Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesatuan Islam dan Runtuhnya Hegemoni Global, Pelajaran Penting dari Perang AS-Israel dengan Iran

Thursday, April 16, 2026 | Thursday, April 16, 2026 WIB Last Updated 2026-04-16T10:23:31Z

Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty 

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menyebut syarat gencatan senjata Iran sebagai bentuk 'kemenangan' diplomasi dalam mempertahankan kedaulatan. Prof Noto menilai, syarat yang diajukan Iran kepada Amerika Serikat secara prinsip mencerminkan atas kedaulatan, jaminan keamanan nasional, penghormatan terhadap hukum internasional, serta penghentian tekanan sepihak dalam bentuk sanksi maupun ancaman militer."Iran juga menekankan pentingnya pengakuan atas hak-haknya dalam pengembangan teknologi, non-intervensi terhadap urusan domestik, serta komitmen yang jelas dan terukur dari pihak Amerika dalam menjaga kesepakatan," sambungnya (mui.or.id, 10-04-2026). 10 Tuntutan Iran kepada Amerika Simbol Kemenangan Diplomasi.

Ancaman Trump terhadap Iran ternyata tidak menggetarkan Iran. Ancaman perang yang disodorkan pada Iran disambut penerimaan. Perang lawan perang.

Ditambah lagi, ajakan AS pada sekutu tidak sepenuhnya mendapat sambutan. Sekutu AS di Eropa menunjukkan keengganan bergabung bersama AS. Namun sayangnya, beberapa penguasa muslim malah bergabung dalam aliansi strategis terkait kepentingannya dalam konteks keamanan regional, ekonomi dan upaya resolusi konflik di Timur Tengah.

Dari Fakta Kita Belajar Sebuah Kekuatan

Dari gambaran di atas,  tampak bahwa AS tak mudah kalahkan Iran. AS-Israel tak sekuat dengan kesombongan yang ditunjukkannya. Sebagai satu negara yang diblokade bertahun-tahun, Iran telah tunjukkan giginya. Satu Iran ternyata tak membuat keadidayaan AS dengan Israel sebagai Sekutunya, mewujud dalam penguasaan sempurna terhadap Iran. 10 poin Iran dalam diplomasi yang dituruti AS telah menunjukkan AS-Israel tak sehebat yang dikira.

Sayangnya, perang AS-Israel dengan Iran menunjukkan pula bahwa penguasa negeri muslim masih saja berselingkuh dengan AS. Mereka lebih takut pada musuh dibandingkan pada Allah Ta'ala. Mereka tidak takut dengan ancaman Allah Ta'ala. Mereka abai dengan firman Allah Ta'ala,

وَلَا تُطِعِ ٱلْكَٰفِرِينَ وَٱلْمُنَٰفِقِينَ وَدَعْ أَذَىٰهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا

Artinya: Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung (QS. Al Ahzab:48). Padahal jika saja disadari, kekuatan yang bukan hanya dibangun Iran saja, namun dibangun penuh oleh kesatuan negeri-negeri muslim, akan membangun kekuatan super power yang membuat AS-Israel tak lagi bernyali.

Kesatuan Islam Meruntuhkan Hegemoni Global

Allah perintahkan sebagaimana firman-Nya, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat Rahmat,” (QS Al-Hujurat: 10)

Demikian pula Rasulullah saw., membuat permisalan persaudaraan  dengan sabdanya dalam riwayat Muslim, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.”

Nash-nash tersebut seharusnya menjadikan potensi dua miliar umat Islam berdaya untuk wujudkan wadah politik yang menyatukan.  Syariat kafah j membutuhkan negara yang memberlakukan aturan Allah secara menyeluruh, bukan berdasarkan kepentingan ekonomi atau kompromi politik sekuler, berselingkuh dengan kekuatan jahat global.

Nash-nash di atas seharusnya menguatkan dengan jelas dan tegas bahwa kekuatan hakiki umat Islam di bawah satu kepemimpinan mampu melawan dominasi global.

Menyadarkan kewajiban syariat sesama, menyatukan perasaan dan dukungan all-out pada umat menjadi sangat urgen untuk melahirkan keberanian menghadapi musuh tanpa khawatir risiko kerugian ekonomi dan kepentingan nasional. 

Adanya kesatuan umat untuk wujudkan satu kepemimpinan akan melahirkan komando riil jihad fisabilillah untuk menghancurkan kezaliman. Kesatuan umat yang mampu  mengkristalkan perjuangan di bawah kekuatan politik tunggal Islam, yaitu Khilafah, mampu menjawab siapa lawan tangguh yang mampu membuat musuh gentar. 

Sungguh  menciptakan kesatuan umat  yang dilanggengkan dalam sistem politik Islam, yaitu Khilafah, umat Islam memiliki pemimpin yang akan senantiasa menjaganya. Mewujudkan keamanan sempurna. Menjamin keselamatan dalam berbagai sisi. Menjamin semua pemenuhan tanpa goncangan yang menyakiti. Dengannya aturan Islam dipraktikkan secara sempurna sehingga mampu membela kehormatan umat Islam di seluruh dunia dengan jihad, bahkan menjadikan Islam kembali hadir sebagai peradaban yang memimpin dunia, yang menjamin keselamatan dan keamanan sempurna.

Wallaahu a'laam bisshawaab.






No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update