Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Masalah Percintaan Berujung Kekerasan, Potret Rusaknya Sistem Kapitalisme

Thursday, March 05, 2026 | Thursday, March 05, 2026 WIB

 



Oleh : Dini A. Supriyatin 


Jagat maya dihebohkan dengan aksi nekat pembacokan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa di Kampus UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Riau. Korbannya adalah seorang mahasiswi di kampus yang sama yang merupakan teman dekat pelaku. Aksi pembacokan ini dilakukan ketika korban hendak mengikuti seminar proposal. Pada saat itu belum banyak mahasiswa ataupun dosen yang datang sehingga korban duduk sendirian diruang seminar. Pelaku yang sebelumnya sudah lama merencanakan aksi tersebut mendatangi korban yang tengah sendirian. Mereka berdua sempat cekcok adu mulut sampai akhirnya pelaku menyerang korban dengan sebilah kapak. Akibat kejadian itu korban mengalami sejumlah luka dibeberapa bagian tubuhnya dan kemudian dilarikan ke rumah sakit. Beruntung korban tidak mengalami luka fatal dan kehilangan nyawa.


Motif dibalik penyerangan tersebut dipicu permasalahan asmara. Bermula dengan kedekatan keduanya saat mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata). Pelaku merasa sakit hati cintanya ditolak karena korban sudah memiliki kekasih. Sehingga membuat pelaku gelap mata dan berencana melakukan penganiayaan ini dan bahkan berniat menghabisi nyawa korban. Akibat aksinya ini pelaku diamankan oleh pihak keamanan kampus untuk kemudian dibawa ke Polsek Bina Widya beserta barang bukti. Tersangka dijerat dengan Pasal 469 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, dan terancam hukuman 12 tahun penjara.


Sungguh miris, tindakan penganiayaan justru terjadi dilingkungan pendidikan. Pendidikan yang seharusnya mampu membentuk generasi berkepribadian mulia, malah menjadi ruang terjadinya tindak kekerasan dan penganiayaan. Kegagalan sistem pendidikan sekuler membentuk perilaku generasi yang dekat dengan pergaulan bebas, kekerasan, bahkan pembunuhan.


Pendidikan dalam sistem kapitalisme sejatinya hanya ajang untuk mengejar aspek akademik dan nilai materi. Jauh dari nilai-nilai iman, akhlak dan syariat islam. Output yang dihasilkan pun menjadi generasi yang lemah dan rapuh secara mental, iman, buruk perilakunya dan rusak masa depannya. Hal ini karena generasi hanya dipandang sebagai alat produktif penghasil nilai ekonomi. Dengan demikian generasi yang seharusnya menjadi agen perubahan masa depan dan penerus estafet kepemimpinan, ketika dihadapkan pada suatu kondisi atau permasalahan ia justru tidak memiliki kedewasaan dalam berpikir dan ketahanan mental.


Selain itu sekularisme juga membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya. Generasi akan melakukan apapun yang dia inginkan sesuai dorongan hawa nafsu tanpa mempertimbangkan dampak bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu ketika keinginannya tidak terpenuhi, sulit bagi mereka untuk menerima dan mengontrol emosi.


Generasi juga merasa memiliki kebebasan berekspresi tanpa adanya batasan. Baginya standar kebahagiaan adalah kepuasan duniawi dan capaian materi. Normalisasi nilai-nilai liberalisme seperti pacaran, perselingkuhan dan pergaulan bebas perlahan mampu mengubah perilaku generasi menjadi bertentangan dengan nilai agama bahkan bisa berujung pada tindak kekerasan dan pembunuhan. Sangat bertentangan dengan sistem pendidikan dalam islam. 


Pendidikan dalam islam dibangun atas dasar akidah islam. Negara akan menjamin pendidikan dalam islam tidak hanya soal akademik dan keterampilan, namun memiliki tujuan membentuk pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat islam. Sehingga generasi yang dihasilkan akan memiliki kepribadian islam yang berakhlak mulia. Untuk itu generasi akan dididik agar memiiki kesadaran taat pada syariat. Generasi akan mampu memikul tanggungjawab besar dipundaknya. Dia akan menjadikan setiap aktivitasnya agar memperoleh ridho Allah SWT. Pendidikan islam juga akan menghasilkan generasi yang bertakwa dan takut terhadap murka Allah SWT. 


Tidak hanya itu, harus ada peran keluarga yang membina generasi sesuai standar syariat islam dan masyarakat yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah segala bentuk kemaksiatan. Dengan adanya dukungan dari keluarga dan kontrol masyarakat, maka akan tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku maksiat. 


Negara dalam islam juga akan menerapkan aturan dan sanksi yang sesuai hukum islam. Sanksi yang diperoleh akan menimbulkan efek jera bagi para pelaku dan dapat mencegah orang lain melakukan hal yang sama. Sehingga penerapan aturan dan sanksi tersebut akan menciptakan keamanan dan menjaga kehormatan seluruh masyarakat.


Wallahu 'alam bi shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update