Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Belajar dari Tragedi Lombok Timur: Membangun Benteng Perlindungan Anak di Era Digital

Monday, May 18, 2026 | Monday, May 18, 2026 WIB Last Updated 2026-05-18T01:44:11Z

 



‎Oleh Rika Kamila, S. Ag

Aktivis Muslimah


‎LOMBOK TIMUR – Jagat media sosial kembali berduka. Dua nyawa tak berdosa, seorang anak usia TK dan seorang siswa SD di Lombok Timur, dilaporkan meninggal dunia akibat cedera leher yang fatal. Tragedi ini terjadi setelah keduanya mencoba meniru aksi "freestyle" ekstrem yang belakangan viral di media sosial dan platform game online. Kejadian memilukan ini menjadi potret nyata betapa konten digital yang tidak terfilter dapat bertransformasi menjadi ancaman nyawa bagi anak-anak di dunia nyata.

‎‎Terinspirasi Game Online dan Media Sosial

‎Berdasarkan penelusuran, aksi "freestyle" yang dilakukan kedua korban diduga kuat terinspirasi dari gerakan karakter dalam game online populer, seperti Garena Free Fire, serta tantangan (challenges) yang berseliweran di TikTok dan YouTube. Dalam game tersebut, gerakan ekstrem seringkali dianggap sebagai simbol kemenangan atau keren. Namun, bagi anak-anak dengan nalar yang belum sempurna, mereka gagal membedakan antara animasi digital yang tidak berisiko dengan realitas fisik yang berbahaya.

‎‎Merespons tragedi ini, berbagai pihak mulai dari Kepolisian, pihak sekolah, Dinas Pendidikan, psikolog anak, hingga KPAI mengeluarkan himbauan darurat. Mereka mendesak orang tua untuk memperketat pengawasan terhadap penggunaan ponsel, media sosial, serta jenis tontonan anak-anak.

‎‎Anak Menjadi Korban

‎Tragedi ini bukanlah kecelakaan tunggal, melainkan akumulasi dari lemahnya sistem pengawasan di berbagai lini:

‎‎1. Belum Sempurnanya Nalar Anak Secara psikologis, anak-anak adalah peniru ulung. Tanpa kemampuan kognitif untuk menganalisis risiko, mereka cenderung menelan mentah-mentah informasi yang dianggap menarik di layar kaca.

‎‎2. Minimnya Pendampingan Orang Tua

‎Gadget seringkali dijadikan "pengasuh elektronik" agar anak tenang. Padahal, tanpa pendampingan, anak memiliki akses tak terbatas menuju konten yang berpotensi merusak dan berbahaya.

‎‎3. Lingkungan yang Apatis

‎Lemahnya kontrol sosial membuat anak-anak sering dibiarkan bermain tanpa pengawasan orang dewasa di ruang publik.

‎‎4. Inkonsistensi Regulasi Negara Pembatasan akses terhadap konten negatif oleh pemerintah dinilai belum efektif. Konten berbahaya masih sangat mudah ditembus oleh pengguna usia di bawah umur.

‎‎Islam Membangun Ekosistem Pelindung

‎‎Dalam sudut pandang Islam, fenomena ini memerlukan pembenahan sistemik yang bertumpu pada tanggung jawab bersama.

‎‎1. Kedudukan Anak dan Peran Wali

‎Islam memandang anak-anak yang belum balig sebagai individu yang belum terkena taklif (beban hukum) karena akalnya belum sempurna. Oleh karena itu, tanggung jawab penuh berada di pundak orang dewasa (orang tua atau wali) untuk mengarahkan mereka pada kebaikan dan melindungi mereka dari bahaya (hifzu nafs).

‎‎2. Tiga Pilar Pendidikan Islam

‎Islam menawarkan solusi melalui sinergi tiga pilar utama untuk menciptakan ekosistem tumbuh kembang yang aman:

‎‎*Keluarga: Orang tua sebagai madrasah pertama yang mendidik iman dan logika dasar anak.

‎*Masyarakat (Lingkungan): Menciptakan budaya "saling menjaga" di mana lingkungan tidak membiarkan anak-anak melakukan tindakan berbahaya.

*‎Negara: Negara berperan sebagai perisai (junnah) yang membatasi ketat informasi yang tidak bermanfaat atau membahayakan generasi, sembari memperbanyak konten edukasi untuk membentuk peradaban yang cemerlang.

‎‎Kesimpulan

‎‎Kematian dua bocah di Lombok Timur harus menjadi titik balik. Kita tidak boleh lagi abai terhadap apa yang digenggam anak-anak kita di layar ponsel mereka. Dibutuhkan ketegasan negara dalam meregulasi konten, kepekaan lingkungan, dan yang paling utama: kehadiran nyata orang tua di sisi anak.

‎‎Jangan sampai tren digital berikutnya kembali memakan korban hanya karena kita terlambat menyadari bahwa nyawa anak-anak kita jauh lebih berharga daripada skor di dalam game online.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update