Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty
Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) disebut mendesak Hamas agar segera menyelesaikan rancangan kesepakatan demiliterisasi Jalur Gaza paling lambat akhir pekan ini, kata laporan media. New York Times, mengutip sumber, pada Senin menyampaikan bahwa Amerika Serikat menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza.
Tentunya Ham*s menolak. Bagaimana mungkin eksistensi perjuangan yang sudah dibangun sedemikian rupa dihempas begitu saja atas nama perdamaian ala BoP.
Saat BoP menghidangkan gencatan senjata, Z*onis tak pernah urung menggempur Gaza. Melanggar menjadi tabiat hina entitas laknat tersebut. Sepakat bukanlah plakat yang bisa dipercaya dari kebiadaban Z*0nis sampai kapan pun. Dia tak pernah lelah menghabisi rakyat Gaza sampai saat ini. Keberingasan yang sudah di luar nalar manusia. Kekejamannya semakin nyata. Wilayah negeri Muslim lainnya pun menjadi sasaran berikutnya. Keji!
BoP Jebakan Kapitalisme Global
Sungguh, terlalu naif jika percaya dengan janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. Zion*s yang berulang kali sengaja melanggar perjanjian menjadi bukti yang tidak bisa dimungkiri. Dunia menontonnya dengan kenaifan.
Realita ini sebenarnya adalah bentuk pembiaran. Lembaga internasional semacam PBB telah lalai, abai, dan hanya menjadikan hukum internasional sebagai alat bagi AS untuk melegitimasi kepentingannya yang kerap kali melanggar hukum internasional ini demi mencapai tujuan serakahnya.
Mengharap keadilan untuk Palestina dari PBB atau AS adalah sebuah kesalahan fatal. Menerima keputusannya adalah sumber masalahnya. Draft perdamaian yang diajukan AS nyata condong kepada agenda keamanan entitas z*onis. Jebakan picik.
Pelucutan senjata total terhadap Ham*s menjadi salah satu keputusan yang mengebiri kekuatan perjuangan. Licik. Susunan tawaran yang tak pernah berpihak pada hak Gaza. Hak bumi Palestina. Hak buminya Allah Ta'ala.
Berbicara sejarah, bagi Zion*s gencatan senjata hanyalah menghela nafas. Perdamaian substansial bukanlah tujuan mereka. Gencatan senjata hanyalah untuk memetakan kembali target dan memperkuat logistik. Riil. Setiap pelanggaran yang dilakukannya selalu saja dinarasikan sebagai pertahanan diri. Bagi z*onis, kesepakatan di atas kertas tidak pernah memiliki kekuatan hukum.
Nyata. Gencatan senjata hanya drama. Hakikatnya yang terjadi adalah kekejaman, kejahatan, dan pengkhianatan terhadap umat Islam. Perdamaian yang dijanjikan sekadar basa-basi. Palestina kian memburuk. Pencaplokan demi pencaplokan wilayah di Tepi Barat terus saja dilakukan otoritas Z*onis di tengah perundingan perdamaian.
Jebakan BoP dengan gayanya semakin memangkas cara pandang umat untuk melakukan perlawanan. Tawaran perdamaian dengan melucuti senjata menjadi pilihan agar dunia damai aman santosa. Ini bahaya bagi ruhul jihad yang seharusnya membahana untuk melawan angkara murka penjajah imperialis yang telah merampas dan membunuh kaum muslimin Gaza dan juga di negeri muslim lainnya.
Khilafah Solusi Pasti untuk Mengakhiri Penjajahan
Jika kita mau mengambil penyelesaian sistemik terkait nasib Gaza dan juga negeri-negeri muslim lainnya yang terluka, solusi perjanjian damai bukanlah pilihan. Tak bisa dijadikan jalan untuk meraih penyelesaian sempurna.
Dalam Islam, perjanjian damai (muahadah) tidak boleh dilakukan jika bertujuan melegitimasi perampasan tanah kaum muslim atau bersifat permanen dengan kaum muslim dalam posisi kalah. Umat Islam harus melihat bahwa setiap hubungan diplomatik dengan negara kafir penjajah adalah keharaman karena hal itu mustahil mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi Palestina. Bagi kaum muslim, tidak ada perdamaian dengan negara kafir muhariban fi’lan (negara kafir yang tengah memerangi negeri muslim secara terang-terangan). Klaim upaya perdamaian yang melegitimasi pendudukan terhadap wilayah kaum muslim adalah pengkhianatan terhadap tanah milik umat Islam.
Firman Allah Taala,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rida kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah.” (QS Al-Baqarah [2]: 120).
Nash ini sudah jelas menjadi peringatan bahwa umat Islam tidak boleh bergantung pada tawaran kaum kafir. Umat harus berhenti menaruh harapan pada narasi perdamaian yang diusung oleh AS-Z*onis.
Umat harus menolak segala bentuk kompromi yang melegitimasi penjajahan atas tanah kaum muslim. Palestina tanah kaum Muslimin. Tanah kharajiyah.
Umat harus memahami bahwa bantuan kemanusiaan hanyalah obat penawar sementara saja bagi warga Palestina. Palestina butuh solusi sejati. Butuh dukungan politik dan militer yang terorganisasi. Urgen untuk direalisasi.
Solusi masalah Palestina tidak bisa dengan gerakan sporadis maupun filantropis. Namun sudah harus bersegera melibatkan kekuasaan dan kekuatan militer dari negeri-negeri muslim. Tidak boleh lagi kekuatan dan kekuasaan itu digunakan untuk menjaga stabilitas kepentingan penjajah. Kekuatan dan kekuasaan itu harus dikonsolidasikan untuk melindungi kehormatan darah dan nyawa saudara-saudara muslim di Gaza.
Di sinilah pentingnya keberadaan negara Islam (Khilafah) sebagai institusi politik global yang akan mengimbangi hegemoni Barat. Khilafah akan menyatukan komando militer negeri-negeri muslim dengan instruksi jihad membebaskan Palestina. Dengan Khilafah, kekuatan kaum muslim bukan hanya sekadar angka statistik, melainkan kekuatan riil yang mampu mengakhiri drama penjajahan.
Oleh karena itu, seruan tegas ditujukan kepada para pemimpin negeri-negeri muslim untuk segera keluar dari jebakan BoP dan forum-forum serupa yang menjadikan mereka sebagai stempel bagi agenda licik kafir Barat penjajah. Sungguh, perdamaian hakiki hanya akan tegak ketika Islam memimpin dunia. Urgensi jihad dan Khilafah bukan lagi hanya sekadar wacana namun harus ada pada tataran aksi nyata. Mau ditipu berapa kali lagi kah kaum muslimin? Masih rela kah terperosok pada lubang yang sama? Tentunya tidak!
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment