Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty
Perkembangan terkini, kondisi Palestina dan kekejaman Zion*s kian parah. Kehadiran BoP yang digadang mewujudkan perdamaian di Palestina, makin menampakkan kegagalannya.
Tidak lama dari BoP berdiri, AS menyerang Iran pada 28 Februari hingga kini dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, para petinggi Iran, serta rakyat Iran. Serangan AS-Zion*s telah menewaskan 3.492 rakyat Iran. Sebagai ketua BoP, AS mangkir telak sebagai penjaga perdamaian.
Mirisnya, pemerintah Indonesia pun tak bergeming untuk tetap bergabung di BoP, padahal desakan dari rakyat untuk keluar dari BoP terus menguat pascaserangan AS-Zion*s ke Iran. Dengan gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB di Lebanon dalam serangan Zion*s di Lebanon selatan, pemerintah tetap saja bertahan di BoP.
Sebelas dua belas, penguasa negeri-negeri muslim tetap saja tunduk di bawah hegemoni AS. Perlu diketahui, selain Indonesia, sekitar 12 negeri muslim bergabung dengan BoP, yaitu Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Uzbekistan, Kazakhstan, dan Kosovo.
Geram. Saat perang AS-Zion*s vs. Iran terjadi, para penguasa muslim malah mengutuk serangan Iran ke negara-negara Arab. Pada pertemuan 18 Maret lalu di Riyadh, para menteri luar negeri dari Turki, Azerbaijan, Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Lebanon, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Suriah, dan Uni Emirat Arab (UEA) mendesak Iran untuk menghentikan serangannya dan mendorong diplomasi untuk meredakan ketegangan. Mereka juga menyeru Iran untuk menahan diri dari aksi mengancam navigasi internasional di Selat Hormuz dan keamanan maritim di Selat Bab al-Mandab.
Sayangnya, kutukan tersebut tidak dilakukan terhadap serangan AS-Zion*s ke Iran. Padahal, serangan Iran hanya ditujukan ke pangkalan militer dan kilang minyak AS di wilayah Arab, bukan ke penduduk sipil Arab. Serangan ini hanyalah upaya perlawanan atas serangan AS-Zion* yang lebih dahulu menyasar Iran dan menghancurkan banyak fasilitas publik, termasuk sekolah, dan menewaskan anak-anak yang tidak bersalah.
Miris. Palestina maupun Iran sendirian menghadapi AS-Zion*s yang didukung sekutunya. Negeri-negeri muslim berpihak pada AS dan Zion*s. Sungguh eracun nasionalisme telah merasuk ke dunia Islam dan mengerat umat menjadi lebih dari 50 negeri-negeri kecil yang tunduk pada AS. Alhasil, nyawa kaum muslim dikorbankan dan darah terus tertumpah di bumi Palestina. Ketidakpedulian para penguasa muslim terhadap nasib muslim Palestina begitu nyata. Eksistensi kekuasaan dan kepentingan bisnis lebih berharga daripada nyawa saudaranya sesama muslim. Mereka rela menyerahkan saudaranya pada penjajah yang “haus darah” demi mempertahankan kekuasaan, padahal pada saat yang sama penguasa kafir merendahkan dan menghinakan mereka.
Umat sungguh membutuhkan institusi pelindung yang akan menjaga dan melindungi mereka dari kerakusan dan kejahatan negara-negara kafir. Umat butuh Khilafah.
Rasulullah saw. menjamin bahwa Khilafah adalah junnah (perisai) yang melindungi umat Islam sedunia, termasuk Palestina. Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Bukhari Muslim).
Syekh Abdul Qadim Zallum menjelaskan dalam Ajhizah Dawlah al-Khilâfah fi al-Hukmi wa al-Idarati bahwa di antara kandungan hadis tersebut adalah di dalamnya terdapat penyifatan terhadap khalifah bahwa ia adalah junnah (perisai), yakni wiqâyah (pelindung).
Khilafah akan melindungi jiwa dan harta (termasuk tanah dan rumah) kaum muslim agar tidak ada satu pihak pun yang merampasnya tanpa hak. Islam menjamin kepemilikan individu dan melindunginya.
Ini seperti perlindungan Islam terhadap rumah Yahudi tua di Mesir yang rumahnya hendak dibeli oleh Gubernur Mesir Amr bin Ash untuk proyek perluasan masjid. Ketika si Yahudi mengadu ke ibukota Khilafah di Madinah, Khalifah Umar bin Khaththab menyuruhnya memberikan tulang hewan yang telah digaris dengan pedang kepada Amr bin Ash. Sang Gubernur pun pucat pasi dan membatalkan rencananya membeli rumah si Yahudi. Terhadap rumah nonmuslim saja, demikian luar biasa perlindungan Khilafah.
Masih ragukah dengan urgensi Khilafah? Jika ada yang lain, terealisasikah damai hakiki? Padahal jika Khilafah tegak, negara benar-benar berfungsi sebagai pengurus (raa’in) dan hñ lolpelindung (junnah) umat. Inilah kekuasaan dan kepemimpinan yang melindungi seluruh kaum muslim di dunia, termasuk Palestina.
Tentunya kita tidak ingin ada belenggu kekuasaan yang menghinajan namun menolong sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Taala,
وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(-ku).’” (QS Al-Isra’ [17]: 80).
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment