Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Lebih dari sebulan setelah seorang pelajar tewas akibat pembacokan di Jalan Lingkar Dramaga, Kabupaten Bogor, polisi menetapkan seorang pelajar berusia 16 tahun sebagai tersangka. Kasus yang sempat dianggap bagian dari aksi tawuran antarpelajar itu kini diungkap sebagai penganiayaan yang berujung kematian korban, PS (16). Tersangka berinisial RA (16), seorang pelajar asal Desa Neglasari, Kecamatan Dramaga. Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik Polsek Dramaga merampungkan rangkaian penyelidikan atas peristiwa yang terjadi pada 17 April 2026.
Masih di bulan yang beriringan, siswa SMP di Bandar Lampung Tusuk Temannya, Bahaya Luka ”Bullying” pada Anak-anak. Tragis.
Dua peristiwa pembunuhan di atas dilakukan pelajar yang notabene sedang mengenyam pendidikan di negeri ini. Pertanyaannya, sekriminal itukah pelajar saat ini?
Sekulerisme Sampah Pangkal Masalah
Sungguh, sekulerisme liberal telah menjadikan kebebasan sebagai nilai utama kehidupan. Pelajar didorong untuk merasa bahwa mereka berhak menentukan apa pun yang ingin dilakukan. Konsep kebebasan ini akhirnya mendorong perilaku menantang aturan, termasuk membunuh. Jika ada solusi yang ditetapkan negara, sistem sekuler liberal sebagai solusi yang dipilih tidak menyentuh akar persoalan.
Generasi rapuh yang cenderung mudah menyerah, alias tidak memiliki ketahanan ideologis dalam menghadapi problem kehidupan, membunuh dianggap solutif selesaikan persoalan. Dendam, kesal, marah dll. dianggap mampu tuntaskan masalah yang dihadapi.
Fenomena di atas telah menunjukkan ada problem yang menyelimuti bangsa ini yang tidak saling berdiri sendiri tetapi menjadi problem sistemis yang solusinya juga harus sistemis, dan harus segera diatasi. Bukankah akan sulit bagi bangsa ini untuk bisa meraih visi Indonesia Emas 2045 yang terus pemerintah gaung-gaungkan, sedangkan kondisi generasi mudanya sudah semalas ini. Mampukah kita membiarkan generasi kian rusak dengan gaya seperti ini?
Generasi Terbaik, Islam Jawaban Pasti
Dimungkiri atau tidak, saat ini sistem yang mendewakan kebebasan dan menjadikan kebahagiaan berdasarkan capaian materi masih saja diminati. Terlahirnya individu-individu yang ketakwaannya lemah, masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebaikan, asing dengan tradisi amar makruf nahi mungkar telah mewarnai pola hidup masyarakat. Ditambah lagi abainya negara sebagai pengurus dan penjaga umat, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat, kian mengentalkan kerusakan demi kerusakan generasi.
Sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal dalam berbagai aspek kehidupan sebagai akar utama, juga penerapan sistem-sistem lainnya, seperti sistem politik demokrasi yang oportunistis yang membuat negara mudah dikangkangi kepentingan asing dan kekuatan uang, juga sistem pendidikan sekularistik yang memaksa lembaga pendidikan hanya fokus melayani kepentingan industri, seperti mencetak mesin tenaga kerja yang minus dari ketinggian akhlak dan moral, serta sistem hukum yang mandul dalam mengatasi berbagai pelanggaran di tengah masyarakat, termasuk merebaknya kriminalitas remaja, kian hancurkan generasi.
Dalam sistem sekuler kapitalis ini pun, keberadaan sistem informasi dan kemediamassaan juga aktif merusak kepribadian Islam para anggota masyarakatnya, bahkan sekaligus berhasil meruntuhkan pertahanan keluarga dan masyarakatnya sebagai benteng terakhir bagi umat. Media informasi telah gagal menguatkan performa “negara Islam sebagai perisai umat” karena fungsi media kini tidak lebih sebagai alat propaganda pemikiran dan budaya asing yang bertentangan dengan aturan-aturan Islam. Propaganda ini masif dilancarkan demi melemahkan mental dan ketakwaan umat Islam (ghazwu al-fikr) hingga hegemoni sistem kapitalisme global sebagai wujud lain penjajahan Barat atas dunia Islam bisa terus dipertahankan.
