Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
S'bagai prasasti t'rima kasihku 'tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendekia
(Versi lama pada bagian akhir memakai frasa “tanpa tanda jasa”)
Syair Himne Guru di atas tak lagi membuat para guru bahagia. Bahkan kami generasi yang dulu sangat menghormati guru terhenyakkan oleh peristiwa yang kembali mencoreng dunia pendidikan.
Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa yang menunjukkan sikap tidak beradab terhadap seorang guru di dalam ruang kelas. Para siswa terlihat mengejek hingga menunjukkan gestur acungan jari tengah yang tentunya hal ini teah telah merendahkan posisi guru.
Memang sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari. Bahkan Bapak Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif & berdampak langsung pada perubahan perilaku, karena ia menilai sanksi sekolah tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa.
Pendidikan Sekuler-Liberal Biang Krisis Moral
Pelecehan guru yang terjadi sebuah SMA di Purwakarta ini menjadi cerminan krisis moral siswa akibat sistem pendidikan sekuler-liberal. Sistem ini telah mengabaikan adab kepada guru menjadi hilang.
Seringnya tindakan tersebut dilakukan, banyak dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial. Dengan tawaran pengakuan tersebut, siapa pun tidak terkecuali siswa lebih mementingkan "yang penting viral" dan "keren-kerenan" di mata orang lain, teman sebaya, daripada menjaga adab terhadap guru.
Lemahnya wibawa guru telah terjadi. Kini, siswa merasa "berani" melakukan hal tersebut. Apakah karena sanksi sekolah selama ini terlalu lembek atau guru tdk berdaya pada siswa yang berbuat salah karena takut dituntut jika menegurnya? Padahal pemerintah sering menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila". Dan kasus ini telah memberi tamparan keras bahwa program-program tersebut baru sebatas formalitas administratif di atas kertas.
Bukan Hanya Sekadar Hiburan dan Penghargaan
Kompleksitas rasa yang muncul dalam menyikapi adanya suguhan hiburan dan penghargaan terhadap guru tentunya perlu diarahkan dengan rasa yang lurus. Rasa yang seharusnya sesuai dengan kenyataan yang bisa dirasakan oleh sosok yang bernama guru.
Dalam sistem kapitalis, rasa bahagia seorang guru terkadang menjadi terarah hanya pada materi saja tanpa mengaitkan pada nilai agung sebagai seorang pentransfer ilmu dan adab. Warna sekuler terlalu kental, hingga pewarnaannya begitu lekat dalam perjalanan sebuah proses pendidikan. Hingga menjadi hal yang tidak mengherankan lagi saat murid ada berani bukan hanya melecehkan guru namun menembak guru, membacok atau bahkan membunuh gurunya dengan alasan berbagai rupa.
Miris memang, dalam sistem kapitalis sekuler guru diposisikan sebagai pekerja bukan lagi sebagai pendidik yang patut digugu ditiru. Guru diupah dengan nominal tertentu dengan target capaian jam mengajar tertentu hingga dedikasi guru menjadi terkikis oleh suasana guru sebagai pekerja saja. Siswa merasa sudah bayar para guru hingga bisa berbuat suka-suka pada gurunya.
Melihat kondisi ini perlu adanya perealisasian yang mereposisi guru agar perannya guru sesuai kembali tabiatnya sebagai guru, hingga terealisasi kemuliaan sosok guru dalam mewujudkan generasi yang unggul, tangguh, beradab, beriman bertaqwa, yang akan mencegah munculnya siswa kriminal dan arogan. Tentunya ini pun butuh peran negara yang akan menghantarkan keniscayaan tersebut. Karena kondisi munculnya ketidakadaban murid bukan hanya karena proses di sekolah, namun banyak peristiwa kompleks yang menyertai tumbuh kembangnya murid hingga memunculkan karakter yang tidak diinginkan. Butuh suasana sistemik yang mampu menghadirkan proses belajar mengajar yang membahagiakan yang terealisasi dengan adanya guru dan murid sesuai dengan posisinya, hingga benar-benar terhiburlah semua guru disertai dengan murid-murid yang siap menjadi generasi pemimpin peradaban.
