Oleh: Reni Juwairiyah
Aktivis Muslimah
BENGKULU, KOMPAS.com – Satpol PP Kota Bengkulu mengamankan sejumlah pelajar perempuan yang nekat menyamar menjadi laki-laki untuk membolos sekolah. Mereka kedapatan sedang nongkrong dan merokok di warung saat jam pelajaran berlangsung.
Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Sahat M Situmorang, menjelaskan bahwa penangkapan tersebut bermula saat petugas melakukan razia rutin terhadap pelajar yang berkeliaran di luar sekolah pada jam belajar. "Jadi, kami bersama personel melakukan razia pelajar yang bolos, nongkrong-nongkrong di warung-warung saat jam belajar,” kata Sahat saat diwawancarai, Jumat (13/3/2026)
Saat dilakukan pemeriksaan, petugas sempat terkecoh karena penampilan para pelajar tersebut tampak seperti laki-laki. Namun, kecurigaan petugas terbukti saat melakukan pemeriksaan barang bawaan di dalam tas milik para siswi tersebut.
Fenomena razia kedisiplinan siswa oleh aparat Pemda dan Sekolah tanpa diimbangi penanaman nilai Aqliyah dan Nafsiyah Islam akan percuma. Karena, mereka belum memahami tujuan hidup itu untuk apa, maka pentingnya menanamkan akidah sejak usia dini agar anak paham bahwa tujuan hidup didunia bukan hanya sekedar mencari ilmu akademik dan menunjukan eksistensi sebagai generasi yang tanpa arah,justru ketika paham hidup didunia ini melainkan untuk beribadah dan keimanan lah yang akan mendorong senantiasa melakukan ketaatan akan perintah dan larangannya. Sekuleris liberal inilah yang menjadikan kebebasan sebagai nilai utama kehidupan. Pelajar didorong untuk merasa bahwa mereka berhak menentukan apa pun yang ingin dilakukan selama dianggap “tidak merugikan orang lain”. Konsep kebebasan ini akhirnya mendorong perilaku menantang aturan, termasuk membolos, merokok, hingga prilaku tasyabuh. Solusi yang ditetapkan negara sekuler liberal tidak menyentuh akar persoalan. Maka program razia untuk menegakkan kedisiplinan siswa jauh panggang dari api menjadikan sia sia, Karena sistem Sekulerlah yang menjadikan orangtua,masyarakat, dan Negara tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Dalam islam ada tiga peran penting dalam membina generasi , selain kewajiban keluarga,masyarakat dan negara pun wajib berperan. Islam menanamkan aqidah sebagai pondasi dalam berfikir dan bersikap. Islam pun jaga pembentukan kepribadian (syakhsiyah Islamiyah). Pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat. Pelajar dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, tanggung jawab, dan kehormatan diri. Islam memiliki aturan pergaulan yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Aturan ini menjaga kehormatan dan identitas masing-masing. Larangan menyerupai lawan jenis Rosulullah sudah menegaskan di dalam hadist ny "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka" (HR. Abu Dawud, HR. Ahmad)
Negara dalam sistem Islam berperan aktif dalam menjaga moral generasi. Negara tidak hanya mengurus aspek administratif pendidikan, tetapi memastikan kurikulum, lingkungan sosial, dan media mendukung terbentuknya generasi yang bersyakhsiyah Islamiyah Islam juga menumbuhkan lingkungan masyarakat yang saling menjaga dalam kebaikan, amar makruf nahi munkar.
Wallahualam bisawwab.

No comments:
Post a Comment