Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Urbanisasi membudaya, imbas Kebijakan yang Kapitalistik.

Thursday, April 09, 2026 | Thursday, April 09, 2026 WIB

 



Dartem 


Arus balik diprediksi makin rame daripada arus mudik lebaran 2026. Hal itu menunjukkan bahwa urbanisasi masih diminati oleh masyarakat terutama dari pedesaan. Fenomena arus balik yang semakin rame ini menjadi salah satu aspek penting dalam dinamika migrasi penduduk Indonesia kata Bonivasius Prasetya Ichtiarto, selaku Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.


Masyarakat yang mudik, kemudian balik ke kota dengan membawa teman, saudara bahkan keluarga besarnya untuk mencari pekerjaan dikota. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), migrasi risen neto tercatat sekitar 1.2 juta jiwa. Data tersebut menunjukkan bahwa arus masuk ke kota lebih besar dari arus keluar. Inilah cermin ketimpangan struktural yang ada. Masyarakat pedesaan lebih memilih mengadu nasib dikota karena dianggap lebih mudah untuk mencari penghidupan, Metronews.com (Jumat, 27/3/2026)


Sesungguhnya, bukan hal aneh lagi ketika sesudah lebaran banyak warga desa yang ikut kekota karena diajak temanya atau saudaranya ketika mudik lebaran. Dari desa mereka antusias datang ke kota dengan harapan bisa memperbaiki perekonomian keluarga ataupun orang tuanya. Mereka biasanya datang karena sudah ada pekerjaan yang menanti karena ajakan teman maupun saudara. Hal semacam itu seolah sudah menjadi tradisi setelah liburan hari Raya idul Fitri.


Fenomena ini menjadi bukti bahwa kehidupan dikampung/desa masih susah dalam mencari penghidupan yang layak.

Dengan adanya urbanisasi yang selalu melonjak pasca lebaran tentu akan berpengaruh pada kondisi di pedesaan.

Sumberdaya manusia yang produktif menjadi berkurang karena kebanyakan yang pergi ke kota adalah anak-anak muda yang masih produktif. Suasana kota nyatanya sudah menjadi magnet yang menarik warga desa untuk pergi ke kota demi mengais rezeki. Mereka beranggapan bahwa ketika tetap berada di desa maka kondisi ekonomi akan menurun dan susah.


Itulah bukti bahwa ketimpangan ekonomi itu nyata adanya sehingga mendorong manusia untuk memilih pergi ke kota. Memang betul bahwa dikota ternyata lebih banyak peluang untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Tidak dimungkiri bahwa kondisi diperkotaan sudah tumbuh dan berkembang, mulai dari banyaknya investasi, industri dan banyak perusahaan seperti Garmen dan tekstil. 


Pembangunan di kota lebih digencarkan dibandingkan di desa, sehingga tampaklah ketimpangan sosial. Pembangunan insfratruktur jor-joran tapi lupa dengan kondisi rakyat di pedesaan yang masih susah mendapat kebutuhan dasar. Program pemerintah dalam membangun desa seringkali tidak menyentuh akar permasalahan. Belum lagi ketika program yang dicanangkan seringkali mangkrak tak berkelanjutan. 


Akibatnya, desa tetap kalah dan tertinggal sehingga banyak generasi muda yang justru memilih pergi ke kota. Sementara itu, arus kekota semakin deras tak terbendung. Ini akan menimbulkan masalah jika tidak ditangani secara matang. Contohnya adalah semakin padatnya pemukiman dikota sementara lowongan kerja akhirnya tidak seimbang. 


Hal ini menunjukkan bahwa dalam iklim sistem kapitalisme sekuler, pembangunan tampak tidak merata sehingga mengakibatkan kesenjangan ekonomi yang semakin menganga. Semua itu akan berimbas pada sulitnya memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Selama masih dalam naungan kapitalisme, maka kondisi seperti ini akan terus terjadi. Negara tidak betul-betul memperhatikan kondisi rakyatnya, yang ada hanya kepentingan dan keuntungan individu atau kelompok.


Islam itulah solusi hakiki dari setiap masalah termasuk arus urbanisasi yang saat ini sudah membudaya. Islam memandang bahwa rakyat itu harus tercukupi kebutuhan dasar hidupnya, itulah tugas dan tanggung jawab negara. Dengan sistem Islam, pembangunan akan merata sehingga tidak terjadi ketimpangan ekonomi. Tidak ada istilah harga yang berbeda antara di kota dengan di desa. Dengan pembangunan yang merata, lowongan pekerjaan akan terbuka luas sehingga tidak perlu pindah ke kota.


Dalam Islam, kesejahteraan rakyat adalah fokus utamanya, bukan mementingkan kepentingan pribadi ataupun golongan. 

Rasulullah saw. juga bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang pemimpin dalam Islam akan memastikan bahwa distribusi kebutuhan dasar akan sampai kepada rakyat. 


Negara akan dalam mengelola berbagai sumber daya alam sesuai kepemilikan. Memberikan kebebasan bagi petani untuk mengelola tanah mati agar selalu produktif dan menghasilkan. Negara juga akan memberikan subsidi bibit unggul, pupuk serta berbagai fasilitas pendukungnya kepada petani. Dengan begitu, warga pedesaan akan maju dengan pertanianya. 

Itulah kebijakan ekonomi dalam Islam yang akan serius mendorong sektor pertanian.


Walhasil, ekonomi di desa akan stabil dan kuat. Tugas kita sekarang adalah menyampaikan kepada masyarakat akan pentingnya penerapan syariat Islam secara kaffah oleh negara. Dengan begitu, semua persoalan termasuk urbanisasi bisa diatasi. 

Karena hanya dengan adanya Daulah Islamlah rakyat akan mendapatkan kesejahteraan hidup di kota maupun di desa.


Wallahu a'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update