Guru Di Era Global
Dengan adanya kurikulum yang setiap saat berganti, kenyataannya masih banyak guru yang belum merasakan kemerdekaan, tenaga pendidik utamanya guru masih diliputi ketakutan ancaman hukuman yang menghantui saat akan menerapkan kedisiplinan pada para pelajar.
Saat Indonesia mengikuti kedinamisan zaman, maka ini pun mempengaruhi murid dan guru. Era globalisasi yang memudahkan murid mengakses apa pun, turut mempengaruhi perilaku murid saat berhadapan dengan guru. Dan guru, dengan kondisi ini dituntut adaptif agar bisa bersikap saat berhadapan dengan muridnya yang telah mendapat pengetahuan bukan hanya darinya.
Saat ini guru dan pemerintah dihadapkan dengan berbagai kerusakan generasi. Dan ini harusnya menjadi peringatan penting bagi penguasa. Harus ada introspeksi untuk mencari akar masalahnya. Jadi tak hanya sajikan hiburan dan penghargaan saja. Karena dengan kondisi seperti ini, alih-alih mendapatkan jawaban terkait penyebabnya, yang terjadi adalah berlanjutnya kejadian demi kejadian yang menyulitkan para guru dan juga meliberalkan para murid.
Guru di era global harusnya diarahkan untuk selamatkan generasi. Dan penyelamat utama adalah Islam dengan sistemnya yang sempurna.
Mewujudkan Sistem Pendidikan Hakiki
Sungguh, dalam Islam, generasi adalah aset penting bagi bangsa dan negara, karena mereka adalah calon pemimpin peradaban masa depan yang akan menyebarluaskan kemuliaan (Islam) ke seluruh penjuru dunia, di mana Islam memiliki konsep khusus dalam mewujudkan generasi cemerlang yang berkepribadian tangguh (Islam).
Pembelajaran dalam Islam pun lebih dikuatkan untuk diamalkan. Apa saja diajarkan dan dipelajari, adalah untuk diamalkan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Walhasil, generasi akan selalu berpikir, berupaya dan berkarya untuk umat, bukan hanya untuk kepuasan akal dan jumawa pribadi.
Dan bagi para pendidik, penghargaan tidak sekadar dengan mengadakan Hari Guru. Namun Negara memuliakan dan memberikan gaji yang sepadan dengan kerjanya. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, misalnya, gaji guru mencapai 15 dinar (1 dinar setara 4,25 gram emas). Dengan kondisi seperti ini guru akan berupaya sebaik mungkin menjalankan amanahnya, dan pada saat yang sama, Islam pun mengajarkan murid untuk menghormati guru mereka, hingga tercapailah kondisi ideal proses belajar mengajar. MaasyaaAllaah adakah di sistem kapitalis saat ini?
Bagaimana semua ini bisa terwujud? Tentunya bisa saat sistem pendidikan yang ada sesuai dengan ajaran Allah Dan RasulNya. Firman Allah Ta'ala,
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar" (QS. Annisa:9).
Dalam Islam diterapkan sistem pendidikan Islam secara sistemik, dan aqidah Islam adalah landasannya. Penerapannya dilakukan untuk kemuliaan manusia karena dalam hidupnya berpola pikir dan bersikap Islami. Tentunya sistem Islam (Sistem Khilafah Islamiyyah) akan mengarahkan penguasanya (Khalifah) untuk membuat kurikulum sesuai dengan pandangan Islam, bukan hanya berorientasi pada materi saja.
Oleh karena itu sangatlah urgen untuk mewujudkan sistem pendidikan Islam yang merupakan bagian dari satu kesatuan sistem Islam yang wajib diterapkan.
Jika semua sistem kembali pada sistem Islam, niscaya generasi akan terjaga dari segala bentuk kerusakan, dan kecemerlangan generasi akan kembali kita saksikan sebagaimana pada masa Kekhilafahan Islam yang pernah tegak selama berabad-abad lamanya.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment