Oleh : N. Kurniasari (Aktivis Muslimah)
Dilansir dari m.antaranews.com (07/04/2026), Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) disebut mendesak Hamas agar segera menyelesaikan rancangan kesepakatan demiliterisasi Jalur Gaza. AS menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza.
Setelah itu dilakukan pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF), dan pendirian struktur pemerintahan baru untuk Gaza di bawah BoP yang dipimpin Trump. Namun, Hamas menolak dan menganggap hal itu mengancam eksistensi serta perjuangan mereka. Hamas menuntut dunia bertindak atas pelanggaran gencatan Zionis. Meski gencatan senjata telah disepakati, Zionis terus melakukan penyerangan hingga menewaskan warga sipil hingga bulan ini.
Board of Peace (BoP) atau Dewan Pimpinan Trump sesungguhnya bukan mediator netral, tetapi jebakan Kapitalisme global yang condong pada kepentingan Barat. BoP bukanlah inisiatif perdamaian yang sesungguhnya. Kaum kafir sebagaimana AS dan entitas Zionis imperialis tidak akan pernah berhenti merancang makar terhadap Islam dan kaum Muslimin, bahwa setiap inisiatif yang mereka labeli dengan istilah perdamaian, stabilitas, atau kemanusiaan selalu menyimpan agenda penjajahan di baliknya.
Ini bukan tuduhan tanpa dasar, melainkan pola sejarah yang terus berulang dari perjanjian Oslo yang menghasilkan pengakuan atas penjajahan, hingga Abraham Accords yang menormalisasi hubungan negara-negara arab dengan entitas Zionis. Setiap "kesepakatan" yang difasilitasi barat selalu berakhir dengan penguatan cengkeraman penjajahan bukan pembebasan.
Pelucutan senjata Hamas adalah upaya Barat (AS) untuk menghentikan perjuangan perlawanan rakyat Gaza dengan jihad. Pelucutan senjata juga bagian dari serangan pemikiran sebagai upaya mengubah cara pandang umat agar menganggap perlawanan sebagai ancaman dan penyerahan senjata sebagai jalan damai. Penyerahan senjata berarti melucuti kekuatan jihad yang telah dibangun selama puluhan tahun dengan darah dan pengorbanan. Dan penyerahan peta terowongan artinya membuka seluruh rahasia pertahanan kepada musuh yang masih aktif membunuh warga Gaza yang hampir setiap harinya.
Dan penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) berarti menggantikan penjajah Zionis dengan penjajah multinasional yang lebih rapih dan lebih sulit di lawan secara naratif. Karena ia datang dengan seragam "perdamaian" bukan "perang".
Menurut perspektif syariat, hukum mempertahankan diri dari musuh yang nyata menduduki negeri Kaum Muslimin adalah fardu 'ain. Oleh karena itu, jihad defensif menjadi fardu 'ain bagi muslim di wilayah tersebut dan juga atas wilayah-wilayah yang berdekatan hingga seluruh umat muslim. Ini adalah hukum Allah yang tidak bisa di negosiasikan oleh siapapun termasuk oleh tekanan diplomatik negara adidaya sekalipun. (Lihat QS. An-Nissa: 144)
Faktanya, ketika penduduk muslim Gaza melakukan perlawanan dan belum mencapai keberhasilan mengusir Zionis dari tanah Palestina, penguasa dan tentara kaum Muslimin yang ada di sekitarnya tidak memberikan bantuan. Semua ini menunjukkan pengkhianatan terhadap saudara sesama Muslim dan sekat Nasionalisme yang telah memecah belah mereka.
Tidak terbantahkan bahwa sebab utama penderitaan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia adalah ketiadaan Daulah Islamiyyah yang menyatukan mereka dibawah satu kepemimpinan, satu bendera, dan satu sistem hukum. Lebih dari 100 tahun sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah pada 1924, kaum Muslimin adalah 2,15 miliar individu tanpa institusi pelindung dan Gaza adalah korban yang nyata dari kekosongan kepemimpinan ini.
Jika hari ini ada Khilafah yang memerintah atas nama Islam, ia wajib secara syar'i menggerakkan seluruh tentara negeri-negeri Muslim untuk mengusir penjajah Zionis dari bumi Palestina.
Khilafah adalah junnah (pelindung) bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, jihad harus di organisir oleh negara Khilafah. Sebab, jihad tanpa negara akan selalu kalah dalam jangka panjang. Bukan karena kurangnya keberanian atau keimanan para mujahid, melainkan karena masalah struktural yang tidak bisa diatasi hanya dengan heroisme individual. Hamas bisa bertahan puluhan tahun, dan ini adalah prestasi yang luar biasa yang tidak boleh diremehkan tanpa dukungan negara Islam yang sesungguhnya. Mereka akan terus dikepung di blokade dan di Isolir, ditekan, dan akhirnya dipaksa masuk meja perundingan dalam posisi yang semakin lemah.
Oleh karena itu, perlawanan senjata dan perjuangan mendirikan Daulah Islamiyyah yakni Khilafah bukanlah 2 pilihan yang harus bersaing. Tetapi 2 komponen yang saling melengkapi dalam strategi besar dalam pembebasan Islam. Ummat harus memahami pentingnya upaya berkelanjutan dalam memperjuangkan tegaknya kembali kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah serta turut andil dalam perjuangan tersebut melalui metode dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam di Madinah, yaitu dakwah ideologis yang diemban oleh jama'ah Islam.
WalLaahu a'lam bish-showwab

No comments:
Post a Comment