Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hardiknas, Di Tengah Carut Marut Dunia Pendidikan

Saturday, May 09, 2026 | Saturday, May 09, 2026 WIB Last Updated 2026-05-09T09:41:50Z

 


Oleh : Nur inayah


Miris dan menyesakkan dada melihat berbagai berita hari ini yang datang dari dunia pendidikan. Pasalnya, banyak berita tentang pelajar yang menjadi korban kekerasan, baik kekerasan verbal, fisik, bahkan hingga merenggut nyawa. Mirisnya lagi, pelakunya pun tidak jarang merupakan pelajar juga. Seperti kasus terbaru terjadi di Bantul, seorang pelajar berusia 16 tahun menjadi korban pengeroyokan di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul. Korban sempat dirawat di rumah sakit, namun akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat luka yang dideritanya. Polisi telah menangkap beberapa pelaku, sementara lainnya masih dalam pengejaran.


Kasus kekerasan yang melibatkan peserta didik bukan terjadi kali ini saja. Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), terdapat 233 kasus kekerasan yang terjadi dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Fakta tersebut harusnya menjadi alarm keras dalam Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei ini, yang menuntut semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi carut-marutnya potret pendidikan saat ini, bukan malah hanya menjadi sekadar seremonial tahunan saja.


Tak dapat dipungkiri, ada berbagai faktor yang membuat kekerasan di dunia pendidikan kita masif terjadi, mulai dari lingkungan keluarga yang kurang mendukung, pengaruh pergaulan dan teman sebaya, konten media sosial dan digital, budaya kekerasan yang dinormalisasi, sanksi yang tidak tegas bagi pelaku, bahkan juga faktor kurikulum dan kebijakan yang diberlakukan di negeri ini.


Seperti yang kita ketahui, kurikulum pendidikan yang diterapkan tidak berasaskan kepada aspek agama (sekular), sehingga wajar jika output pendidikan pun menghasilkan generasi yang jauh dari aspek ketakwaan dan hanya memperhatikan prestasi akademik sebagai target keberhasilan, itupun berdasarkan pada angka atau huruf saja, yang tentunya tidak menjamin berpengaruh terhadap terbentuknya karakter atau kepribadian yang baik. Adapun nilai-nilai agama kerap hanya dipahami sebatas teori, bukan sebagai pedoman dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari. Hal ini dapat menyebabkan lemahnya kontrol diri, menurunnya rasa empati, serta munculnya perilaku menyimpang, termasuk berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Inilah buah dari penerapan sistem pendidikan sekuler, yang terintegrasi dalam penerapan sistem sekuler kapitalis di negeri ini. 


Agar kondisi tersebut tidak berlarut-larut, harus ada upaya yang sistemik juga dalam menyelesaikan masalah ini secara tuntas, yakni dengan mencari alternatif sistem hidup yang layak dalam melahirkan generasi berkualitas, melalui sistem pendidikannya yang sahih, yang terintegrasi dalam sistem yang sahih juga, yaitu sistem yang berasal dari Sang Pencipta, itulah sistem Islam. Sebagai agama yang berasal dari Zat Yang Maha Sempurna, Islam memiliki aturan yang sempurna dan paripurna dalam mengatur kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Di dalam islam, pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara, karena merupakan kebutuhan dasar bagi rakyat. Dengan asas akidah Islam, sistem pendidikan Islam bertujuan untuk melahirkan individu yang bersyaksiyah islamiyah (berkepribadian Islam).


Dalam mencapai hal tersebut, Islam melibatkan berbagai elemen pendidikan generasi, dimulai dari rumah (keluarga). Melalui pendidikan orang tuanya, Islam menempatkan ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak, dan bapak sebagai pemimpin keluarga, dengan penanaman dan penguatan akidah, serta ketaatan kepada Allah, sebagai beka awal dalam membentuk anak shalih- shalihah.


Hal ini diperkuat dengan adanya lingkungan masyarakat yang kondusif, termasuk sekolah, yang sinergis dengan keluarga dalam membentuk generasi shalih-shalihah. Maka Islam sebagai sebuah sistem hidup yang diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, melalui mekanisme sistem pendidikannya akan menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan yang merupakan cerminan dari akidah Islam, mulai dari kurikulumnyw, para pendidiknya yang kapabel, gedung- gedung sekolah dengan berbagai fasilitas nya, seperti perpustakaan, masjid, asrama, laboratorium, dan sebagainya yang menunjang pendidikan anak didik. Sehingga bukan hanya unggul dalam hal ilmu agama dan tsaqofah, tapi juga maju dalam sains dan teknologi.


Maka kita dapat membaca dalam sejarah kaum muslimin yang telah mencatat kegemilangan pendidikan, berupa lahirnya para pemuda yang hebat ketika Islam diterapkan secara komprehensif (kaffah), sebagai sistem hidup oleh sebuah institusi negara. Pada masa kepemimpinan Bani Abbasiyah misalnya ada Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern, penulis Canon of Medicine, Al-Khawarizmi sebagai Bapak Aljabar dan Matematika, penemu pendekatan sistematis persamaan linear dan kuadrat, Jabir Ibnu Hayyan sebagai Ahli kimia Islam yang meletakkan dasar eksperimen ilmiah, Ibnu Al-Haitham (Alhazen) sebagai Bapak optik modern, ahli fisika dan astronomi, Ibnu Firnas sebagai Pionir penerbangan yang pertama kali melakukan uji coba terbang, dan masih banyak lagi. 


Begitu pun lahir para Ulama Hadis (Muhadditsin) seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim (penyusun kitab Kutubussittah yang paling valid), Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam An-Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah. Ulama Fikih (Fuqaha), seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali. Ulama Tafsir (Mufassir) seperti Imam Ibnu Jarir At-Thabari, yang terkenal dengan Tafsir at-Thabari, dan lain-lain. Selain itu, peradaban Islam berhasil juga mencetak para pemuda pemimpin, seperti Shalahuddin Al Ayyubi hingga Muhammad Al Fatih yang ketika berusia 25 tahun sudah mampu menaklukkan Konstantinopel di Romawi Timur yang mewujudkan sabda Rasulullah saw tentang penaklukan tersebut.


Melalui bukti sejarah tersebut telah memastikan bahwa hanya dengan penerapan Islam secara komprehensif (kaffah) oleh sebuah negara, termasuk penerapan sistem pendidikan Islam, yang akan mampu mewujudkan individu- individu yang kepribadian Islam, yakni berpola pikir dan berpola sikapnya Islam, yang tujuan hidupnya semata untuk mencapai keridhoan Allah SWT. Para pemuda seperti ini lah yang akan menegakkan peradaban Islam yang gemilang yang kita cita- citakan sebagai kaum muslimin, yaitu terwujudnya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Firman Allah SWT dalamAl Qur'an surat Al Anbiya;107, yang artinya:

" Tidaklah Kami utus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam..."

WaLahua'lam bish shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update