Dilansir dari kompas.com pada 9-02-2026 pengungsi di Kabupaten Aceh Utara masih sekitar 20.964 jiwa, sementara Ramadan tinggal menghitung jari. Kebutuhan air bersih masih sulit didapatkan, warga berharap segera dibangun sumur bor yang bisa memenuhi kebutuhan air mereka. Begitu juga dengan sinyal internet yang belum stabil, warga berharap desa-desa mereka segera pulih sebelum Ramadan tiba.
Di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, beberapa rakyat terpaksa melaksanakan ibadah puasa di balik tenda-tenda pengungsian. Meski pemerintah telah memberikan bantuan dana tunggu hunian, tetapi rakyat kesulitan mendapatkan tempat tinggal dengan harga sewa sesuai dengan dana yang diberikan. Hunian sementara yang dijanjikan pemerintah masih belum selesai, bantuan logistik pun masih seadanya. Sehingga mereka terpaksa bertahan di tenda pengungsian dengan menu sahur dan berbuka puasa seadanya. (Metrotv.com 21-01-2026)
*Ramadan Di Pengungsian*
Saat ini warga hanya berharap mendapatkan bantuan dari masyarakat karena banyak dari mereka belum memiliki pekerjaan akibat lahan pertanian masih penuh dengan lumpur. Terlebih bantuan dari pemerintah yang sangat lambat dan huntara yang dijanjikan pemerintah pun masih belum merata karena memerlukan administrasi yang panjang sehingga bantuan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kebijakan di sistem kapitalistik tidak memberikan solusi yang menyeluruh. Kebijakan yang mereka buat hanya untuk pencitraan semata, parahnya, derita pun akan dipasang harga, beredar kabar bahwa lumpur dari banjir di Aceh diminati oleh perusahaan swasta untuk dikelola. Dari sini jelas bahwa kepemimpinan kapitalis mengutamakan materi bukan kesejahteraan rakyatnya.
Pemerintah menyatakan telah membuat kebijakan untuk rekonstruksi pasca bencana di Sumatera, tetapi fakta di lapangan menunjukan bahwa masyarakat tidak mendapatkan riayah yang memadai. Sulit dibayangkan bagaimana mereka bisa melaksakan ibadah di bulan ramadhan dengan kondisi hidup di tempat pengungsian yang satu tenda ditempati oleh dua hingga enam kepala keluarga.
Negara sebagai perisai bagi rakyatnya telah gagal dalam menjalankan tugasnya sehingga kondisi wilayah terdampak bencana di Sumatera tidak kunjung pulih. Mereka belum pulih sepenuhnya, mereka sedang berjuang di tengah keterbatasan, ketidakpastian, tetapi harapan perlahan menipis. Mereka tidak bisa lagi bergantung kepada negara sebagai pelindung.
*Islam Rahmat Bagi Seluruh Alam*
Ramadan menjadi bulan untuk memetik pahala sebanyak-banyaknya, di dalamnya terdapat banyak keutamaan. Sehingga bagi negara yang menerapkan Islam akan sangat memperhatikan ibadah rakyatnya di bulan ini, negara akan mempersiapkan kondisi lingkungan sedemikian rupa agar rakyat bisa optimal dalam menjalankan ibadah.
Terlebih pada wilayah terdampak bencana, tanpa menunggu lama negara akan memberikan perhatian khusus pada wilayah terdampak bencana. Negara akan membangun kembali wilayah yang rusak, memastikan kebutuhan rakyatnya terpenuhi pasca bencana. Tidak perlu waktu lama wilayah terdampak akan segera pulih kembali, sehingga ketika mendekati ramadhan rakyat siap lahir dan batin untuk menunaikan ibadah puasa.
Karena dalam Islam negara wajib meriayah rakyatnya, kebijakan dan pengelolaan anggaran untuk wilayah bencana bersifat efektif dan solutif, negara tidak membatasi anggaran untuk pembangunan kembali wilayah terdampak, anggaran selalu ada untuk bencana baik dari pos pemasukan yang bersifat tetap maupun dharibah.
Dengan demikian negara tidak memerlukan pencitraan untuk mendapatkan kepercayaan rakyat, justru sebaliknya, negara akan mendapatkan kepercayaan secara otomatis seiring berjalannya fungsi negara dengan baik. Negara Islam akan melindungi rakyatnya tanpa membeda-bedakan agama, ras, suku dan lain-lain, semua rakyat yang tinggal di wilayah negara Islam akan mendapatkan perlakuan yang sama.
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
“ _Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.”_ [HR. Bukhari dan Muslim]
Wallahualam bishawab

No comments:
Post a Comment