Oleh: Suryani
Bisnis.com, JAKARTA – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyiapkan enam tuntutan utama menjelang aksi unjuk rasa peringatan hari buruh yang akan digelar pada 1 mei 2026. Aksi ini di sebut sebagai bentuk penyampaian aspirasi buruh yang di jamin konstitusi, sekaligus penegasan bahwa sejumlah persoalan ketenagakerjaan belum terselesaikan.
Tempo.com – presiden konfederasi serikat pekerja indonesia (KSPI) said Iqbal mengatakan sekitar 50 ribu buruh akan menggelar aksi memperingati hari buruh internasional atau may day pada 1 mei 2026. Aksi may day 2026 akan di ikuti oleh anggota KSPI bersama organisasi inisiator partai buruh, dengan jumlah peserta mencapai ratusan ribu buruh di seluruh indonesia, tersebar di 38 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota.
Rempo.com – selain lazim di peringatan hari buruh internasional, may day atau mayday juga untuk merujuk ke kondisi kritis seperti di kedaruratan penerbangan.
Analisis:
Hari buruh di indonesia telah bergeser dari sekedar seremoni tahunan menjadi alarm keras di balik riuh aksi massa terdapat narasi mendesak mengenai nasib pekerja saat ini di mana bisa di katakan berada dalam status darurat pertolongan. Bukan tanpa sebab meskipun angka pertumbuhan ekonomi sering di pamerkan, realita di kanton buruh berkata lain. Inflasi pada sektor pangan dan energi seringkali melampaui persentase kenaikan upah minimum.
Regulasi terbaru yaitu PP No. 51 Tahun 2023 di anggap banyak pihak masih membelenggu kenaikan upah yang signifikan karena variabel pembatas yang ketat. Buruh bukan hanya produsen, tetapi juga konsumen terbesar. Jika upah tertahan, roda ekonomi domestik justru terancam melambat.
Negara masih kurang tanggap dalam menghadapi transisi digital. Dimana munculnya seperti ojek online dan kurir menciptakan kelas pekerja bru yang tidak memiliki status buruh secara legal melainkan mitra dan perlu di ketahui bahwasannya status mitra ini menghilangkan kewajiban perusahaan untuk memberikan jaminan kesehatan, upah minimum, dan pesangon, sementara beban kerja di kendalikan penuh oleh algoritma inilah darurat pertolongan yang nyata bagi jutaan orang.
Sejauh ini, negara seringkali hanya memposisikan diri sebagai wasit yang pasif atau bahkan condong pada kepentingan modal demi kestabilan ekonomi makro. Seharusnya pada hari buruh tersebut menjadi wadah untuk menyuarakan hati buruh di mana negara harus hadir dengan kebijakan yang dapat menyeimbangkan ketimpangan kekuasaan antara modal dan tenaga kerja. Tanpa tangan negara yang kuat dan adil maka perayaan may day hanya akan menjadi pengingat tahunan akan janji-janji kesejahteraan yang tak kunjung di rasakan.
Dalam kerangka ekonomi politik, sistem kapitalis memiliki pengaruh fundamental terhadap kondisi darurat yang di alami buruh. Kapitalisme bekerja dengan logika akumulasi, modal yang seringkali berbenturan langsung dengan kepentingan kesejahteraan pekerja.
Dalam sistem kapitalis tenaga kerja di perlakukan sebagai komoditas. harganya di tentukan oleh hukum pemerintahan dan penawaran di pasar. Dampaknya, negara cenderung menjaga upah tetap rendah agar harga tenaga kerja kompetitif di mata investor global. Hal inilah yang memicu kebijakan upah murah yang sulit mengejar laju inflasi.
Pengaruh kapitalisme mengubah hubungan industrial menjadi arena yang tidak seimbang. Di satu sisi, modal menuntut efisiensi dan pertumbuhan tanpa batas, sementara disisi lain, buruh menanggung beban dari efisiensi tersebut dalam bentuk ketidakpastian kerja.
Kontruksi islam:
Untuk menekan sistem sekuler kapitalistik sejatinya kita butuh penegakkan sistem islam, dalam pandangan islam perlindungan terhadap generasi merupakan bagian dari tujuan di syariat kan nya hukum islam, khususnya dalam aspek menjaga jiwa dan menjaga akal.
Kontruksi islam memandang darurat pertolongan bagi buruh terjadi karena hilangnya ruh kemanusiaan dalam sistem ekonomi. islam menuntut tangan negara hadir bukan hanya sebagai wasit administrasi, tetapi sebagai penjamin bahwa tidak ada satupun pekerja yang terhina martabatnya atau terabaikan hak hidupnya demi pertumbuhan angka-angka ekonomi semata.
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment