Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Mana Kita Saat Dunia Islam Terluka?

Monday, April 20, 2026 | Monday, April 20, 2026 WIB Last Updated 2026-04-20T10:19:07Z

 




Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T

Aktivis Muslimah


Dunia sedang tidak baik-baik saja. Langit di atas Teheran, Beirut, hingga Gaza tak lagi meneduhkan. Sejak serangan terbuka dimulai pada 28 Februari 2026, kita hanya melihat kepulan asap dan mendengar jerit tangis. Fasilitas militer hancur, pangkalan nuklir diincar, dan ribuan nyawa melayang. Di Lebanon saja, lebih dari 250 saudara kita tewas dalam sekejap mata.

Namun, ada yang lebih menyakitkan daripada ledakan bom yaitu ketika luka umat hanya dijadikan barang dagangan di meja perundingan. Kita menyaksikan sebuah ironi yang menyayat hati. Di saat musuh mulai kelelahan menghadapi tekanan, para penguasa negeri-negeri Muslim justru datang membawa "inisiatif damai". Perundingan ini hanyalah panggung sandiwara.

Siapa yang sebenarnya mereka selamatkan? Gencatan senjata yang dibicarakan sama sekali tidak menyebut nasib Palestina. Gaza tetap dibiarkan berdarah, dan Al-Aqsha tetap terpasung. Bukannya menggunakan kekuatan militer untuk menolong, sebagian penguasa justru menjadi "tim evakuasi" yang menyelamatkan wajah penjajah dari kekalahan. Inilah pola lama yang terus berulang, pengkhianatan yang dibungkus dengan bahasa diplomasi.

Allah SWT telah mengingatkan kita tentang sikap ini: 

“Kaum munafik itu... mereka menyuruh kemungkaran melarang kemakrufan... Mereka telah lupa kepada Allah, karena itu Allah pun melupakan mereka...” (TQS at-Taubah [9]: 67).

Tahukah Anda? Umat Islam sebenarnya adalah raksasa. Kita memegang hampir separuh cadangan minyak dunia dan jalur-jalur perdagangan paling strategis di bumi. Kita punya jutaan tentara dan senjata canggih.

Namun, mengapa kita tetap terhina? Mengapa darah kaum Muslim seolah tak berharga? Karena kita kehilangan pelindung. Kita punya tubuh yang besar, tapi kita tercerai-berai dalam sekat-sekat negara kecil yang lemah dan lebih patuh pada kepentingan asing daripada perintah Allah.

Saatnya Berhenti Tunduk

Sejarah tidak pernah mencatat kemuliaan lahir dari tangan penguasa yang tunduk pada penjajah. Memberi izin wilayah udara untuk militer asing atau bekerja sama dengan mereka yang menyokong penindasan bukanlah sebuah prestasi, namun itu adalah bentuk ketundukan yang menghancurkan harga diri umat.

Sudah saatnya kita sadar bahwa 'Izzah (kemuliaan) tidak akan datang dari bantuan Barat. Ia hanya akan lahir jika umat ini bersatu di bawah satu kepemimpinan global yang mandiri sebuah institusi yang menjadikan syariat Allah sebagai hukum tertinggi yaitu khilafah sebagai perisai yang kita rindukan

Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas:

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Tanpa perisai ini, kita akan terus menjadi sasaran empuk. Tanpa khilafah, persatuan kita hanya akan menjadi slogan di atas kertas. Khilafah bukan sekadar konsep politik masa lalu; ia adalah kebutuhan mendesak bagi masa depan kita. Ia adalah pelindung bagi anak-anak di Gaza, penjaga kehormatan di Beirut, dan penyatu kekuatan di seluruh dunia.

Siklus luka ini harus diputus. Mari kita mulai menyadari bahwa kemuliaan hanya akan kembali jika kita menolong agama Allah dengan sungguh-sungguh. Inilah saatnya umat bangkit, bukan untuk sekadar bertahan, tapi untuk menjadi subjek yang memimpin peradaban dunia dengan keadilan Islam.

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update