Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Derita Perempuan dan Anak-anak Palestina Tak Kunjung Berakhir.

Wednesday, April 01, 2026 | Wednesday, April 01, 2026 WIB



 Oleh Dhini S

Pegiat Literasi


Bayangkan sebuah dunia di mana manusia tidak sekadar dihilangkan nyawanya, tapi dihapuskan keberadaannya hingga tak bersisa. Itulah kenyataan pahit yang kini menyelimuti tanah Gaza. Laporan investigasi dari Al Jazeera mengungkap kengerian yang sulit diterima akal sehat: penggunaan senjata termal dan termobarik oleh militer Israel yang sanggup membuat jasad manusia seolah menguap, lenyap begitu saja tanpa jejak. Ada ribuan nyawa setidaknya 2.842 orang yang kini statusnya "hilang", bukan karena mereka bersembunyi, tapi karena raga mereka benar-benar dilenyapkan oleh teknologi pembantai yang diluar batas kemanusiaan.


Di tengah reruntuhan itu, perempuan dan anak-anak tetap menjadi pihak yang paling remuk. Kita melihat penemuan jenazah keluarga Salem di Gaza Utara yang terkubur selama dua tahun di bawah puing-puing bangunan. Ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah tentang seorang ibu yang tak sempat memeluk anaknya untuk terakhir kali, dan anak-anak yang masa depannya direnggut paksa sebelum mereka sempat memahami apa itu perdamaian. Ironisnya, semua ini tetap berjalan meski klaim gencatan senjata sering kali didengungkan. Jelas sekali, ini bukan lagi soal perang militer, tapi genosida sistematis yang menyasar akar kehidupan bangsa Palestina.


Antara Tren dan Realitas

Kita, terutama generasi muda yang hidup di balik layar ponsel, sering kali merasa sudah "berbuat sesuatu" hanya dengan membagikan video atau memasang tagar. Tentu, kepedulian itu sangat berharga. Namun, kita harus jujur pada diri sendiri: mengapa riuhnya linimasa kita tak mampu menghentikan satu pun peluru penjajah?


Masalahnya, empati kita sering kali terjebak dalam arus sekularisme dan kapitalisme digital.  Di sisi lain, kapitalisme membuat penderitaan manusia menjadi konten yang fluktuatif; ramai saat viral, lalu terlupakan saat ada tren baru yang lebih menarik. Inilah penjajahan cara berpikir yang sesungguhnya. Kita dibuat peduli secara emosional, namun dibiarkan lumpuh secara ideologis untuk menawarkan solusi yang mendasar.


Islam : Bukan Sekadar Doa, Tapi Solusi Nyata

Sebagai muslim, kita harus melihat ini dengan cara pandang yang utuh atau kaffah. Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan biasa, ini adalah urusan akidah. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk mengambil agama secara sepotong-sepotong ibadahnya yang diambil, tetapi aturan hidupnya dibuang. Allah Swt. dengan tegas menyeru kita untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh:


“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).


Artinya, solusi untuk Palestina tidak bisa hanya mengandalkan bantuan logistik atau petisi daring. Itu semua penting, tapi itu hanya mengobati luka di permukaan. Penyakit utamanya adalah penjajahan ideologis dan fisik. Islam memandang darah seorang muslim itu sangat mahal harganya. 

Selama kita masih terpecah-pecah dalam sekat nasionalisme yang sempit, kekuatan umat yang miliaran ini hanya akan menjadi penonton setia di media sosial sementara saudara kita dibantai habis-habisan.


Jihad dan Pentingnya Kesatuan Komando

Kalau kita jujur melihat fakta di lapangan, kejahatan Israel yang menggunakan senjata pemusnah massal itu sudah tidak bisa lagi diselesaikan dengan solusi damai atau sekadar normalisasi. Kerusakan mereka sudah melampaui batas. Dalam hukum Islam yang jernih, ketika sebuah negeri muslim dirampas dan rakyatnya dibantai, maka jawabannya adalah Jihad. Allah Swt. berfirman:


“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka serta menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS. At-Tubah: 14).


Namun, jihad bukan tentang aksi nekat tanpa perhitungan. Jihad membutuhkan kesatuan kekuatan kaum muslimin di seluruh dunia. Kita butuh kepemimpinan Islam yang berdaulat, karena Rasulullah saw. telah mengingatkan:


“Sesungguhnya al-imam (pemimpin/khalifah) itu laksana perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim).


Tanpa institusi yang kuat sebagai perisai, umat Islam hanya akan terus memprotes tanpa mampu menghentikan kezaliman secara fisik. Kita butuh pemimpin yang tidak takut pada tekanan global dan hanya takut kepada Allah dalam membela kehormatan umat.


Membangun Kesadaran yang Kokoh

Derita perempuan dan anak-anak Palestina tidak akan berakhir hanya dengan air mata kita. Mereka butuh pembelaan yang nyata. Bagi kita generasi muda, tugas besarnya adalah mengubah cara berpikir. Jangan biarkan kepedulian kita habis dimakan tren media sosial. Kita harus membangun kesadaran bahwa perubahan sejati dimulai dari kembalinya kita pada aturan Islam secara menyeluruh.


Mari kita jadikan setiap unggahan kita bukan sekadar ungkapan kesedihan, tapi sarana dakwah untuk menyadarkan umat akan pentingnya persatuan di bawah sistem Islam. Palestina adalah ujian bagi iman kita. Sudah saatnya kita bangkit, bukan hanya dengan perasaan, tapi dengan pemahaman dan perjuangan yang terarah untuk mengakhiri kezaliman ini selamanya.

Wallahu a‘lam bisshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update