"Cinta itu bukan tentang puncak, tapi tentang bertahan saat jalur runtuh."
Penunjuk Jalan
Pagi datang pelan. Kabut masih menggantung rendah, tapi hujan sudah berhenti. Raka bangun lebih dulu, mengecek sekitar. Jalur yang semalam mereka lewati tampak samar tertutup daun basah dan lumpur.
Saat mereka bersiap berkemas, suara kepakan tiba-tiba terdengar dari arah semak. Seekor burung berukuran sedang melonjak keluar, terkejut oleh gerakan mereka. Bulu sayapnya memercikkan sisa embun. Burung itu terbang rendah, lalu hinggap beberapa meter di depan, di atas dahan yang mengarah ke jalur lebih terbuka.
Sekar menoleh. “Itu… jalur?”
Raka menyipitkan mata. Ia memperhatikan kontur tanah. Di balik semak yang selama ini mereka anggap rapat, ternyata ada bekas pijakan samar jejak sepatu, ranting patah, dan tanah yang lebih padat.
“Mungkin jalur lama,” kata Raka. “Atau jalur orang nyasar.” Burung itu terbang lagi, masih rendah, mengikuti garis lereng yang lebih landai. Tanpa disengaja, arah terbangnya sejalan dengan jalur yang terlihat paling aman. Mereka saling pandang sebentar. Tidak ada keyakinan berlebihan, hanya logika: jalur itu lebih jelas dan tidak curam.
Raka memutuskan. “Kita ikuti, tapi pelan.” Langkah demi langkah, mereka bergerak. Jalur itu ternyata memutar sedikit ke kanan, menjauh dari lereng terjal. Tanahnya lebih stabil. Beberapa menit kemudian, bau belerang tipis mulai tercium tanda mereka mendekati area yang lebih terbuka.
Perjalanan Terakhir
Di hadapan mereka terbentang sebuah spot lapang di lereng tanah datar dengan pemandangan terbuka ke arah lembah. Dari sana, siluet Welirang terlihat jelas, mengepul pelan di kejauhan. Angin berhembus tenang, berbeda jauh dari malam sebelumnya.
Sekar berhenti. “Aku nggak nyangka… ada tempat kayak gini.”
Raka mengangguk. “Ini spot aman buat istirahat. Mungkin jalur evakuasi lama.”
Belum sempat mereka duduk, terdengar suara logam beradu. Lalu suara orang. “Eh… ada orang?” Dua pendaki muncul dari balik batu, membawa nesting dan senter kepala. Wajah mereka terkejut, lalu lega.
“Kalian bermalam di atas?” tanya salah satunya.
“Iya,” jawab Raka. “Kaki teman saya cedera ringan.” Pendaki itu mengangguk cepat. “Kami bermalam di sini sejak semalam. Jalur depan masih bisa dilewati turun, tapi harus muter. Sinyal ada dikit kalau naik ke batu sana.” Sekar menghela napas panjang bukan karena lelah, tapi lega.
Untuk pertama kalinya sejak badai, mereka tidak sendirian. Mereka duduk bersama, berbagi air hangat dan cerita singkat. Tidak ada heroisme, tidak ada keajaiban. Hanya kebetulan, keputusan yang tepat, dan sedikit keberuntungan.
Raka menatap Sekar. “Kita hampir nggak sampai sini.”
Sekar tersenyum tipis. “Tapi kita sampai.” Dan di gunung, sampai ke tempat aman sering kali jauh lebih penting daripada sampai ke puncak.
Keesokan paginya, badai mereda. Kabut menipis, menyisakan jalur yang masih licin namun bisa dilalui. Dengan bantuan tongkat dan tali, mereka bergerak perlahan. Setiap langkah adalah pertaruhan. Saat akhirnya mereka mencapai punggungan, pemandangan terbuka luas. Arjuno berdiri gagah di hadapan mereka, sementara Welirang mengepul lembut di kejauhan—dua gunung yang tampak berhadapan, seolah sedang berbincang dalam bahasa yang hanya alam pahami.
Sekar berhenti. “Indah, ya.” Raka mengangguk. Ia menatap Sekar, lalu berkata dengan suara mantap, “Aku mencintaimu. Bukan karena kita sampai di sini, tapi karena aku ingin selalu pulang bersamamu dari gunung mana pun.”
Sekar tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Aku juga. Cinta itu bukan tentang puncak, tapi tentang bertahan saat jalur runtuh.” Angin berembus pelan, seolah Arjuno dan Welirang mengangguk setuju. Dua gunung yang tak pernah menyatu, namun selalu berdampingan—seperti dua hati yang memilih berjalan bersama, meski tak selalu mudah.
Mereka turun dengan langkah lebih ringan. Di belakang mereka, gunung tetap berdiri, menyimpan cerita. Dan cinta, seperti alam, akan selalu menemukan jalannya—melalui badai, luka, dan keberanian untuk jujur.
“Manusia memang begitu ada yang menipu dengan cover nya ada juga yang mengejutkan kita dengan dengan isinya. Kadang keindahan tak selalu ada di puncak atau langit malam, tapi di setiap langkah yang kita jalani. Terima kasih, Gunung Arjuno–Welirang (HairudMh)”
Moh. Hairud Tijani adalah seorang akademisi, penulis, dan peneliti yang aktif menulis tentang isu sosial, budaya, dan sejarah, serta baru saja menyelesaikan studi Sarjana Sosial di Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
#Cerpen #SastraIndonesia #HairudMh #Prosa #PenunjukJalan #PerjalananTerakhir #KaryaSastra #LiterasiIndonesia #ArjunoWelirang #GunungArjuno #GunungWelirang #PendakiIndonesia #CeritaGunung #AdventureStory #FilosofiPendaki #KisahCinta #RomansaGunung #SelfReflection #QuotesMendaki #MaknaCinta
No comments:
Post a Comment