Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Adab dan Akhlak Pondasi Utama dalam Pendidikan Islam

Thursday, April 30, 2026 | Thursday, April 30, 2026 WIB



Oleh Ummu Muthya 

Ibu Rumah Tangga 


Sungguh memprihatinkan terjadi kembali peristiwa yang mencoreng dunia pendidikan. Video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak baik terhadap seorang guru di dalam ruang kelas. Para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang semestinya dihormati. Peristiwa ini terjadi di SMAN 1 Purwakarta. 


Aksi para siswa itu pun menuai kecaman luas karena dinilai mencerminkan krisis etika dan adab terhadap guru di lingkungan sekolah. Pihak sekolah akhirnya memberi skorsing selama 19 hari, untuk mendapatkan pengarahan dan bimbingan di rumah. Akan tetapi menurut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, sanksi tersebut belum tentu bisa merubah prilakunya. (Detikjabar.com. 18/4/2026)


Pelecehan terhadap guru di sekolah sebagai cerminan krisis moral. Penyebab utamanya bersifat kompleks dan multifaktorial tapi seringkali berakar pada ketidakmampuan mengendalikan emosi (frustrasi, marah), ketimpangan relasi kuasa, faktor ekonomi, serta pola asuh atau lingkungan yang menormalisasi kekerasan. Faktor-faktor ini mencakup permasalahan individu, sosial, hingga struktural yang saling berkaitan. 


Dengan adanya kejadian tersebut, pergeseran dari penghormatan menuju penghinaan ini menandakan adanya masalah yang serius dalam pondasi pendidikan saat ini. Karena paradigma pendidikan yang didominasi kerangka sekuler kapitalistik. Dalam sistem ini pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, yakni menghasilkan tenaga kerja yang kompetitif, adaptif dan produktif secara ekonomi.


Keberhasilan pendidikan sekuler diukur melalui nilai-angka, peringkat, juga sertifikasi dan serapan kerja. Sementara aspek karakter seringkali hanya menjadi pelengkap kurikulum, bukan inti yang menggerakan seluruh proses pendidikan. Sekuler memperkuat pemisahan agama dari kehidupan dari ruang publik, termasuk pendidikan moral tidak lagi bersumber dari keyakinan yang mutlak, melainkan kesepakatan bersanma di masyarakat yang berubah-ubah. 


Akibatnya benar dan salah menjadi relatif, penghormatan kepada guru tidak lagi dipandang lagi sebagai adab, melainkan sebagai norma sosial yang bisa dinegosiasikan. Ketika norma itu dianggap menguntungkan atau tidak menyenangkan, itu bisa dilanggarnya. 


Sekulerisme dan kapitalisme melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara moral . Mereka terbiasa menuntut hak, tetapi kurang dilatih menunaikan kewajiban, peka terhadap ketidaknyamanan diri, tetapi kurang empati terhadap orang lain. Dalam hal ini penghinaan dan pelecehan terhadap guru bukanlah anomali, melainkan konsekwensi logis dari sistem yang gagal menanamkan adab sebagai pondasi. 


Berbeda dalam perspektif Islam. Pendidikan tidak pernah dipahami sekedar transfer ilmu, melainkan proses pembentukan kepribadian manusia seutuhnya, menggabungkan ilmu, iman dan amal dalam satu kesatuan. Tujuan akhirnya yaitu melahirkan insan yang bertakwa, menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidupnya, dari sinilah lahir kesadaran moral yang kukuh termasuk dalam memuliakan guru. Sabda Rasulullah saw,


"Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)


Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang mulia karena ia menyampaikan ilmu bahkan dalam banyak riwayat, kedudukannya sangat dihormati oleh para ulama terdahulu. Maka menghina guru termasuk perbuatan tercela dan dosa, karena di dalamnya ada unsur merendahkan ilmu dan orang yang menyampaikannya.


Tindakan tegas atas perilaku tak pantas kepada guru atau orangtua masuk dalam wilayah ta’zir, yaitu hukuman yang jenis dan kadarnya ditetapkan oleh penguasa atau hakim, dengan mempertimbangkan, tingkat kesalahan, dampak yang ditimbulkan, serta kondisi pelaku. Bentuknya bisa beragam: teguran keras, pembinaan, sanksi sosial, hingga hukuman yang memberi efek jera. Tujuannya bukan semata menghukum, tetapi mendidik dan menjaga kehormatan ilmu serta adab di masyarakat. Namun yang lebih penting dari hukuman adalah pencegahan melalui pembinaan adab sejak awal. 


Dalam sistem Islam pendidikan harus dikembalikan pada tujuan utama pendidikan, yakni membentuk kepribadian siswa, baik pola pikir atau sikapnya harus berlandaskan keimanan. Tentu dalam sistem hari ini butuh perjuangan yang serius dan sungguh-sungguh mengembalikan generasi mulia dengan peradaban gemilang. Dan hanya pendidikan Islamlah yang memiliki output membangun  generasi unggul secara iman dan moral. 


Wallahu A'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update