Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wibawa Guru Direndahkan, Cerminan Krisis Sistem Pendidikan Sekuler

Tuesday, April 28, 2026 | Tuesday, April 28, 2026 WIB Last Updated 2026-04-29T09:30:16Z


Oleh: Fairus Ariani, S.T. (Relawan Opini) 

Kasus pelecehan dan penghinaan terhadap guru kembali terjadi dan viral di media sosial. Aksi tersebut dilakukan oleh 9 orang siswa SMAN 1 Purwakarta pada Kamis 16 April 2026 setelah jadwal mata pelajaran PKN. 

Fenomena Merendahkan Guru sebagai Indikator Krisis Moral 

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan pada berbagai persoalan serius, salah satunya adalah menurunnya penghormatan peserta didik terhadap guru. Guru yang seharusnya menjadi figur sentral dalam proses pendidikan justru menjadi objek pelecehan, baik secara verbal maupun non-verbal.

Kasus terbaru di Purwakarta, di mana siswa secara terang-terangan mengejek dan mengacungkan jari tengah kepada guru di dalam kelas, menjadi indikator nyata bahwa krisis ini bukan sekadar insiden individual, melainkan persoalan sistemik. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar, apakah sistem pendidikan saat ini masih mampu membentuk karakter peserta didik yang beradab?

Peristiwa pelecehan dan penghinaan terhadap guru menunjukkan adanya degradasi nilai adab di kalangan pelajar. Dalam tradisi pendidikan yang ideal, guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga figur yang dihormati dan dijunjung tinggi.

Namun realitas menunjukkan sebaliknya. Siswa tidak lagi melihat guru sebagai otoritas moral, melainkan sebagai objek yang dapat diejek, bahkan dijadikan bahan konten media sosial. Hal ini menandakan bahwa nilai penghormatan terhadap ilmu dan pengajarnya telah mengalami erosi yang signifikan.

Pengaruh Sistem Pendidikan Sekuler 

Sistem pendidikan hari ini berdiri di atas asas sekulerisme yang memisahkan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama. Akibatnya, pendidikan hanya berorientasi pada aspek kognitif dan keterampilan, tanpa memberikan fondasi moral yang kuat. Sekolah hanya mencetak siswa pintar tetapi miskin adab, generasi cerdas namun tak berakhlak.

Era media sosial memperparah kondisi ini. Banyak siswa terdorong untuk mencari pengakuan melalui konten viral, meskipun harus melanggar norma. Fenomena ini melahirkan perilaku; mencari sensasi tanpa mempertimbangkan etika, menjadikan pelecehan sebagai hiburan, mengukur nilai diri dari popularitas, bukan integritas.

Dalam konteks ini, guru tidak lagi dipandang sebagai figur yang harus dihormati, melainkan sebagai “alat konten” untuk meraih perhatian publik. Kasus ini juga menunjukkan lemahnya sistem sanksi dalam dunia pendidikan. Sanksi seperti skorsing seringkali tidak memberikan efek jera yang signifikan. Akibatnya, siswa tidak merasakan konsekuensi nyata dari perbuatannya, sehingga perilaku serupa berpotensi terulang.  

Islam Menjaga Wibawa dan Martabat Guru secara Sistemik 

Berbeda dengan sistem sekuler, pendidikan Islam menjadikan akidah sebagai landasan utama dalam membentuk pola pikir islami dan juga pola sikap yang islami. Tujuannya adalah menciptakan kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah). Dengan landasan ini, siswa akan memahami bahwa menghormati guru bukan sekadar norma sosial, tetapi kewajiban syar’i.

Rasulullah SAW bersabda" Tidak termasuk dalam golongan Kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta tidak mengetahui hak orang berilmu"(HR. Ahmad). Untuk dalil dicetak miring juga dan tambahkan lagi dalil yg memperjelas memuliakan guru

Siswa juga memahami bahwa ilmu harus dimuliakan dengan memuliakan guru sebagai orang yang berilmu. Dengan demikian keberkahan ilmu akan Allah berikan pada peserta didik. Keberkahan ilmu akan menjadikan seseorang tunduk dan patuh pada perintah dan larangan Allah. Allah SWT berfirman "Hanya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya yaitu orang-orang yang berilmu" (QS.Fathir:28).

Hasilnya pendidikan Islam mencetak generasi Rabbani yang cerdas dan berkepribadian Islam (syakhshiyah islamiyyah). Dalam Islam negara memiliki peran strategis dalam menjaga moral masyarakat, termasuk melalui pengawasan terhadap konten digital. Langkah yang dapat dilakukan menyaring konten yang merusak nilai moral, mengedukasi penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, menciptakan ekosistem digital yang sehat.

Sanksi Islam juga sangat tegas yang berfungsi jawabir (penebus dosa) dan zawajir (memiliki efek jera). Tidak ada ruang untuk pelecehan dan penghinaan tanpa konsekuensi yang serius. Karena mendidik generasi adalah amanah yang akan dipertanggung jawabkan.

Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Negara bertanggung jawab untuk memberikan kesejahteraan yang layak, menjaga kehormatan dan otoritas guru, menjamin keamanan dalam menjalankan tugas. Dengan demikian wibawa dan martabat guru akan terjaga secara sistemik, bukan hanya bergantung pada individu. Wallahu'alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update