Oleh: Suryani
Kemenpppa.go.id, Jakarta – Pemerintah mengambil langkah tegas dalam menangani krisis kesehatan jiwa anak di indonesia. Menteri Pemberdayaan Perempuan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, bersama delapan pimpinan Kementrian/Lembaga lainya resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) kesehatan jiwa anak.
Jakarta (ANTARA) – Pemerintah mengambil langkah serius untuk menangani isu kesehatan mental anak, yang di tandai dengan penandatanganan surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa anak oleh sembilan menteri dan kepala lembaga di Jakarta, Kamis.
Jakarta, KOMPAS.com – Pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak yang di tandatangani sembilan menteri usai maraknya kasus anak yang mengakhiri hidup di indonesia.
Hukumonline.com – SKB Kesehatan anak diterbitkan pemerintah sebagai respon atas meningkatnya kasus dan tendensi pengakhiran hidup anak. Faktor utama pemicu berasal dari konflik keluarga, perundungan, masalah psikologis, dan tekanan akademik.
Analisis
Secara praktis SKB ini lahir karena adanya data yang menunjukkan peningkatan signifikan angka kecemasan, depresi, hingga kecendrungan menyakiti bahkan mengakhiri diri sendiri pada usia anak sekolah.
Kemenkes tidak bisa bekerja sendiri karena akar masalah kesehatan jiwa seringkali berada di lingkungan sekolah, keluarga/sosial, dan juga bisa akibat dari paparan konten digital. Jika kita melihat lebih dalam dan mata kritis kebijakan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dalam ekosistem sekuler-kapitalis.
Dalam sistem kapitalisme, manusia sering di pandang sebagai sember daya manusia, anak dan remaja adalah calon tenaga kerja masa depan. Jika kesehatan jiwa mereka terganggu, maka potensi produktivitas ekonomi negara di masa depan terancam. SKB ini dilihat sebagai upaya negara untuk memperbaiki alat produksi agar tetap efisien di sektor kerja nantinya.
Sistem sekuler cenderung memisahkan peran agama dengan ruang publik dalam peraturan hidup dan lebih memilih mengandalkan pendekatan psikologis dan sains. SKB berfokus pada standarisasi layanan medis dan administratif. Namun, seringkali mengabaikan akar masalah sistemik contohnya kurikulum pendidikan yang terlalu kompetitif sehingga menimbulkan tekanan mental atau tekanan ekonomi keluarga yang lahir dari ketimpangan distribusi kekayaan dalam sistem kapitalis.
Kapitalisme menciptakan lingkungan yang penuh tekanan (kompetisi ekstrem, standar hidup tinggi, konsumerisme melalui media sosial. Dan ciri khas sistem pemerintahan modern yang kapitalistik adalah mengubah masalah kemanusiaan menjadi masalah birokrasi.
SKB 9 kementrian dan lembaga adalah langkah maju secara administratif untuk memayungi koordinasi penanganan kesehatan mental. Namun, selama akar masalah tidak di benahi kebijakan ini berisiko hanya menjadi pemadam bagi api yang terus di sulut oleh gaya hidup modern yang kompetitif dan materialistik yang merupakan bukti dan lahir dari sistem sekuler-kapitalis.
Kontruksi islam:
Dalam islam memandang kesehatan jiwa bukan sekedar masalah klinis atau administratif, melainkan persoalan mendasar yang berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki fisik (jasadiyyah), akal (aqliyyah), dan ruh (ruhiyyah).
Dalam sistem sekuler, kesehatan jiwa seringkali dipisahkan dari nilai ketuhanan. Islam justru menempatkan ketenangan hati pada koneksi dengan sang pencipta. Kesehatan mental bukan hanya soal ketiadaan gangguan klinis, tapi soal ketangguhan jiwa. Islam mengajarkan bahwa ridho terhadap takdir dan zikir adalah mekanisme alami yang menjaga manusia dari keputusasaan ekstrem.
Negara dalam islam mendorong kurikulum yang membangun akidah yang kokoh, sehingga anak memiliki tujuan hidup yang jelas bukan sekedar mengejar standar materi atau validasi sosial.
Secara kontruksi , islam memandang SKB 9 Menteri sebagai upaya teknis yang baik, namun tidak akan efektif jika tetap berjalan di atas rel sekuler-kapitalis. Tanpa mengubah cara pandang hidup anak dari materialistikke arah ketakwaan. Dan tanpa mengubah sistem ekonomi yang menekan, masalah kesehatan jiwa akan terus muncul sebagai produk dari sistem yang ada.
Ingatlah hanya dengan mengingat allah hati menjadi tentram (QS. Ar- Ra’d:28).
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment