Nusantaranews.net, Lima Puluh Kota — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-185 Kabupaten Lima Puluh Kota tahun ini dinilai menyisakan ironi. Kegiatan seremonial berlangsung meriah di dalam ruangan, namun suasana di luar justru tampak minim nuansa perayaan.
Sorotan ini disampaikan mantan anggota DPRD, Khairul Apit. Dari pengamatannya, partisipasi instansi pemerintah dalam memeriahkan hari jadi daerah masih sangat rendah.
“Dari yang saya lihat, hanya Kantor Camat Harau yang memasang marawa. Sementara banyak kantor pemerintah lainnya, mulai dari dinas, kantor camat, hingga kantor wali nagari se-kabupaten, belum terlihat ikut serta,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi ironi bagi daerah yang memiliki warisan sejarah besar dan dikenal sebagai tanah lahirnya semangat juang orang Luak Limopuluah.
Ia kembali menyinggung sosok Tan Malaka sebagai simbol kuat lahirnya pemikir dan pejuang dari ranah ini. Khairul menilai, nilai-nilai perjuangan tersebut seharusnya tercermin dalam setiap momentum penting daerah, termasuk peringatan hari jadi.
“Ini bukan soal seremonial semata. Marawa dan spanduk itu simbol penghormatan terhadap sejarah dan identitas daerah kita,” tegasnya.
Lebih jauh, Khairul menekankan bahwa momentum HUT seharusnya juga menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda, khususnya generasi milenial, agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
“Sejarah adalah bagian dari proses mengenal diri sendiri, asal muasal, dan lingkungan sekitar. Belajar sejarah bukan hanya soal tanggal dan peristiwa, tetapi bagaimana kita memahami makna di baliknya,” ungkapnya.
Ia pun berharap ke depan, peringatan HUT Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dirayakan lebih merata dan melibatkan seluruh elemen, sehingga semangat kebersamaan dan jiwa perjuangan masyarakat Luak Limopuluah benar-benar terasa.
“Jangan sampai kita hanya meriah di dalam ruangan, tapi sepi dalam makna,” tutupnya. (R.Sitepu)

No comments:
Post a Comment