Oleh: Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim
Derita rakyat Gaza belum juga berakhir. Setelah ribuan bom dijatuhkan, infrastruktur dihancurkan, dan blokade diperketat, kini kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan pun disita di perairan internasional. Ratusan aktivis ditangkap dan sejumlah lainnya terluka hanya karena mencoba mengirimkan bantuan kepada warga sipil yang kelaparan dan terisolasi.
Tindakan ini kembali menunjukkan bahwa entitas Zionis tidak mengenal batas dalam mempertahankan blokade atas Gaza. Bahkan hukum laut internasional pun dilanggar tanpa rasa takut. Ironisnya, dunia internasional yang selama ini lantang berbicara tentang HAM dan demokrasi justru tampak lemah menghadapi agresi yang terus berlangsung.
Lebih menyakitkan lagi, setiap bentuk solidaritas terhadap Palestina kerap diberi label negatif dan dicurigai sebagai bagian dari “terorisme”. Narasi semacam ini terus digunakan untuk membungkam dukungan terhadap rakyat Palestina, padahal yang terjadi di Gaza adalah tragedi kemanusiaan nyata di depan mata dunia.
Data dari berbagai lembaga internasional menunjukkan ribuan warga sipil menjadi korban. Puluhan ribu nyawa melayang, ratusan ribu terluka, dan sebagian besar infrastruktur sipil hancur. Bahkan para jurnalis yang berusaha menyampaikan fakta di lapangan pun turut menjadi sasaran. Semua ini memperlihatkan bahwa Gaza bukan sekadar konflik biasa, melainkan luka kemanusiaan yang sangat dalam.
Di tengah tragedi tersebut, umat Islam di berbagai negeri memang terus menunjukkan solidaritas. Aksi bantuan, doa, penggalangan dana, dan demonstrasi terus dilakukan. Namun pertanyaan besarnya, mengapa semua itu belum mampu menghentikan penderitaan Gaza?
Fakta bahwa kapal bantuan bisa dicegat dan disita tanpa perlindungan menunjukkan betapa lemahnya posisi negeri-negeri Muslim dalam melindungi rakyat Palestina. Negeri-negeri Muslim berjalan sendiri-sendiri dalam bingkai kepentingan nasional masing-masing. Faham nasionalisme yang rusak telah menghapus persaudaraan di antara mereka, sehingga tidak memiliki kekuatan politik yang mampu memberi perlindungan nyata bagi umat.
Padahal Rasulullah saw. menggambarkan pemimpin kaum Muslim sebagai pelindung umat. Dalam hadis sahih disebutkan:
“Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai (junnah), tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar jabatan administratif, melainkan pelindung umat dan penjaga kehormatan kaum Muslim. Ketika perisai itu tidak ada, umat menjadi tercerai-berai dan mudah menjadi sasaran kezaliman.
Allah Swt. juga berfirman: "Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak...” (TQS. An-Nisa: 75)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa membela kaum tertindas bukan sekadar pilihan moral, melainkan bagian dari kewajiban bagi setiap Muslim.
Karena itu, tragedi Gaza seharusnya tidak hanya melahirkan kesedihan dan kecaman sesaat. Umat membutuhkan kesadaran lebih dalam tentang pentingnya persatuan politik dan kepemimpinan yang benar-benar berpihak pada perlindungan umat. Tanpa kekuatan politik yang kokoh, negeri-negeri Muslim akan terus berada dalam posisi lemah di hadapan kekuatan global.
Perjuangan membela Palestina tidak cukup berhenti pada empati. Ia membutuhkan kesungguhan membangun kesadaran umat agar kembali memiliki kekuatan dan kepemimpinan yang mampu menjadi perisai bagi kaum Muslim di mana pun berada.
Sebab selama umat tercerai-berai dan tidak memiliki pelindung yang kuat, tragedi demi tragedi seperti di Gaza akan terus berulang. Berdirinya sebuah institusi yang menerapkan Islam secara kafah adalah qadhiyah mashiriyah yang harus segera diperjuangkan, agar umat memiliki perisai hakiki.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment