Oleh : Nasywa Sofi (Aktivis Mahasiswa)
Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) yang jatuh setiap tanggal 2 Mei seharusnya menjadi refleksi bagi dunia pendidikan kita. Mirisnya, fakta hari ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Kasus penganiayaan dan kekerasan saat ini kian marak di lingkungan sekolah. Salah satunya, pengeroyokan yang dialami seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul. Meskipun sempat dirawat, namun akhirnya Dwi meninggal di Rumah Sakit. (kumparannews.com, 21/4/2026).
Selain itu, terungkapnya masalah joki dan kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Teks (UTBK-SNBT) yang baru ini terlaksana, juga mencederai dunia pendidikan. Praktik perjokian ditemukan di lokasi Pusat UTBK Universitas Sulawesi Barat. Peserta tes mengganti kehadirannya dengan orang lain. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026 Eduart Wolok menyampaikan temuan yang mengungkap bahwa peserta tes mengganti kehadirannya dengan orang lain. (Temponews.com, 21/4/2026).
Pelecehan seksual, peredaran narkoba, bullying, yang terjadi didalam lingkungan pendidikan yang hingga saat ini masih terjadi secara berulang-ulang, juga menunjukkan bahwa pendidikan saat ini tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai penghasil generasi yang beradab, lantas apa yang salah dengan pendidikan kita saat ini?
Momen Hardiknas dalam bulan Pendidikan nasional tiap tahunnya harus menjadi pecutan kuat bagi dunia Pendidikan kita untuk berbenah diri. Apakah kita ingin generasi penerus bangsa diisi oleh orang-orang yang di masa ia mengeyam pendidikannya berlaku curang? Atau mereka yang bakal menempati posisi-posisi yang menentukan nasib negara adalah orang yang dulunya memiliki rekam jejak seorang penganiaya? Tentu tidak. Tetapi, inilah konsekuensi dari penerapan sistem Kapitalisme sekuler. Dalam sistem kapitalisme, orientasi dari pendudikan adalah materi. Sehingga, pendidikan dipandang sebagai jalan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Sistem sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan membuat mereka tidak lagi memperhatikan batas-batas halal haram dalam mencapai tujuannya.
Berbeda halnya bila negara menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan. Dalam Islam, Pendidikan itu juga memiliki andil dalam kehidupan. Pendidikan adalah salah atu pilar yang krusial dalam membentuk pribadi yang cerdas dan bertakwa. Di dalam Islam, Pendidikan tidak hanya didasarkan pada moral dan etika, tapi juga pembentukan karakter yang menjdikan seorang pelajar memiliki keselarasan dalam pola pikir dan cara mereka bersikap. Selain itu, dalam islam juga jelas terdapat sanksi tegas bagi mereka yang melanggar aturan. Di sisi lain, negara yang menerapkan aturan Islam akan lebih mudah memberikan suasana yang produktif yang mendorong tiap individu dan masyarakat untuk mengejar kebaikan. Dengan adanya pembentukan suasana ini, ditambah dengan lingkungan, serta keluarga yang juga mendidik, maka pembentukkan generasi mendatang yang tentunya cerdas dan bertakwa akan terjamin. Terbukti, Islam pada masa kejayaannya telah mencetak ilmuwan-ilmuwan terpercaya di berbagai bidang, seperti Al Khawarizmi, Ibnu Sina, dll.
Oleh karena itu, melalui moment Hardiknas ini harus kita pahami bahwa masalah pendidikan bukan kesalahan dari salah satu pihak saja, tapi berakar dari penerapan sistem sekuler kapitalisme. Pendidikan yang berkualitas hanya bisa dihasilkan dari sistem Islam, sebuah sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT.
Wallahu’alambishawab.

No comments:
Post a Comment