Dalam Islam, negara adalah support system terbaik bagi terwujudnya generasi terbaik. Dengan jalan menerapkan seluruh hukum Islam generasi dibangun menjadi pelopor kebangkitan bukan kebangkrutan. Dengan hukum Islam yang sejatinya diturunkan oleh Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Sempurna sebagai jalan kebahagiaan, meriliskan generasi yang selamat dan tangguh bukan hanya di dunia tetapi juga akhirat.
Hukum-hukum Islam sebagai solusi seluruh problem kehidupan, jika diterapkan akan mampu menjaga fitrah kebaikan yang ada pada manusia dari zaman ke zaman. Akal, naluri, jiwa, harta, dan kehormatan, semua dijaga oleh aturan-aturan Islam. Seluruh qimah (nilai) perbuatan yang manusia inginkan, dijamin bisa mewujud selaras dengan penerapan seluruh aturan-aturan Islam. Tentunya penerapan seluruh aturan Islam tidak bisa dilakukan oleh Negara berkhidmat pada sistem buatan manusia, namun bisa dan hanya bisa dilakukan oleh negara yang berparadigma Islam atau tegak di atas akidah Islam, bukan negara sekuler yang justru alergi dengan ajaran Islam.
Dalam islam membina generasi adalah kewajiban keluarga,masyarakat dan negara. Islam menanamkan aqidah Islam sebagai pondasi dalam berfikir dan bersikap.
Islam pun menekankan pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah) sehingga pendidikan dalam Islam tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat.
Dalam Islam pelajar dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, tanggung jawab, dan kehormatan diri. Negara dalam sistem Islam berperan aktif dalam menjaga moral generasi. Negara tidak hanya mengurus aspek administratif pendidikan, tetapi memastikan kurikulum, lingkungan sosial, dan media mendukung terbentuknya generasi yang bersyakhsiyah Islamiyah.
Tidak kalah penting, Islam juga menumbuhkan lingkungan masyarakat yang saling menjaga. Menjaga dalam kebaikan, juga amar makruf nahi munkar.
Sudah saatnya umat berjuang agar kerusakan demi kerusakan ini segera berakhir. Tegaknya sistem Islam yang akan memfungsikan diri sebagai pengurus dan penjaga umat sudah sangat urgen.
Sistem yang dicerminkan kebaikannya dalam sistem Khilafah yang kedatangannya di akhir zaman sudah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya, tetapi diperintahkan untuk diperjuangkan, sudah tidak bisa dilalaikan.
Oleh karena itu kesungguhan, keseriusan, kesabaran, sinergi kuat dari berbagai komponen umat, harus diupayakan karena musuh tentu tidak akan pernah rela kekuasaan yang ada di genggamannya terlepas begitu saja.
Perlawanan sepadan terhadap mereka yang akan mengerahkan segala daya, termasuk melibatkan para anteknya untuk menghalangi perjuangan penegakkan Khilafah, butuh direalisasikan. Bukankah ujung perjuangan dalam kemenangan ini sudah sangat dirindu? Bukankah kita sangat yakin dengann sabda Rasulullah
ﷺ, ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ “
...Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Baihaqi, Abu Dawud, dll.)
Sungguh, ketika bisyarah terwujud, generasi Islam akan benar-benar meraih predikat sebaik-baik umat yang dilahirkan di antara manusia, yaitu sebagai pemimpin terbaik pada masa peradaban cemerlang yang sebentar lagi datang. Bukan lagi generasi pecundang yang menghalalkan segala cara untuk penuhi seluruh keinginannya.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment