati Sefiani

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update