Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina Terancam di Gusur Israel?

Thursday, April 23, 2026 | Thursday, April 23, 2026 WIB

 



Oleh Dra. Rahma

Aktivis Muslimah


Pada hari Jumat tanggal 27 Maret 2026, Palestina menyerukan intervensi internasional guna mencegah penggusuran paksa terhadap lebih dari 200 keluarga Palestina di Yerusalem.

Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan warga di lingkungan silwan menghadapi ancaman penggusuran dari rumah mereka oleh Israel (Antara, 28-3-2026). Kementerian pengadilan Israel digunakan sebagai alat untuk memperkuat situasi legal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memberikan legitimasi semu di kota suci seraya menambahkan bahwa pengadilan pendudukan adalah bagian dari praktik kriminal pendudukan.

Mereka mencatat adanya peningkatan penggusuran paksa yang menyasar warga Palestina di wilayah pendudukan Yerusalem dan mengutuk keras penggusuran 15 keluarga pekan lalu dari lingkungan Batn Al-Hawa di Silwan serta perintah pembongkaran 7 rumah di Qalandiya.

Pernyataan itu menyebutkan pembangunan di Yerusalem adalah bagian dari rencana yang bertujuan untuk melakukan yahudisasi terhadap kota suci, menggusur rakyat Palestina dan mengubah komposisi demografinya.

Kementerian menyerukan komunitas internasional untuk bertindak, Palestina mendesak negara-negara dan organisasi internasional untuk mengambil langkah yang lebih tegas dan konkret serta mencegah penggusuran paksa yang sedang berlangsung dan menyerukan agar tindakan Israel dinyatakan tidak sah secara hukum, mereka juga mendesak komunitas internasional untuk melakukan tekanan diplomatik dan memperkuat kehadirannya di lapangan.

PBB yang mengatakan pada 26 Maret bahwa pasukan Israel mengusir paksa setidaknya 16 keluarga Palestina dan daerah Batn Al-Hawa di Silwan. Pasukan Israel setiap hari melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata, setiap hari melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang diberlakukan sejak 10 Oktober, yang telah menewaskan 691 orang dan melukai 1-876 lainnya, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina. Israel melakukan pelanggaran perang di jalur Gaza pada Oktober 2023 menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina melukai sekitar 172-006 lainnya dan menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil (Antara News.com)

Palestina maupun Iran sendirian menghadapi AS-Zionis yang didukung sekutunya, sedangkan negeri-negeri muslim justru berpihak pada AS dan zionis. Racun nasionalisme telah masuk ke dunia Islam dan menjerat umat menjadi lebih dari 50 negeri-negeri kecil yang tunduk pada AS.

Nyawa kaum muslim dikorbankan dan darah tidak hentinya tumpah di bumi Palestina karena ketidakpedulian para penguasa muslim terhadap nasib muslim Palestina. Mereka lebih mementingkan eksistensi kekuasaannya dan kepentingan bisnisnya daripada nyawa saudaranya sesama muslim, mereka rela menyerahkan saudaranya pada penjajah yang haus darah demi mempertahankan kekuasaan padahal pada saat yang sama penguasa kafir merendahkan dan menghina mereka.

Inilah kondisi umat Islam saat ini ketika payung khilafah Islam terlipat dan umat hidup di bawah kapitalisme, umat tercerai-berai dalam kondisi lemah dan hina kekuasaan yang ada di tangan para penguasa muslim tidak membawa pada kemuliaan melainkan kehinaan dan ketertindasan. Ketika ada negeri muslim yang dianiaya oleh kaum kafir seperti Palestina, negeri-negeri lain tidak tergerak untuk membela karena belenggu nasionalisme. Bahkan, Amerika Serikat mengadu domba antar negeri muslim sehingga satu dengan yang lainnya saling berseteru dan menyerang, pihak yang paling diuntungkan dari perseteruan itu adalah Amerika Serikat dan kawan-kawannya karena merekalah penyuplai senjata ke negeri-negeri muslim tersebut. Industri senjata telah menjadi bisnis Amerika Serikat yang sangat diandalkan.

Umat sungguh membutuhkan institusi pelindung itu adalah khilafah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjamin bahwa khilafah adalah Junnah atau perisai yang melindungi umat Islam sedunia termasuk Palestina. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya Al Imam (Khilafah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya." (HR. Bukhari Muslim)

Khilafah akan melindungi jiwa dan harta termasuk tanah dan rumah kaum muslim agar tidak ada satu pihak pun yang merampasnya tanpa hak. Islam menjamin kepemilikan individu dan melindunginya, ini seperti perlindungan Islam terhadap rumah Yahudi tua di Mesir yang rumahnya hendak dibeli oleh Gubernur Mesir Amr Bin Ash untuk proyek perluasan masjid. Ketika si yahudi mengadu ke ibukota Khilafah di Madinah, Khalifah Umar Bin Khattab, menyuruhnya memberikan tulang hewan yang telah digaris dengan pedang kepada Amr bin Ash. Ia pun langsung pucat pasi wajahnya dan membatalkan rencana membeli rumah si Yahudi, terhadap rumah nonmuslim saja, demikian luar biasa perlindungan khilafah. 

Ketika khilafah tegak, ia akan seperti payung yang menaungi seluruh negeri muslim mulai dari Timur Tengah, Afrika, Spanyol, Asia Tengah hingga Asia Tenggara. Daulah Islam ini akan menyatukan seluruh potensi umat Islam termasuk potensi militernya, negara akan menjadikan pembebasan Palestina sebagai agenda utama pada hari-hari pertama tegaknya khilafah. Negara akan mengomando jihad Akbar terhadap seluruh muslim sedunia, militer dari negara sekitar Palestina seperti Lebanon, Suriah, Yordania, Arab, dan lain-lain akan dikerahkan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan zionis.

Negara akan melarang wilayah negeri-negeri muslim dijadikan pangkalan militer Amerika Serikat maupun tambang dan kilang minyaknya, ini berlaku juga terhadap negara-negara yang mendukung Amerika Serikat dan zionis seperti Inggris. Posisi Amerika Serikat, zionis, dan negara lainnya yang ikut memerangi kaum muslim adalah kafir harbi fi'lan.

Negara tidak menjalin hubungan apapun dengan mereka kecuali hubungan perang. Negara bisa menutup check point perdagangan dunia yang ada di wilayah negeri-negeri muslim seperti selat hormus, Bab Al-mandat dan lainnya.

Ini merupakan politik perang yang diperbolehkan dalam Islam dalam Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah Jilid II Bab "Politik Peperangan"

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa khilafah akan menjalankan politik perang. Daulah akan leluasa bertindak secara independen untuk membebaskan Palestina tanpa ada campur tangan asing, inilah kekuasaan yang menolong yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

Artinya, "Katakanlah (Nabi Muhammad) ya Tuhanku masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisimu kekuasaan yang dapat menolong (ku)" (QS. Al Isra ayat 80)

Untuk mewujudkan khilafah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melakukan aktivitas tasqif (pembinaan umat dengan fikrah/pemikiran Islam) dan berinteraksi dengan masyarakat. Dakwah beliau bersifat pemikiran (fikriyah), politik isiyasiah, dan non-kekerasan. Berkat dakwah yang beliau lakukan, Islam tegak sebagai sebuah pemerintahan sehingga bisa melindungi rakyat di seluruh wilayah. Wallahua'lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update